Sabtu, 24 Oktober 2015

Pilihan Terakhir

Pernahkah kita bertanya, mengapa kita bisa dipertemukan? Pada awalnya kita hanyalah orang asing, tak saling mengenal.
Pernahkah kita bertanya, mengapa kita bisa duduk bersama, di sebuah tempat yang disebut pelaminan? Aku yang selalu bersabar di kala kerabat mulai melepas masa lajangnya, dan mulai bertanya padaku. Kapan menikah?

Rabu, 21 Oktober 2015

INTRO

'INTRO'

Kosong, tidak ada satu pun lagu di dalam ponsel maupun komputerku. Kalian tak perlu heran.  Aku memang tak menyukai musik. Namun sejak bertemu dengannya, aku belajar mencintai apa yang tidak kusukai.

"Lala!"

Seseorang meneriakkan namaku di tengah riuhnya Terminal Baranangsiang. Dari jauh, sesosok pria menggendong gitar di punggungnya. Berkali-kali, ia harus meminta maaf karena tak sengaja menyenggol, penumpang lain yang hilir mudik. Apalagi direpotkan dengan bawaannya.

"Akhirnya, kesampaian juga datang ke kota Hujan."

"Welcome to the roti unyil home" ujarnya berlagak menyambut turis. Aku tertawa, begitupun dirinya.

Hujan memang tak pernah meminta izin untuk turun, seperti sore itu. Baru beberapa puluh menit yang lalu datang, aku benar-benar diterima kota Hujan dengan baik.

Kami berlarian mencari tempat berteduh, Adie tak membiarkanku kebasahan. Ia mengangkat tas gitarnya untuk melindungi kami berdua dari guyura hujan. Ia mengajakku ke sebuah warung soto tak jauh dari terminal.

"Kamu dari Bandung belum makan kan?"

Aku menggeleng malu-malu. Beberapa orang juga menunggu di teras warung. Adie menarik lenganku. Kami melangkah masuk warung. Hidungku bersekutu dengan perut, menghirup aroma dari kepulan kuah soto yang menggugah selera.

"Ya sudah kita makan aja sekalian. Belum pernah nyoba soto kuning bogor kan?"

"Wah jadi gak enak, ngerepotin kamu, Die."

"No, I'm not." jawabnya sambil berlalu. Datar, tak berubah sejak dulu kalau menyikapi basa-basi.

Kami memilih meja dekat jendela, lampu warung temaram. Setidaknya ada cahaya dari luar dan pemandangan kota Hujan yang bisa kami nikmati. Mobil-mobil angkot yang berhenti mencari penumpang, suara peluit dari pengatur lalu lintas, dan juga tukang gorengan yang bersedekap di bawah payung tempat jualannya.

"Kamu jadi mau ambil penelitian di sini?" tanya Adie seraya mengaduk mangkuk sotonya.

"Jadi dong, nanti aku minta bantuan kamu ya. Nunjukin jalan di sini. Aku belum hafal, takut kesasar."

"Kan ada Google Maps, hehehe." candanya. Ya Tuhan, tawanya lebih renyah daripada bawang goreng yang jadi garnis soto dihadapanku.

Aku memukul pelan pundaknya. Ia berpura-pura mengaduh kesakitan. Oh, iya kalian pasti belum tahu siapa Adie. Dia tetanggaku saat di Bandung. Tapi ia pindah saat kami sudah SMA. Dia kembali ke kota kelahirannya. Bogor. Mengikuti Ayahnya yang dipindah tugaskan. Kami sudah sering belajar dan bermain bersama, mengelilingi setiap sudut kota parahyangan. Walau selalu berujung kemarahan oleh kedua orang tua kami

Lagu-lagu pop dari pengeras suara warung mengiringi percakapan. Adie menatap ke arahku, aku seolah tahu apa yang mau dikatakannya.

"Masih gak suka musik?"

Benar, tidak salah lagi tebakanku. Aku mengiyakan, suapan terakhir soto kuning pertama. Kandas. Tak tersisa. Segan aku untuk menambah, tengsin. Masa perempuan makannya banyak.

"Berarti kamu masih termasuk gadis langka." ujarnya.

"Kenapa begitu?"

Adie menyuapkan sendok terakhir. Membersihkan mulut dengan tisue ”makan. Ia lalu menjawab.

"Jelas langka. Di zaman iTunes, Dahsyat, Billboard seperti ini masih ada yang nggak suka musik."

Aku tertawa, tak sadar menimpuknya dengan tisu bekasku. Buru-buru minta maaf, ia malah balik tertawa.

"Ah mungkin sudah bawaan dalam gen ku, Die."

"Cepat atau lambat, kamu harus belajar menyukai apa yang kamu nggam sukai. Karena begitulah kehidupan sekarang ini, kita nggak pernah tahu ternyata dari hal yang tidak suka justru memberi manfaat lebih." Ia menjelaskan.

"Oke mas gitaris, berarti sudah suka sayur dong?" Aku menggoda balik bertanya.

Adie melihatkan mangkuk sotonya yang kandas. Aku paham. Itu artinya dia mau tambah. Bercanda, maksudnya dia sudah mau makan sayur. Kalau dulu, lihat timun di atas nasi goreng saja langsung di buang. Anti sayur banget lah.

Hujan telah reda. Aku meminta Adie mengantarkan ke tempat kos dimana aku harus tinggal selama sebulan untuk penelitian. Baru kali ini aku naik angkot di Bogor, tentu saja Adie kerepotan membawa tas gitarnya yang super besar itu ke dalam angkot.

"Kumaha yeu, nanti penumpang lain gak bisa masuk." ujar supir angkot sedikit kesal.

"Nanti saya bayar double kang, santai wae." sahut Adie.

Sesampai di kos yang terletak di sebuah komplek perumahan asri. Jalanan masih basah, malam belum terlalu larut. Adie tampak letih membawa tasgitarnya, jalan yang dilalui cukup terjal. Karena kontur daerah Bogor adalah pegunungan.

Aku menawarinya untuk singgah. Tapi dia menolak, gak baik main ke tempat perempuan malam-malam, ujarnya.

Dua minggu berjalan, penelitianku tentang kualitas air bersih di perkampungan warga sudah mulai menunjukkan kemajuan. Data-data sudah terkumpul. Tak jauh beda dari Bandung, di Bogor penduduknya juga ramah-ramah. Apalagi masih satu bahasa, jadi lebih akrab bawaannya.

Ponsel berdering, panggilan masuk dari Adie. Aku bergegas mengangkat meninggalkan sejenak kuisioner-kuisioner yang sedang kuperiksa.

"La, nanti kamu datang ke Taman Kencana ya. Kamu sudah tahu tempatnya kan?"

"Iya aku tahu."

"Apa mau dijemput?"

"Nggak usah. Emang disana ada acara apa, Die?"

"Acara manggung kecil-kecilan sih. Dari komunitasku. Seru deh."

Malampun datang, aku berdiri di depan kerumunan menghadap stage. Di tengah  panggung, Adie duduk hanya disorot lampu dari atas. Lampu lain dimatikan. Lalu ia mulai memetik gitar kesayangannya. Menyanyikan sebuah lagu dari Michael Buble. Home. Baru saja aku melihat video klipnya di tivi.

Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home..

Suaranya Adie begitu lembut tak jauh dari penyanyi Aslinya apalagi diiringi kepiawaiannya memetik senar gitar. Selesai penampilan, Adie mengajakku duduk di salah satu bangku taman. Ia membersihkannya sebelum aku duduk.

"Gimana penampilanku tadi?"

"Seperti biasanya"Aku mengacungkan dua jempol.

"Hai, Die!" Seorang wanita berparas ayu bak artis papan atas mengarah ke tempat kami, melambaikan tangannya. Mendadak, aku sedang dikhianati oleh ketidaktahuanku. Siapa dia? Tiba-tiba dia mencium pipi Adie mesra. Diam-diam ada gemuruh di dalam hati. Aku cemburu. Tapi kenapa aku cemburu?

"Hei kalian lagi kencan ya?" tanya lagi. Aku tersadar. Astaga, itu hanya lamunanku. Beruntunglah, Ya Tuhan kamu masih melindungi Adie dari godaan wanita lain, batinku.

"Eh, Amel. Long time no see. Sudah jadi artis ya sekarang." ujar Adie.

"Ah biasa saja. Oh iya ini siapa ya?" ujarnya sambil menoleh ke arahku.

"Kalian belum kenalan ya. Lala, ini Amel. Amel, ini Lala."

Aku setengah tak percaya, dihadapanku berdiri seorang aktris ternama negeri. Dan dia mengenal Adie. Luar biasa.
Ia mengulurkan tangan, aku terima seolah takut mengotori tangannya.

"Kamu ngapain ke sini, Mel?"

"Aku iseng aja. Mau survey lokasi buat syuting nanti. Eh, ketemu kamu deh, Die. Aku sempat lihat kamu tampil. Keren. Kenapa ga ke dapur rekaman aja sih?"

"Aku takut jadi Artis. Takut terkenal. Lagipula aku sukanya di dapur kosan. Banyak makanan" canda Adie. Disusul tawa Amel. Ia izin pamit karena dipanggil seorang laki-laki, kurasa sang manager.

Aku menggenggam erat tanganku sendiri karena kedinginan. Tiba-tiba tubuhku terasa hangat, jaket Adie telah berpindah tempat. Ia melepaskannya

"Kamu nanti masuk angin, Die."

"Gak apa-apa, ada si Jojo yang ngerokin kok. Kalau kamu kan jauh ga ada yang ngerawat kalau sakit.

"Kan ada kamu." Aku keceplosan.

Suasana canggung cukup lama.

Lalu ia memecah kebekuan.

"Ada sesuatu yang harus aku omongin malam ini ke kamu, La."

"Iya." Aku bertanya-tanya dalam hati.

"Ibarat intro dalam lagu yang kumainkan. Kamu, ialah awal dari perjalananku yang panjang."

"M-maksudnya?" tanyaku tergagap.

"Karena kamu, La. Aku tak mau berhenti bermain musik. Agar kamu menyukainya, bahwa di setiap lagu selalu ada makna yang ingin disampaikan. Dan lagu tadi, aku mainkan spesial untuk kamu. Kamu, adalah rumah dari perasaan cintaku. Yang selalu membuatku ingin cepat bertemu." jawab Adie mantap.

How cute, isn't? Jantung berdebar tak seperti biasanya. Ada yang melesak dalam diri. Ingin rasanya memeluk langsung. Sebelum aku berpikiran ke sana. Tanpa kusadari, Adie telah mengecup pipiku sekejap. Membuatku terpana cukup lama. Pipi terasa hangat.

Hujan perlahan mulai turun. Bukan dari langit tapi dalam hati. Aku tak sedih, kurasa ini hanyalah kebahagiaan tak terbendung. Meluap-luap tak tertampung.

Ia tersenyum, sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada cela di setiap lengkung tipis bibirnya.

Adie, aku berjanji. Aku tidak hanya menjadi intro, tapi juga menjadi lagu yang kau nyanyikan sepanjang hidupmu.

****

Doddy Rakhmat
20.10.2015

Karam

'Karam'
Ada delapan lembar foto berukuran kecil. Pas untuk di dompet, lalu kita sepakat membaginya sama setengah. Berjanji selalu menyimpannya. Sampai kapanpun, akan tersemat di sana.
Dan di danau inilah pertama kali berjumpa, aku memandangi kembali bergantian foto-foto kita berdua. Ada luka yang menyelinap hati. Tak terasa pipi membasah, beberapa penumpang menoleh. Cepat-cepat aku menyembunyikan wajah sedih.
Matahari membayang permukaan danau. Memecahnya menjadi kilau jingga. Sebentar lagi ia tumbang berganti bulan. Begitupun perahu yang mengantarku sekarang, tidak ada yang berani berkeliling danau di kala malam. Pikiranku melayang ke sebuah restoran seminggu yang lalu.
"Kita putus."
Dua kata yang teramat sakti, membuat sakit hati bagi para penerimanya. Bagai saklar yang mudah  dihidupmatikan, begitukah menurutmu?
Acapkali melihat foto kita yang tersenyum bahagia, tak pernah terlintas bila kau memberi luka padaku.
"Leo, bisakah kau jelaskan mengapa hubungan kita ini harus berakhir?"
Pemuda yang baru saja menyelesaikan gelar sarjana itu mengabaikan pandanganku. Titik air melukis jendela, hujan di luar sana. Juga hujan di dalam hati.
Tanpa memandangku, Kau malah menjawab dingin, "Aku harus pergi ke luar negeri, Patira."
Aku terhenyak, bukan alasan yang cukup menyudahi hubungan delapan tahun lamanya. Tak penting hadiah atau benda yang kami saling berikan, namun waktu. Ya, dua insan yang telah saling mengasihi, akan rela mengorbankan waktunya untuk orang yang mereka cintai. Itu lebih berharga dari apapun. Akhir yang tak menyenangkan hanya menyisakan belati yang menancap di hati. Bahkan aku sendiri tak sanggup mencabutnya.
"Bukankah kita bisa menjalani hubungan jarak jauh?" tanyaku sekali lagi untuk meyakinkanmu.
Kau masih membuang wajah.
"Aku tak bisa."
"Kamu pasti bisa, Leo. Kamu hanya perlu percaya padaku."
Nada suaramu meninggi, "Aku tak mau disiksa oleh jarak."
Dirimu menggebrak meja. Pengunjung yang lain tentu saja terkejut. Kau melangkah pergi menerabas hujan. Membiarkanku sendirian, menangis tersedu tanpa sebuah kepastian jawaban.
Danau kala senja itu menjadi saksi bisu, aku telah mengaramkan kenangan tentangmu. Tentang kita. Empat foto itu pupus semakin jauh ke dasar danau. Dalam genggaman tanganku. Entahlah, apakah engkau masih menyimpan empat lembar lainnya di sana?
~Doddy Rakhmat
19.10.2015

Minggu, 18 Oktober 2015

Alien Salah Jurusan

Jalan depan rumah ramai bukan main, bukan karena presiden lewat. Di ujung gang, di rumah Pak RT lagi ada pesta sunatan anaknya. Panggung dangdutan itu persis menutup jalan, menghalangi lalu lalang kendaraan. Alhasil, semua pemakai jalan memutar arah, tak sedikit juga yang malah terjebak menonton dangdutan. Aku bertanya sama Mang Ali sewaktu lewat depan rumahku, ia menjawab, "Lumayan neng, tadinya mau beli rokok di warung, eh malah dapat hiburan gratis."
"Mah, aku berangkat ke kampus dulu ya!" Teriakan pagi itu menyita perhatian Abah. Masih lengkap dengan sarung dan kaos putihnya, ia keluar sambil membawa helm yang baru dibelinya semalam. Warnanya pink dengan stiker bunga di belakangnya. Bukan aku banget.
"Tuti, pake helm ini. Abah udah beli yang standar. Copot helm kodokmu itu." Perintah Abah tangannya menyodorkan Si Helm Pinky. Tak kuambil. Sengaja.
Aku merengut, tak suka. Setengah hati melepas helm kesayanganku. Baru setengah senti helm terangkat, langsung kukenakan lagi. Dan buru-buru pergi, Abah langsung berteriak. Sumpah serapah untuk anak gadisnya yang tak tahu di untung. Mengejarku sampai luar pagar.
"Jangan merengek ke Abah, kalau kamu kenapa-napa di jalan." ujarnya setengah mengancam.
Aku tak menghiraukannya. Lagipula suaranya sudah kalah dengan pengeras suara musik dangdut acara pak RT. Tiba di perempatan sebelum jalan raya, ada yang memotong jalanku. Belok tanpa lampu sein,hampir saja aku jatuh. Lantas aku berteriak memekakan telinga.
"KALAU BELOK, KASIH LAMPU DONG!"
Abang tukang ojek perempatan ikut menimpali dengan senyum mesem-mesem, Udah neng. Jangan marah-marah, entar cepat tua lho. Disusul gelak tawa abang-abang lainnya. Kalau saja masih banyak waktu, mungkin kuladeni sindiran abang-abang itu. Tapi cepat-cepat aku kembali focus untuk sampai di kampus tepat waktu. Ada Pop Quiz dari salah satu dosen killer, terlambat sedikit bisa mengulang mata kuliah semester depan.
Hampir dekat kampus, lagi-lagi ada yang hampir menyerempetku, kali ini ibu-ibu begajulan. Sudah memberi lampu sein ke kiri, eh malah belok ke kanan. Ini ujian dapat SIM nya remedi atau bagaimana sih? Heran, pikirku.
Beruntunglah, aku tak telat. Kuliah pagi ini lancar jaya. Dan baru sadar, kalau ibu-ibu begajulan tadi itu dosen killerku. Tugas-tugas mingguan masih menumpuk, daripada di kampus. Aku memilih pulang. Jalanan tak terlalu sepi. Belum jauh dari kampus, di sebuah simpang jalan. Ada razia kendaraan dari satuan Polantas. Dua sejoli yang sedang berboncengan mesra tiba-tiba berbalik arah. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. Si pria sudah keringat dingin, aku sudah bisa menebak, pasti dia belum punya lisensi berkendara. Jadi perlu diingat buat yang mau boncengin pacaranya sambil naik motor atau mobil. Pastikan dulu selain punya STNK juga harus punya SIM, Surat Izin Mencintai, eh Mengemudi.
Simpang itu kulalui dengan aman. Tanpa pemeriksaan. Terbayang masa lalu dulu, si Ayip yang rela memboncengku ke sekolah, padahal kami masih berseragam putih biru. Tentu belum cukup umur membawa sepeda motor, aku mengira itu termasuk salah satu hal heroik. Ternyata nggak sama sekali.
Bruk.
Aku mengaduh. Karena asik melamun, aku tak melihat lubang besar di jalan. Dan terjatuh ke dalamnya. Abang-abang di perempatan jalan tadi ramai-ramai menolong. Syukurlah hanya lecet di tangan dan lutut. Kalau sampai di wajah, kan harus operasi plastik. Aku berterima kasih kepada mereka, impas. Pupus sudah niat pembalasan sindiran tadi pagi.
****
Sepanjang jalan kenangan, kita kan selalu bergandeng tangan..
Sepanjang jalan kenangan, kau memeluk diriku mesra..
Lagu lama diputar dari radio butut milik Abah, ia sambil mengelap helm yang masih mengkilap. Aku sampai di teras rumah. Memarkirkan kendaraan di garasi. Burung-burung peliharaan Abah menyambut dengan celetukan nakal.
"Neng, bagi pin BB nya dong."
Entah darimana burung beo itu meniru, kurasa Abah sering menggoda tukang sayur komplek.
Abah dengan semena-mena mengubah lirik lagunya dengan sedikit memaksa dan menyanyi dengan suara seadanya.
Sepanjang jalan S.Parman, kita selalu pake helm standar..
Sepanjang jalan Sudirman, lampu sorot kita nyala..
"Eh sudah pulang Tut?" sahutnya sesaat kemudian ia menoleh ke arahku. Abah langsung tertawa lepas. Melihat baju dekil plus luka-luka lecet di tanganku. Bukannya ditolongin, malah diketawain, batinku.
"Tuh kan, apa yang Abah bilang. Harusnya tadi nurutin kata-kata Abah. Kualat kan?"
"Abah, kolot banget sih. Kan malu pake helm begitu ke kampus."
"Kenapa musti malu,Tut? Kenapa?"
Mendengar keributan dari teras rumah, Mamah keluar dari balik pintu. Ia membawa sutil penggorengan.  Disusul aroma semerbak ikan asin goreng. Roll rambutnya masih terpasang sejak pagi. Rencananya mau persiapan ke acara pak RT, jadi dandannya harus maksimal. Biar gak kalah sama ibu-ibu komplek yang lain.
"Mah, jelasin ke Abah deh. Dari tadi maksa pake Helm SNI." ujarku mengadu.
Mamah mendelik ke Abah.
"Kamu mau ngebela si Tuti? Ini aku nyiapin perlengkapan buat dia aman berkendara lho, Mah. Helm SNI. Abah kan baru ikutan sosialisasi di kantor lurah. Pak Polisi lalu lintas mengajarkan yang baik untuk masyarakatnya. Eh, kenyataan malah masih banyak yang ngelanggar juga." Abah sambil menunjuk kendaraan yang lalu lalang di depan rumahnya. Ada yang tak pakai helm. Lampu sorot mati. Belok tak pakai lampu sein. Kaca spion yang cuma satu. "Mau dibawa kemana muka Indonesia ini, Mah? Kalau budaya berkendaranya saja masih begitu." lanjutnya lagi.
Mamah hanya diam membiarkan Abah menjelaskan panjang lebar. Ia tahu Abah belum puas menceramahi. Tak berapa lama Jukri, anak tetangga sebelah lewat. Menuntun motornya sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
Tuh, tuh lihat si Jukri. Pasti gara-gara gak pake helm tuh. Kepalanya sampai bedarah-darah gitu. Abah menunjuk-nunjuk si Jukri yang lagi lewat.
"Astaga, Juk. Kenapa kepalanya?" tanya Mamah prihatin.
"Biasalah mpok, gara-gara ada yang tawuran dekat sekolah. Eh, malah kena timpuk batu nyasar. Apes. Apes."
"Rasain. Makanya Juk, pakai helmnya. Biar gak tambah berabe urusannya. sahut Abah penuh kemenangan. Jukri menangis sepanjang jalan. Bapaknya terkenal galak. Apa jadinya kalau lihat anaknya macam begitu.
Kembali ke perdebatan yang belum usai. Ikan asin yang di goreng mendesis.
"Iya, Abah. Tuti itu bakal nurut semua yang Abah sampaikan kalau memang sudah tepat waktunya." Ujar Mamah.
Aku diam, tak menatap Abah. Melihat jalanan yang masih ramai. Lututku masih perih bekas terjatuh tadi. Perlahan-lahan aku berjalan meraih kotak obat di ruang tamu. Membersihkan luka, sambil menahan sakit. Abah ikut pindah, Mamah kembali ke dapur menyelesaikan urusan ikan asinnya. Lalu kembali bergabung bersama kami.
"Tepat waktunya gimana? Nih Abah kasih tahu ya, kalau namanya Safety Riding itu banyak manfaatnya. Selain melindungi diri sendiri, juga orang lain. Kalau belok ya harus pasang lampu sein ke arah yang benar. Kalau malam ya harus dinyalain lampu sorotnya, jangan dimatiin. Apa dikira pengemudi di jalan ini bisa sulap kayak di tivi-tivi itu apa, yang pakai ditutup matanya. " jelas Abah menatap kami bergantian.
"Ya itu kalau Tuti sudah dibelikan motor sama Abah. Masa Abah mau suruh Tuti pake helm SNI tapi dianya naik sepeda. Kan lucu, Bah." jawab Mamah.
"Tapi kan harus tetap Safety Riding, Mah. Berkendara itu harus mengutamakan keselamatan." Abah tak mau kalah berkilah.
"Duh, Abah ini apa mau nanti dibilang anaknya gak waras atau gimana sih. Kan Tuti udah benar pake helm sepeda. Nanti kalau kemana-mana pakai itu, disangka Alien salah jurusan lagi." Aku membela diri.
Abah langsung garuk-garuk kepala. Sepertinya tidak gatal, tapi karena malu dan tengsin.
Berkendara secara tertib dan aman bukan saja melindungi diri kita, tapi juga orang lain, orang-orang yang melanggar aturan tertib lalu lintas itu berarti hanya mementingkan ego nya saja. Kita harusnya sadar bahwa jalanan adalah tempat rentan terjadinya kecelakaan, urusannya bisa sampai membuat nyawa melayang. Sayangi diri kita dan keluarga, caranya? Dengan patuh berkendara.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen, 'Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.' #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Minggu, 11 Oktober 2015

Launching Lima Teguk Kopi

Grand Launching buku "Lima Teguk Kopi"

"Tahun baru, buku baru"

Sekarang sudah mulai mendekati akhir tahun, dan biasanya kalau tahun baru itu bakal rame.
Ada yang tau tahun apa? Yap, betul. Kali ini kita akan kedatangan tahun baru Islam "Muharram".

Orang Indonesia itu tipikal orang yang demen banget kongkow dan ngobrol bareng. Apalagi kalau lawan bicaranya itu nyambung dan asik. Pasti bahan bicaraannya ngalor ngidul kemana mana.

Nah, maka dari itu dalam rangka menyambut tahun baru Islam, OWOP mewadahi untuk teman teman semua yang suka kongkow dan belajar nulis.

Acara gathering yang penuh dengan kebersamaan dan bermanfaat.

Yuk datang ke acara "Launching Buku Lima Teguk Kopi."

Tanggal: Rabu, 14 Oktober 2015. (Tanggal merah)
Tempat: Taman Pemancingan Alam Kebun binatang Ragunan. Jakarta selatan.
Jam: 08.00-12.00 WIB.

Dijamin acaranya seru, interaktif, gokil, dan keren.

Acara launching ke 2 terkeren se-Indonesia. Karena kamu bakal dapet:
1. Teman baru.
2. Lomba nulis.
3. Games interaktif.
4. Review isi buku "Lima teguk kopi".
5. Doorprize.
6. Tanda tangan dari penulisnya LANGSUNG.
7. Makan siang bareng penulis.

Waaw, asik bukan? Kapan lagi bisa bercengkrama dengan OWOP-ers? Yuk segera daftar.

Kabar bahagianya,
OWOP menyediakan 1 BUKU untuk kamu yang bisa membawa teman-teman sebanyak mungkin.

So, ayo ajak seluruh teman, sahabat, keluarga, dan sanak saudara kalian semua. Hadiah buku menunggumu ^_^

Cara daftarnya gampang, tingal ketik
DAFTAR_Nama lengkap_No HP_LLTK
Kirim ke
Said (0856-97-160-950)-Whats App/SMS

Apa aja yang harus dibawa pada gathering kali ini?
1. Pulpen dan Note (Wajib)
2. Makan siang (Wajib)

Terima Kasih
Syukron
Thank you