Minggu, 01 Februari 2015

Pemenang Giveaway 100 Post

Akhirnya selama 10 hari giveaway dilangsungkan saatnya mengumumkan dua pemenang yang akan mendapatkan buku Draf 1 : Taktik Menulis Fiksi Pertamamu karya mba Winna Efendi

Saya akui semua karya teman teman yang masuk keren-keren bahkan saya mau buat kompilasinya nanti di blog ini. Tunggu ya.
Bagi yang belum beruntung jangan berhenti untuk mengembangkan bakat menulis fiksinya, kedepannya saya akan buat giveaway dengan hadiah yang lebih seru lagi dan saya juga buat agenda blogwalking berhadiah, bagi blognya yang saya sukai secara keseluruhan mulai dari layout dan kontennya akan saya berikan hadiah.

Baik tanpa panjang lebar. Inilah karya pemenang pertama #Giveaway100post

"Bolehkah Aku Meninggalkanmu"
Karya Rindang Yuliani

Sebuah pertanyaan yang tak kau ucapkan. Tapi aku tahu, itu yang tersirat di balik penjelasan panjang lebarmu.
Mungkin tak ada yang mengangguk jika orang yang dicintai bertanya seperti itu. Namun, kau tak menanyakannya. Kau menggantinya dengan pernyataan, “aku akan meninggalkanmu”.

Tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkanmu karena aku mencintaimu. Aku yakin kau akan lebih bahagia jika kau pergi meninggalkanku, menuju tujuan hidupmu.

Telah berkali-kali aku merasa kehilangan. Awalnya terasa sakit. Tapi pada kehilangan yang kesekian, aku telah mati rasa. Terbiasa. Seseorang yang lain–yang kucintai, bahkan meninggalkanku tanpa kata. Ia hanya menyunggingkan senyum dalam diam sebagai tanda perpisahan. Pertanda ia bahagia saat meninggalkanku.
**

Aku baru selesai membaca cerpenku yang ke-100 yang masuk media kali ini. Ya, aku bertahan hidup dari tulisan sekarang. Honornya cukup untuk menopang hidupku. Tapi tetap saja, itu tak membuatku bahagia. Adakah bahagia dalam sepi?
Awalnya aku menulis hanya untuk mengisi kekosongan hidup yang kujalani. Hingga sekarang, aku menulis karena kebutuhan. Menghabiskan waktu bersama tinta dan kertas yang menjadi saksi bisu kesendirianku.

Isak tangis mengelilingiku. Aku terdiam.
“Bolehkah aku meninggalkanmu?” Mungkin ini saatnya giliranku yang mengucapkan kalimat itu.

“Ibu, kami tak bermaksud meninggalkanmu” kata Desy –si sulung, di sela isak tangisnya. Mungkin ia telah membaca buku harianku.

Kini kalian pergi meninggalkanku. Aku kesepian sekarang. Satu-persatu menghilang dari kehidupanku.

“Maafkan kami bu, kami bukan anak yang berbakti padamu” Derra –gadis keduaku, air mata deras mengalir di pipi cantiknya.
Aku tak melarang kalian pergi. Hanya saja jenguklah aku sesekali. Tak hanya saat lebaran tiba. Itu lebih berarti dari uang yang kalian kirimkan tiap bulan sayang-sayangku.

“Aku berjanji mulai sekarang, aku akan selalu di sampingmu. Menemani dan merawatmu bu” Ditto –bungsuku, satu-satunya yang masih lajang pun ikut menyeka air matanya.

Kalian hebat, nak. Cita-cita kalian sungguh tinggi dan kalian mampu mencapainya. Aku bangga mempunyai putra-putri seperti kalian. Hanya saja, mengapa aku merasa kalian meninggalkanku? Meninggalkanku demi cita-cita dan kehidupan yang lebih baik.

“Kami tak pernah tahu kalau selama ini ibu kesepian setelah kepergian ayah. Maafkan kami bu” Daru –anak keduaku, terlihat paling tegar karena tangisnya tak nampak dimataku.

Aku tak perlu mengatakan ini pada kalian. Karena mungkin kalian memang jauh lebih bahagia di tempat yang jauh dariku.
Lidahku seperti tak mampu mengeluarkan suara, mengatakan semua kata yang tertulis di buku harianku. Mereka sudah tahu, itu cukup bagiku.
“Bolehkah aku meninggalkanmu?”
Tak butuh jawaban, aku pun akan pergi sekarang seperti kalian dulu meninggalkanku.

Selamat tinggal, dunia.

**************

Dan pemenang kedua..... *drum roll*

"Telepon"
karya Zaitun Hakimiah

"Sekali lagi kau berdering, aku tak akan segan-segan membantingmu!" Gerutuku pada handphone yang sedari tadi mengganggu ketenangan batinku.
Sehari ini sudah ada tujuh panggilan tak terjawab dari nama yang sama. Berkali-kali dia bertanya, berkali-kali pula aku menjawab. Jawabanku tetap sama. Aku tak pernah mengganti jawabanku meski orang di seberang sana mengemis-ngemis kepadaku.
"Tak sudi aku datang. Buat apa? Tak ada gunanya. Buang waktu saja." Kesalku.

Aku masih tak mengerti mengapa ia terus memaksaku. Apa dia benar-benar tak bisa mencerna kata 'TIDAK' yang entah harus berapa kali ku katakan agar dia mengerti.

'Aku harus mengakhiri ini semua. Aku bosan dihantuinya. Dan satu lagi, aku tak peduli padanya.' Batinku.

Ku ambil handphoneku. Dan sebelum ia menerima panggilan lagi dari orang yang sama, maka aku akan menelponnya terlebih dahulu. Tanpa menunggu berapa lama, suara orang diseberang terdengar bersemangat menerima teleponku.

"Apakah kau berubah pikiran?" Tanyanya girang.
"Tidak sama sekali."
"Ayolah. Aku akan penuhi semua keinginanmu jika lusa kau bisa datang."
"Tidak. Harus berapa kali ku bilang, aku tidak akan datang. Ini adalah jawaban akhirku. Aku akan sangat membencimu jika kau terus memaksaku."
"Mengapa? Mengapa kau tega padaku? Apa kau tak suka jika aku bahagia?" suaranya terdengar lemah, sedih.
"Ha? Tega kau bilang? Kau yang lebih tega. Lusa adalah hari ke seratus ibu meninggal. Dan kau, kau justru melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Ayah macam apa kau ini?"

Tuuuuut. Telepon ku tutup dengan penuh amarah. Namun, sempat terdengar lirih satu kalimat sebelum sambungan telepon benar-benar tertutup. "Itu permintaan ibumu, Nak."

**************

Selamat kepada dua orang pemenang, buku akan saya kirimkan ke alamat masing-masing. Mohon bersabar ya :))
Saya akan konfirmasi kalau buku telah dikirim.

Salam Fiksi, Diksi, Doddy

11 komentar: