Senin, 15 September 2014

Kuasa Tertinggi

Kubu merah itu bersorak gembira atas kemenangannya. Mata-mata itu terlihat berbinar, saling tatap penuh arti. Jabat tangan erat, pelukan hangat akrab dijumpai dalam kubu merah yang terpilih menduduki jabatan tertinggi. Berbeda suasana dari lawan politiknya. Kubu garuda terlihat sangat kecewa, senyum itu tak terlihat bahagia. Kekalahannya tak pelak membuat gurat-gurat duka pada kebersamaan mereka. Dengan berat hati mereka terpaksa mengakui dan memberi selamat pada kubu merah yang kini tersenyum sumringah.

Pesta demokrasi negeri ini tak pernah lepas dari kontroversi. Demi meraih jabatan tertinggi beberapa oknum tega mengelabuhi dan mencurangi. Kini seolah tak ada lagi kejujuran, semua tak lagi dari hati. Demokrasi kehilangan arti, karena uang lebih berarti.

Tentu tak semua begitu. Masih banyak yang tulus ingin membantu. Masih banyak yang peduli, membenahi negeri tercinta ini dengan hati. Bukan untuk meraih kuasa tertinggi, tetapi karena benar-benar mencintai.

Wahai generasi muda. Tanamkan pada jiwa-jiwamu jiwa kepemimpinan. Jiwa-jiwa yang takut pada Tuhan. Sehingga kejujuran kan selalu besertamu pada setiap tindakan. Cintailah negerimu, jangan lirik negeri lain yang tak menghidupimu. Cintai, banggakan, dan kagumi sebab kamu kini tengah berpijak pada bumi pertiwi.


-Saidahumaira-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar