Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Maret 2017

Residu Kehilangan

Jalanan sehabis hujan menyisakan genangan-genangan kecil yang harus kulalui penuh hati-hati.  Malam itu aku tidak berniat langsung pulang ke rumah. Dan aku memilih singgah di sebuah minimarket. Hanya untuk membeli segelas cokelat hangat instan. Kursi-kursi di depan minimarket itu kosong dan sedikit basah karena tempias air hujan. Aku menyekanya perlahan. Duduk dan memandangi uap dari cokelat hangat yang masih meliuk-liuk di atas gelas.

Tidak ada keramaian di jalan, lengang, karena sudah beranjak larut malam. Aku menenggak tegukan pertama, sekujur tubuh menghangat. Jaket parka yang kukenakan tidak cukup tebal menahan dingin saat itu.

Aku kembali memeriksa telepon pintar. Tidak ada balasan darimu. Mungkin lebih tepatnya tidak ada niat untuk membalas. Karena aku tahu kau sudah membacanya.

"Apakah kau sedang dekat dengan seseorang belakangan ini?"

Begitu pertanyaanku yang seharusnya tidak terlalu sulit kau jawab. Aku mengaduk gelas, mengacaukan residu yang mengendap di dasarnya. Seperti aku yang tiba-tiba hadir lagi di kehidupanmu yang mungkin saja tidak ada ruang untuk namaku di sana.

Entah kenapa aku masih merasa berdebar-debar menunggu jawabanmu. Padahal kita sama-sama tahu, bahwa tidak ada lagi hal yang bisa menghubungkan kita satu sama lain. Hujan di bulan Februari adalah saksi bagaimana kita masing-masing mengambil jarak. Apakah kita pernah bertengkar sebelumnya? Tidak pernah, kan? Lantas aku masih heran dengan keputusan yang kita buat.

Lalu aku menceritakan apa yang terjadi di antara kita kepada temanku. "Bagaimana kamu masih mencintai dia bahkan kalian tidak ada berkomunikasi lagi setelah sekian lama?" Ia bertanya.

Aku hanya diam. Dan dalam hati aku masih yakin, bahwa cinta tidak butuh banyak alasan. Aku percaya kita akan berjodoh. Tapi aku juga takut. Apakah ada seseorang yang berada di dekatmu? Maka aku putuskan untuk mengirimkan pertanyaan itu kepadamu.

Dan aku masih menunggu. Mataku mulai lelah. Aku bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku tidak tenang. Belum jua kuterima balasanmu. Ah, mungkin kau sudah tidur. Tapi mengapa kau sudah membacanya?

Apakah kita memang tercipta hanya untuk menjadi residu kehilangan? Sisa-sisa harapan yang kemudian ingin bersatu kembali?

(Doddy Rakhmat)
03.03.2017

Sabtu, 09 Januari 2016

Story Blog Tour : Ketika Rindu Memanggil

Aku harus pulang. Walau sepertinya aku merasa kalah sebelum bertarung. Aku tetap rindu pada Jasmine. Dia telah mencuri pikiran dan perasaanku bertahun-tahun. Ini saatnya aku mengambilnya kembali.

Tidak ada yang bisa melawan rindu, selain temu.

*****
Kepulanganku ke tanah air bukan berarti tanpa alasan, Ganen dua minggu lagi akan menikah. Walau dia lebih muda dariku, aku mengakui 'kejantanannya' untuk meminang perempuan.

Aku menyelipkan boarding pass di antara lembaran buku. Roda-roda koper beradu dengan lantai, sahut menyahut dengan suara dari bagian informasi, dan ketukan-ketukan sepatu yang tidak sabar menjadi lagu rutin sebuah bandara.

"Elo mau minum apa?" Ganen menyikut bahuku.

"Maybe, coffee."

"Yakin lo mau minum kopi kak, lo kudu minum yang manis-manis pas momen agak pahit gini. Suntuk ngeliatin muka murung lo dari tadi."

Aku tidak menjawab, mengangguk lantas tertawa kecil. Mata dan pikiranku sedang menekuri buku puisi penyair favoritku. Aku meminta Ganen membelinya di Indonesia sebelum menjemputku kemari.

Keriuhan bandara sama sekali tidak terdengar, sayup-sayup tenggelam di antara suara -suara yang muncul dalam diri, memicu kembali jawaban dari ayah Jasmine. Ia mengulang-ulangnya bagai kaset kusut. Aku tak bisa menahannya. Suara-suara hati kecil, suara-suara yang paling pertama didengarkan manusia. Tidak semudah menutup telinga, lalu kemudian tak mendengar apa-apa.

*****

Berulang-ulang pengeras suara mengumumkan pesawat kami siap mengangkasa. Jerman telah mengecil dari pandangan, jauh tertinggal di bawah awan-awan berlapis. Sebentar lagi kita bertemu, sebentar lagi.

*****

Selamat datang di Kota Jakarta. Masih satu jam perjalanan menuju tempat kelahiranku, Bogor. Hujan menjatuhkan dirinya dari langit. Ganen sibuk berbincang-berbincang dengan calon istrinya. Semudah itu. Mengapa aku harus menuliskannya di atas kertas, menunggu lama untuk balasan. Berkirim surat kurasa salah satu cara untuk menjaga rindu pada tempatnya.

****
Bogor.

Rumah berlantai dua di ujung gang tidak banyak perubahan. Hanya ada cat yang mengelupas di sisi-sisi bingkai jendela.  Saat membuka pintu rumah setelah bertahun lamanya aku tak berdiri didepannya, yang kudapati ialah seorang gadis yang senyumnya membuat dunia lebih berwarna, sorot matanya yang menikam hati dalam-dalam, aku telah melawan rindu dengan sebuah temu. Mama yang duduk disampingnya berlari riang ke arahku.

Mama menyambut dengan mata berkaca-kaca, haru melihat kedatanganku. Mendekap erat kami berdua. Ia mengacak-acak rambutku dan Ganen.

"Ar, kamu masih ingat sama Alena kan?" ujar Mama seraya mengubah pandangan ke gadis berkerudung cokelat muda.

Aku mengangguk.

Ternyata bukan kamu, Jasmine. Bukan. Aku rasa rinduku telah keliru menjumpai tuannya.

*******

CATATAN :

Ini adalah Challenge menulis OWOP, temanya STORY BLOG TOUR. Di mana member lain yang sudah diberi urutan melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.

Saya Doddy Rakhmat mendapat giliran kelima. Biar ceritanya nyambung, kamu harus baca episode sebelumnya.

Episode 1 : Surat yang Tertahan di Dasar Hati – Nadhira Arini
Episode 2 : Rahasia Jasmine – Debby Theresia
Episode 3 : Dialog – Tutut Laraswati
Episode 4 : Jodoh Untuk Jasmine – Saidahumaira
Episode 5 : Ketika Rindu Memanggil - Doddy Rakhmat
Episode 6 : Lilis Nurmalasari (coming soon)

Silahkan mampir ke blog Uni Lilis untuk tahu kelanjutan ceritanya ya :)

Stop Wishing, Start Writing
www.oneweekonepaper.com

Selasa, 05 Januari 2016

Sebuah Pertemuan Untuk Selamanya

Hai.

Tiga huruf itu yang berani aku kirimkan setelah setahun menghilang dari peredaranmu. Dan aku menunggu apakah ada jawaban atas satu sapa yang telah lama tak terucap.

Satu hari, dua minggu, dan sebelum aku pasrah, kamu membalasnya. Dengan lima huruf.

Hai jg.

Dua kata yang membuat segala penantianku lebih dari cukup, menggugurkan sia-sia dalam menunggu. Lalu aku memberanikan diri untuk mengajakmu bertemu, dan kamu mengiyakan.

Akhirnya kita berdua bertemu, di tempat kita memutuskan berpisah, masih melekat dalam pikiran,  pipimu yang basah karena tangis.

"Apa kabarmu?"

"Baik." jawabmu tenang.

Kita berdua mengenakan pakaian warna sama dan juga memesan minuman yang sama, tanpa rencana sebelumnya. Aku tertawa konyol, begitupun kamu. Seakan masih ada ikatan di antara kita.

"Tempat ini tidak banyak berubah, tapi orang-orang yang mengunjunginya selalu silih berganti. Membawa cerita dan masalah yang berbeda, dan semua mereka curahkan di ruangan ini."

"Sama seperti kita, dulu. Padahal semua yang indah bermula dari sesuatu yang sederhana kan?" katamu diakhiri dengan tawa kecil.

Sederhana, tempat ini memang telah mempertemukan, memisahkan dan memberikan kesempatan kembali untuk bertemu. Aku tidak pernah lupa perjumpaan kita pertama kali, aku menawarkan diri untuk duduk di depanmu, karena kursi yang lain penuh. Mungkin itulah yang kusebut sebagai takdir. Dan kita berbicara banyak tentang kehidupan, lalu semua merasa nyaman dan akhirnya membangun sebuah hubungan. Ikatan.

Dari arah pintu datang seorang pria menggendong gadis kecil yang memiliki mata indah sepertimu, hidungnya pun begitu. Tingkahnya menggemaskan dan lucu. Kemudian ia pindah ke dalam pelukanmu. Aku tersadar dari lamunan.

"Kenalin ini suami aku, dan si mungil ini puteriku." ujarmu dengan wajah gembira.

Aku tidak seharusnya mengajakmu bertemu di tempat yang menyimpan begitu banyak luka. Hei lihatlah, sekarang kamu mempunyai seorang pendamping yang begitu setia disampingmu. Dan juga seorang gadis kecil yang terus membuatmu tersenyum.

Aku telah memberikan luka yang dapat kau lalui dengan sempurna. Sedangkan aku masih terperangkap kesalahan masa lalu. Salah satu alasan aku ingin bertemu denganmu adalah meminta maaf dan juga bertanya apakah aku bisa memperbaiki kesalahanku. Tapi semua memang sudah berlalu. Aku menyadari, Ini adalah sebuah pertemuan kita untuk selamanya.

"Aku minta maaf."

Kamu hanya mengangguk. Dan aku menerabas hujan yang sedang turun deras-derasnya.

~Doddy Rakhmat
05.01.2016

Cerita sebelumnya dapat dibaca di

Sepasang Kekasih Yang Sibuk Mengurai Luka http://tututlaraswati03.blogspot.com/2016/01/sepasang-kekasih-yang-sibuk-mengurai.html

Kamis, 31 Desember 2015

Selamat Tahun Lama!

Tahun akan segera berganti, aku memandangi foto-foto dari sebuah folder yang tersimpan di laptop. Judulnya 'kita'. Begitu banyak gambar diri yang kita ambil bersama, di tempat yang kita rencanakan setiap tahunnya untuk menghabiskan pergantian masehi.

Kamu tidak suka kembang api, aku tahu saat tahun pertama kita berkenalan. Dimana aku membawamu ke sebuah festival kembang api. Kamu malah mengajak pergi. Bagimu itu hanya kebahagiaan semu. Masih banyak hal yang bisa dinikmati sampai kapanpun kita mau. Akhirnya kamu mengajakku pergi ke danau. Langit malam yang dipenuhi titik bintang. Hanya kita berdua. Padahal aku takut gelap. Namun dirimu tetap bersikukuh mengajak.

"Daripada menikmati kembang api, lebih baik menikmati bintang yang bisa kita lihat berlama-lama." katamu seraya bersandar di badanku.

"Rasanya baru kemarin kita merayakan tahun baru, malam ini di tempat yang sama kita masih belum berubah, hanya sepasang kekasih yang tidak seutuhnya memiliki muara" katamu lagi.

Aku hanya tersenyum.

****

Aku begitu bersemangat ingin berjumpa denganmu, merayakan kembali agenda tahunan bersama. Sebentar lagi malam lama akan berganti malam baru. Aku mendatangimu di tengah keramaian, matamu berbinar, ada harap dan juga rindu yang terpancar. Tepat denting jam menyelesaikan tugasnya detiknya tahun ini, aku mendekapmu erat, mencium pipimu yang basah karena tangis bahagia. Tetapi aku sadar, bahwa bukan aku yang memberikan semua itu. Ada orang lain yang telah menggantikan. Jangankan menyentuh, menyebutkan namamu pun tak sanggup. Kita sudah berbeda dimensi.

Aku menunggui jasad yang jauh dari tempat kamu berdiri dengannya sekarang. Jasadku sendiri. Sebuket bunga krisan terperangkap kaku dalam genggaman. Yang kurencanakan menjadi sebuah kejutan. Ternyata Tuhan punya jawaban untuk menjawab rasa penasaranku, sekarang aku tahu dirimu yang sebenarnya. Orang-orang terlalu larut dalam euforia, sampai mereka terlupa bahwa ada orang yang sedari tadi berjuang keluar dari arus sungai. Jembatan gantung yang kulalui putus. Aku terlalu bersemangat, hingga berlari di atasnya. Padahal sudah ada peringatan agar dilarang lari atau melompat-lompat di atasnya. Tentu kamu tahu, aku tak pandai berenang.

Sungguh aku merasa terlahir kembali. Terlahir kembali. Terlahir dan kembali.

Selamat tahun lama, cinta.

~Doddy R
31.12.2015

Minggu, 20 Desember 2015

My Lady, My Anti Fan

Akhir pekan lalu, penerbit bukuku yang terbaru mengadakan acara launching di tempat yang spesial. Mereka mengadakannya di pantai, mengusung konsep pesta bahari, segala makanannya dari hasil kekayaan laut.

Aku berdiri seraya menikmati udang goreng yang diberi saus mayones. Telponku tak berdering sedikitpun. Mungkin dia lupa, seperti biasanya.

Deburan ombak menghantam tepian pantai, karang-karang berdiri kokoh. Anggap saja kehadirannya seperti ombak, dan aku sebagai karang. Aku tak pernah letih menghadapinya. Kalau yang lain sibuk berfoto dengan buku, meminta tanda tangan, ia sungguh berbeda. Saat dalam sebuah talkshow aku pernah dikirim olehnya sebuah gambar. Bukuku dalam kondisi terbakar. Dengan tulisan pengantar, "Selamat buku barunya sudah terbit". Lucunya aku tidak marah dan membalasnya dengan ucapan terima kasih. Mengapa aku mencintai dirinya? Karena aku pikir dia membuatku mawas diri. Ketika yang lain sibuk memuji, dia sibuk mencaci. Seimbang. Dia melengkapi.

Semakin ia membenciku, maka semakin sukar melepaskannya. Entahlah, itu mungkin logika yang aneh dari seorang penulis.

Bagiku terlalu mudah rasanya bila jatuh cinta kepada orang yang jatuh cinta pula kepada kita, aku ingin tantangan. Kehadirannya sudah membuat hidup cukup berwarna.

Kling.

Teleponku bergetar, sebaris kalimat notifikasi muncul di layar. Pesan singkat darinya.

"Temui aku di tepi pantai."

Aku membalas, "Aku sedang menatapmu dari kejauhan."

"Bagaimana bisa?"

"Aku sedang di acara launching buku."

"Di pantai?"

"Ya."

Ia menoleh ke belakang bersamaan dengan lelaki di sampingnya, ia terlihat kikuk. Sang pria melambai seraya tersenyum.

