Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2022

Topeng Muslihat Rasa

Ada masa saat aku hanya berdiri di depan cermin, bayanganku bahkan tidak mengenali tuannya sendiri. Karena sudah terlalu banyak topeng yang kukenakan.  Kudapati topeng-topeng dari itu masa silam. Silam belum terlalu jauh. Masih baru dari luka yang masih basah juga dari bahagia yang tumbuh merekah.

Topeng-topeng itu kuselipkan dan kubawa kemanapun aku pergi. Kuajak ia untuk bertemu banyak orang, yang di suka maupun tidak. 

Kemudian ada masa saat aku pulang dari padatnya isi kepala karena sering diteriaki atas kebodohan sendiri. Lalu aku menarik kursi kayu dan duduk di depan cermin setinggi badan itu. Bayanganku menangis, aku tersenyum. Ia sempat heran tapi lekas tersadar. Aku belum melepas topeng muslihat rasaku malam itu. 

Waktu memilih menjalankan takdirnya ke depan, melaju maju tak dapat dihentikan. Tidak ada kata mundur atau kembali. 

Aku terlampau lelah membawa topeng-topeng yang semakin beragam. Maka sudah kuputuskan, di suatu malam aku melemparnya tinggi-tinggi dan kubiarkan topeng muslihat rasa jatuh pecah berkeping. 
Lalu aku harus menjadi siapa?

(Doddy Rakhmat, Februari 2022)


Gambar dari Pinterest.

Minggu, 15 Maret 2020

DEKAPAN DELAPAN

DELAPAN DEKAPAN



Ada delapan dekapan dalam hidup yang kau perlu ingat.

Bermula menjelang petang langit berpadu biru dan merah jingga
Saat itu dekapan pertama terlahir saat kau hadir pertama di dunia ini dan kau masih belum bisa membalas dekapan hangat dari ayah ibu

Dan waktu bergerak maju
Saat langkah kecilmu tercipta
Kau berjalan tertatih dengan kedua kaki mungil
Di ujung jalan kau hampir terjatuh
Ayah sigap menyambut dengan mendekapmu
Tak ingin kau terluka
Dan kalian berdua tertawa

Dunia terus berputar
Kau mulai pandai berbicara
Sekolah menjadi rumah keduamu
Setiap pagi kau berangkat
Namun tak selamanya berjalan baik
Kau pernah pulang dengan penuh luka di kaki dan lengan
Lalu ibu mendekapmu
Menyeka tangismu yang belum tiris

Kau mulai bertumbuh dewasa
Sudah mengenal baik dan buruk
Kau pergi mencari ilmu ke kampus yang jauh dari rumah
Mengejar cita menjadi sarjana
Kau ingin membuat ayah ibu bahagia
Dengan toga dan wisuda
Lalu mereka berdua mendekapmu
menahan sesak di dada, bangga

Realita mulai menghantam
Kau tidak ingin lagi menjadi beban
Merantau jadi pilihan
Sebelum kau berangkat pergi bekerja
Meninggalkan rumah yang nyaman
Ayah dan ibu memberi dekapan panjang
Tanda rindu yang tak berbilang

Waktu tak mengenal kata lelah
Kau akhirnya memutuskan untuk menikah
Lalu memohon restu kepada ayah ibu
Mendekap mereka setelah ijab terucap
Berjanji tetap beri bahagia

Dan segalanya bergerak cepat
Rambut mulai memutih dan anak-anakmu
telah memilih jalan hidupnya masing-masing
Di saat itu kau mulai disinggahi kehilangan-kehilangan orang yang kau sayang
Kau mendekap belahan jiwamu
Saling menguatkan

Dekapan ke delapan
Kau terima untuk kali terakhir saat kau tak dapat lagi mendekap
Hanya ada diam dan gelap
Karena kau telah menjadi kenangan

Doddy Rakhmat
15 Maret 2020

(Ilustrasi oleh Giri Prahasta Putra)

)

Rabu, 18 September 2019

DOA SENYAP

Siang tak ubahnya malam gelap
Kami yang pada akhirnya mulai terbiasa
Menyesap asap
Sudah lama kami bersedekap
Melindung diri dari kabut menyergap
Sesak pengap

Kami telah berteriak lantang
Namun perhatian tak kunjung datang
Kami hanya menunggu
Hujan datang
Memadam petaka terbentang
di tanah kami sekarang
Yang tentunya
Masih bagian Indonesia

Apa kabar yang sedang menghirup udara lega?
Dapat salam dari Mentaya

#SelamatkanSampit
#DaruratAsap

(Doddy Rakhmat)

MEMBAKAR LANGIT












Dulu biru
Sekarang kelam abu

Dulu jingga
Sekarang hitam jelaga

Dulu segar
Sekarang racun terpapar

Dulu perhatian penuh
Sekarang seolah enggan menyentuh

Dulu langit masih biasa-biasa saja
Sekarang ada api menyala

Menyala sengaja
Sengaja menyala
Lalu habis melenyap
Tersisa gelap

Hilang nurani
Hati tak fungsi
Akal membebal
Tangan seolah dewa
Memutus apa yang salah
Tampak benar adanya
Api menyala

Mungkin usai hari ini
Tapi barangkali lusa
Tangan dewa sekali lagi
Membuat lagit membara

(Doddy Rakhmat)

#SaveSampit #IndonesiaDaruratAsap

Rabu, 06 September 2017

Menyelamatkan Jodoh Orang Lain

Kadang ada orang-orang ditakdirkan hanya untuk hadir sementara dalam kehidupan. Tugasnya adalah memberi pelajaran bagaimana kita untuk lebih tabah menghadapi sebuah pilihan. Menjadi wanita sabar yang menunggu, menjadi lelaki berani memberi kepastian.

Ratusan hari menunggu, menyimpan rindu diam-diam, dan yang kau tunggu tak kunjung datang memberimu kepastian adalah bukti kesabaranmu. Namun tidakkah kita pernah bersepakat sebelumnya? Saling memantaskan diri sebelum ikatan suci.

Aku tahu kau pasti lelah, waktu kadang terlalu tega membiarkan kita menjalani hal-hal yang tidak kita inginkan. Kau seperti sekuntum mawar yang menantikan embun di musim kemarau. Tetap mekar dan berduri walau melalui masa sulit. Dan aku hanya seperti angin kering berembus yang tidak akan pernah menjadi setetes air.

Untuk keduakalinya, perpisahan seperti menemukan jalan terakhir. Aku memilih untuk tidak menyelamatkan hubungan ini karena aku merasa bukan pilihan terbaik. Kau pantas mendapatkan seseorang yang tidak membiarkanmu tertatih dalam penantian.

Di tengah terik siang kadang hujan juga tetap turun, namun setelahnya akan hadir pelangi. Pun begitu pula kesedihan, hari ini kau merasakannya, esok atau lusa semua akan diliputi bahagia. Jemputlah kebahagiaan itu walau bukan denganku. Karena aku hanya bisa mengantarkanmu dengan doa-doa. Terima kasih atas segala yang pernah kau beri, atas kenangan-kenangan baik.

Setidaknya, kepergianku adalah sebuah upaya menyelamatkan jodoh orang lain. Yang bisa memberimu kepastian sesegera mungkin. Ditemukan oleh seseorang dan membawamu kepada kebahagiaan hakiki, sebuah pernikahan.

Doddy Rakhmat
06092017

Jumat, 31 Maret 2017

Memintamu Untuk Melupakan

Satu-satunya hal terbodoh yang pernah terjadi adalah memintamu untuk melupakan. Melupakan segala hal tentangku. Melupakan kenangan-kenangan yang pernah bersemayam. Kiranya aku meminta maaf dan berharap kau dapat menyimpan apapun tentangku yang membuatmu baik-baik saja. Sebab membuatmu terluka, menangis dalam kehilangan, dan menunggu ketidakpastian bukanlah hal yang aku inginkan. Aku tahu bagaimana kesedihan bekerja. Senantiasa menumpahkan airmata agar dada terasa lega.

Luka kehilangan ini sesungguhnya perjalanan waktu yang harus kita tempuh bersama, atau hanya aku saja yang melaluinya. Kau sepertinya tidak pantas. Waktu adalah jarak teramat panjang, kau tidak tahu batas akhirnya. Kau hanya diberi kesempatan untuk memulainya. Dan kau tumbuh dalam hati seperti luka yang perih tapi aku merasa bahagia walau harus menerimanya tertatih.

Dan yang tak pernah sedikitpun tercetus dalam pikiran. Dalam angan-angan. Bahwa mungkin pada awalnya orang jatuh cinta tak pernah berpikir bagaimana akhir perjalanan cintanya nanti. Apakah bahagia atau menyedihkan? Tapi mereka tetap menjalani, untuk melatih seberapa kuat dan teguhnya hati. Kita memilih bagian yang menyedihkan setelah berbahagia sejenak. Aku tahu keputusan berpisah ini adalah keputusan bersama. Tetapi mendadak menjadikanmu seseorang yang asing dan saling mengasingkan diri adalah kenyataan pahit. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, lalu semuanya terlupa seperti diserang amnesia.

Lagu-lagu yang pernah kita dengar dan nyanyikan bersama telah membentuk kenangan tersendiri dalam memori. Dimanapun kita mendengarnya kelak, aku yakin kita pasti kembali mengingat bagaimana kita menghabiskan waktu bersama. Saling bertukar mimpi masa depan dan kisah masa lalu yang kadang lucu, kadang haru.

Sekarang kita berdua telah berada dalam sebuah jalan dan keputusan. Masing-masing telah memilih dan berjalan tegar berbeda arah walau hati terasa nanar saat harus melewatkanmu dalam perjalanan panjang ini. Terima kasih telah pernah bersama dan terima kasih jika kau tidak menghapusku dalam hidupmu selamanya.

(Doddy Rakhmat)

Rabu, 08 Maret 2017

Mungkin Bukan Aku

Mungkin bukan aku. Bukan aku yang kau tunggu di senja kala itu. Di sebuah tepian dermaga dengan angin laut yang menyibak rambutmu perlahan atau di dalam ruang hatimu.

Mungkin bukan aku. Dari sederet nama yang kau nantikan dalam hidup. Satu demi satu mereka gugur seperti daun di pepohonan tua. Dan salah satunya aku.

Mungkin bukan aku. Yang kelak menghabiskan detik demi detik kebahagiaan bersamamu. Karena aku hanya bisa memberimu harapan yang tak bisa kau genggam seperti udara di tangan hampa.

Mungkin bukan aku. Bersanding manis denganmu di pelaminan biru warna kesukaanmu. Karena aku terlalu sibuk menyesali kehilangan yang aku buat.

Mungkin bukan aku. Menimang bayi mungil yang kau beri nama-nama indah seperti parasmu. Menikmati hangatnya sinar mentari di taman asri bersama si buah hati.

Mungkin aku. Yang akan menghapus kesedihan di matamu, kepedihan di batinmu, dan keberadaanku di hidupmu.

Mungkin.

Doddy Rakhmat
07.03.2017

Senin, 16 Januari 2017

SERATUS KALI BAHAGIA

Satu demi satu kawan-kawan lama telah menemukan pasangan hidupnya, hampir setiap minggu aku menerima undangan pernikahan mereka. Sementara di sisi lain aku masih sibuk menentukan kepada siapa hati akan berlabuh dan membangun bahtera rumah tangga. Kadang aku memilih diam dan merenungi setiap pertanyaan yang ditujukan kepadaku tentang "Kapan kamu menikah?

Dan aku sepertinya terlalu sulit menemukan jawaban yang tepat. Aku percaya takdir yang ditetapkan oleh Tuhan tentang jodoh tidak akan pernah berubah. Dan itu masih menjadi rahasia besar yang hanya bisa kita ketahui saat doa dan usaha bergerak seirama. Terijabah. Lalu aku hanya memberi senyum kecil, hanya aku yang mengerti artinya. Dan mereka tidak akan pernah bosan menanyakan hal yang sama di berbeda tempat. Tapi pertanyaan itu membuat aku sadar, bahwa menikah adalah salah satu tujuan hidup yang sebenarnya.

Tentu ada kerisauan saat berjalan seorang diri, melalui dunia yang tidak pernah kau tahu kapan akhirnya, sementara kita masih menyisakan ruang kosong pada hati menunggu untuk disempurnakan. Kita ingin berjalan seiring dalam satu genggaman tangan. Menuju berbagai cerita pahit manis kehidupan.

Memilikimu tentu akan menjadi kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Kata seorang teman, menikah akan menyempurnakan seutuhnya kebahagiaan hidup. Setiap hari kau akan disambut dengan wajah orang terkasih. Yang melepasmu pergi dengan segala rasa cemas. Yang menunggumu dengan penuh rindu dan doa yang melindungimu di setiap langkah.

Saat menikah kelak, kau akan merasakan seratus kali lipat bahagia daripada biasanya. Kekasih dunia akhiratmu yang mengembangkan senyumnya tanpa pamrih, dan kemudian diikuti langkah-langkah kecil anakmu yang jatuh ke dalam pangkuanmu. Dunia sudah lebih dari sempurna.

Tidakkah kita semua ingin kebahagiaan itu berlipat ganda? Tidak hanya seratus kali lipat mungkin semilyar kali lipat. Tuhan akan mendengar doa-doa makhluknya yang meminta sungguh dan penuh ketulusan. Dan aku ingin menyelipkan namamu dalam setiap doa yang kumunajatkan. Karena mengaminimu dalam setiap doa, adalah gerilya untuk mendapatkan hatimu diam-diam. 

(Doddy Rakhmat)

Jumat, 30 Desember 2016

Tidak Cukup Selamat Tinggal

Tidak cukup selamat tinggal dari kepergianmu. Kamu adalah kegagalan yang aku ciptakan sendiri. Kita berdua terluka dan kamulah yang paling menderita. Aku berdoa agar kau segera dibahagiakan oleh orang lain. Agar semua lara segera berakhir. Tidak ada ruang lagi yang tersisa untukku di hatimu yang telah sesak karena benci dan kecewa. Tidak ada jalan kembali kepadamu.

Kita yang pada akhirnya telah berjalan saling menjauh dalam genggaman tangan yang lain berusaha menemukan kebahagiaan masing-masing. Ada saatnya kita berpaling melihat satu sama lain, lalu tersenyum simpul mengingat segaris waktu yang pernah dilalui bersama. Lalu kita sadar, bahwa waktu tak pernah berjalan mundur, luka-luka akan menguatkan diri menuju masa depan.

Tidak cukup selamat tinggal,
dari pria yang pernah jatuh hati dan patah hati kepadamu.

(Doddy Rakhmat)

Kamis, 29 Desember 2016

Untukmu, Aku Berani Jatuh Cinta

Detik-detik jarum jam teramat tega menikam dirimu dari belakang. Menembus jantung, menghentikan waktu sementara. Seperti itulah kira-kira patah hati bekerja.

Tenggelam dalam hamparan kapas, berlarian tanpa batas. Berharap masa berputar lekas karena ada kerinduan yang harus terbalas. Kira-kira begitulah jatuh cinta bekerja.

Jatuh cinta dan patah hati bagai langit dan bumi. Mereka berbeda namun kita harus memilih memihak pada siapa. Jatuh cinta adalah bumi yang harus kita pijak. Membuat kita bertahan dalam segala cobaan. Sedang patah hati adalah langit. Luas tanpa arah pergi dan pulang.

Dan kamu adalah pelangi. Yang tercipta setelah penantian panjang dari kesedihan dan riang. Yang menyatukan kembali langit dan bumi.

Untukmu, aku berani jatuh cinta. Karena kita adalah dunia sempurna.

(Doddy Rakhmat)

Kamis, 15 Desember 2016

Abadinya Rindu

Aku tidak ingin menggesermu barang sejengkal dari bilik kenangan, tapi sampai kapan aku bertahan untuk tidak memulainya kembali?

Kau dan aku saling menerka
Bahwa kita masing-masing menyimpan luka
Dan diam-diam kita saling mendoa
Apakah ada kesempatan yang kedua?

Kita mencoba saling menutup identitas
Tidak ingin saling mengenal
Namun tak bisa menahan degup jantung
Yang bergerak seirama
Sampai kapan kita bertahan?

Kisah-kisah yang tidak ingin kita ingat adalah daun-daun kering yang gugur satu per satu. Tertiup angin tak menentu.
Seperti harap yang kehilangan tumpu.

Aku hanya ingin bertemu
Kamu pun sepertinya begitu
Tapi waktu seolah tak berpihak
Dan menjadikan rindu yang kita simpan
Abadi

Senin, 12 Desember 2016

Nopember Ini

Nopember ini
adalah tentang perayaan
hujan yang turun setiap malam

Nopember ini
Aku berserah diri dipenjara
Oleh lekuk senyum
Pada sudut bibirmu yang ranum

Nopember ini
Dari matamu yang terlanjur sepi
Memeluk segala risau yang tumbuh di hati

Nopember ini
Adalah tentang aku
Kamu
Yang berharap menjadi kita

Kota Hujan adalah Penghulu

Kau yang menunggu dengan segala debar
Dan waktu beranjak tak sabar
Mempertemukan senyum demi senyum
Menciptakan kisah baru dalam sejarah
Menguapkan masa lalu yang mungkin pedih
Menggantinya dengan derai bahagia yang turun
Bagai hujan sepanjang abad

Kota hujan adalah penghulu
Cinta pertama kita
Untuk selamanya

Dari jauh hari Tuhan telah menetapkan
Bahwa takdir kita saling berkelindan
Dan hari ini kita menautkannya
Merajutnya dengan bahagia
Setelah kuucapkan ikrar setia
Maka kau dalam pelukku selamanya

Mari tanggalkan masa lalu dan luka-luka
Dan kita tinggal bersama di sebuah tempat
Yang bernama, Rumah Tangga.

-----

Selamat melepas masa lajang untuk Amel dan Frima
Semoga hari-harimu selalu bahagia
Doa-doa terbaik untuk kalian mewujud nyata

Bandung, 11 Desember 2016
Dari sahabat masa kecil dan selamanya
Doddy Rakhmat

Kamis, 01 September 2016

Padamu

Pada ruang-ruang yang diciptakan untuk kita, rindu adalah perantara.

Pada waktu yang tenggelam kala senja, malam adalah pertemuan sempurna

Pada luka-luka yang pernah singgah, kau adalah peredanya

Pada kebisingan yang mengganggu telinga, suaramu adalah penenang jiwa

Pada kenangan yang berjalan mundur, kamu adalah pengantarnya ke masa depan.

Pada langit yang tak berhenti menangis, bumi adalah penyabar ulung

Pada aku yang ingin mendekap rasa dingin gapaimu, cinta adalah pelukan hangat.

Padamu, aku adalah doa yang kau ceritakan setiap malam pada Tuhan

Padamu, padamu, padamu

Aku

Doddy R
31.08.2016

Sabtu, 16 Juli 2016

Kota Setelah Hujan

Bukankah begitu dingin
Hujan sisa semalam
Betapa kejam, bukan?
Tangis yang menggelayut
Mengering belum kau seka
.
Aku yang mengetuk pintu rumah lamamu
Membawa seikat bunga rampai layu
Yang hendak kuberi sebelum pergi
Dan kau memulainya lebih dahulu
.
Genangan di jalan belum menguap
Menguar aroma tanah basah
Aku penasaran kisah yang terputus oleh waktu
Cerita setelah hujan
Tentang kamu yang tak ingin sendiri
Dan aku hanya senyap yang tak pernah berani berisik.

-Doddy Rakhmat
16.07.2016

(Picture : webneel.com)

Jumat, 24 Juni 2016

Pantas

Semua ibadah diciptakan sebagai batas. Membedakan sesuatu yang beriman dengan yang tidak. Puasa hari ini membatasi besok dan kemarin. Puasa besok batas hari ini dan lusa. Waktu memisahkan deretan ibadah satu dengan yang lainnya,

Buruk sangka dan Puasa memisahkan pahala dan dosa. Resah di doamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah oleh keyakinan. Begitu pula kesempurnaan wudhu, penghantar antara kesucian dan seorang hamba yang Tuhan sayang.

Seorang hamba membelah dosa dari hatinya. Atau zikirmu, di antara ketakzimanku dan ketenangan jiwa. Persis segelas kolak tanpa gula menjauhkan kita dari serakah.

Apa kabar puasamu?
Lihatlah tanda tanya itu jurang antara keingintahuan dan meyakinkan dirimu sekali lagi

Senin, 06 Juni 2016

Tidak Ada Makan Siang Hari Ini

TIDAK ADA MAKAN SIANG HARI INI.

Tidak ada makan siang hari ini
Tidak ada makan siang kemarin
Dan diriku yang lama tidak akan kemana-mana
Karena aku yang baru akan tiba

Masjid adalah ruang ibadahku
Bukan sekadar tempat mencari takjil
Dan puasa, kau tidak ingin aku
Berbuka sebelum waktunya

Pintu pahala terbuka
Segala setan terperangkap dalam penjara
Bulan ramadhan datang, datang, datang..
Bulan yang amat penting, dan kita selalu menunggu petang.

(Doddy Rakhmat)

Based upon Puisi Tidak Ada New York Hari ini oleh Aan Mansyur

Minggu, 22 Mei 2016

Hilang dan Berubah

Kehilangan membuatmu berubah seperti menyalakan alarm setiap pagi sebagai pengganti istri yang tak lagi di sisi; yang senantiasa membangunkan dan menyeduh kopi untuk disesapi.

Kehilangan membuatmu berubah seperti mematikan televisimu dan mulai menyelesaikan buku-buku yang lama belum kau baca karena kau ingin meyibukkan pikiranmu dengan imajinasimu sendiri bukan dari televisi.

Kehilangan membuatmu berubah seperti tidak melupakan kunci rumah saat bepergian karena kau takut kehilangan sesuatu lagi.

Kehilangan membuatmu berubah seperti memutar musik yang awalnya kau tak sukai, lalu kau ikut bersenandung dengan lafal separuh fals tapi kau tak pernah peduli

Kehilangan membuatmu berubah seperti mendung malu-malu tampil di langit; segan menjadi hujan.

Kehilangan membuatmu menemukan diri sendiri yang selama ini hilang dan kau akan berubah.

*Doddy Rakhmat
22.05.2016

Minggu, 03 April 2016

RADIO KECIL : Puisi - Puisi Beda Frekuensi

PRE ORDER EKSKLUSIF
3 April 2016 - 3 Mei 2016

ebook Radio Kecil : Puisi- Puisi Beda Frekuensi karya Doddy Rakhmat bertutur tentang 50 puisi perihal manusia memandang semesta.

'Mari kita rayakan tentang sebuah pergi
Menggugurkan rindu yang tersimpan dalam hati
Tak perlu lama waktu berputar jika hanya saling menyakiti'

'Aku adalah gempa yang kau ciptakan manakala hati berdebar, menapaki jalan membawa segenggam rindu di tangan.'

******
Pemesanan silahkan hubungi kontak berikut 085319670016 (SMS/WA)

Format pemesanan : RK_Nama_Alamat email lengkap.

Harga hanya Rp 15.000. Pembayaran bisa melalui pulsa atau transfer rekening Bank Mandiri a.n Doddy Rakhmat 900-000-513-092-8

Kami akan mengirimkan ebook beserta kata kunci untuk membuka filenya ke alamat email pemesan setelah mendapat konfirmasi transfer bank atau pengiriman pulsa ke no.kontak tersedia.

Senin, 28 Maret 2016

Tuhan dan Pacar

'Tuhan dan Pacar'

Tuhan dan Pacarmu itu berbeda
Untuk apa mendewakan waktu kepada orang yang belum tentu jodohmu?

Tuhan dan Pacarmu itu berbeda
Pacarmu dicuekin sedikit bilang tak peka
Tuhan selalu peka walau Dia dicuekin

Tuhan dan pacarmu itu berbeda
Tuhan penyedia jodoh
Dan pacarmu bisa jadi perebut jodoh orang lain

Tuhan dan pacarmu itu berbeda
Kalau putus, jadi mantan pacar
Putus sama Tuhan? Apa ada Mantan Tuhan?

*Doddy R

#Hari28 #1hari1puisi