Dia tidak pernah cerita kalau ada pria lain dalam hidupnya. Tapi aku sudah terlanjur menganggapnya kekasih, karena dia berbeda dari yang lain. Tapi aku tidak pernah tahu, apakah dia memiliki rasa yang sama padaku?

Mungkin benci adalah kata lain dari cinta, kurasa.

~Doddy Rakhmat

Kamis, 17 Desember 2015

Percakapan Selepas Senja

Ada sebuah percakapan antara wanita dan pria yang terpisah oleh jarak.

Pria : Aku berjanji akan menjaga dirimu selalu.

Wanita : Dengan apa kau menjagaku dari seberang pulau?

Pria : Dengan menjauh darimu.

Wanita : Bagaimana caranya bila dirimu jauh sedangkan aku begitu dekat dengan hal-hal yang berbahaya.

Pria : Pertama, aku adalah orang yang berbahaya. Berbahaya bila mendekati seseorang yang bukan muhrimnya.

Wanita : Lalu bagaimana jika ada lelaki yang mendekatiku di sini?

Pria : Aku akan menjagamu dalam doa-doa.

Wanita : Seandainya aku menerima ajakan menikah dari pria lain, bagaimana pendapatmu?

Pria : Kalau begitu, aku telah menjaga jodoh orang lain dengan baik.

Wanita : Aku inginnya itu kamu.

Pria : Bukankah jodoh adalah takdir terindah yang disimpan oleh Tuhan.

Wanita : Kalau begitu aku akan menunggu.

Pria : Sampai kapan?

Wanita : Sampai Tuhan memberitahukan rahasia terindahnya.

~Doddy R
17.12.2015

Mantel Terakhir

Angin-angin tepian danau menyapu para pengunjung. Hari beranjak malam, aku menyusuri danau seorang diri. Istriku sedang beristirahat di hotel. Ia terlalu lelah selepas berkeliling kota seharian penuh. Beberapa meter dariku seorang gadis kecil berambut keriting terbaring lemas. Beberapa orang hanya lalu lalang, tanpa menanyai keadaannya. Mungkin mereka terlalu sibuk, bisa jadi. Atau sudah mengalami kegagalan empati.

Aku mendekatinya, ia tak bergeming. Hanya menatap nanar kepadaku. Tanganku memegang dahinya. Astaga, panas. Dia pasti demam.

"Kemana orang tuamu, gadis kecil?"

Ia diam. Mulutnya hendak menjawab namun segera mengatup, seolah ada yang menahannya untuk berbicara.

"Badanmu panas. Biarkan aku membawamu pulang ke rumah."

Ia masih diam, kepalanya menggeleng. Perlahan ia berbicara.

"Aku menjual mantel terakhir peninggalan dari nenek. Semenjak itu Mama marah besar dan mengusirku dari rumah.

"Mengapa kamu menjualnya? Bukankah itu begitu berharga?"

"Mantel itu biasa saja. Yang membuatnya istimewa adalah warisan satu-satunya yang ditinggalkan oleh leluhur kami. Aku menjualnya untuk membeli obat untuk mama. Ia bersikeras untuk tidak meminum obat apapun. Selama Mama sakit kami tak memiliki uang. Ayah sudah pergi ditelan rimba. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan adalah mantel pemberian nenek."

Mendengar hal demikian, aku bergegas membawanya ke klinik terdekat. Membelikan obat untuknya sekaligus sang mama. Ia tidak banyak bertanya.

Di perjalanan menuju klinik, ia bercerita. Sang mama marah bukan karena ia menjual mantel pemberian sang nenek. Namun karena sang mama khawatir sudah masuk musim dingin, mantel itu lebih berharga untuk si gadis daripada obat-obatannya.

Setelah berobat, ia mengucapkan terima kasih. Gadis itu cukup manis bila tersenyum. Walau bibirnya masih kering, akibat menahan dingin.

"Akan selalu ada pengorbanan demi kebahagiaan seseorang, walaupun ia harus mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri."

~Doddy R
14.12.2015

Sabtu, 05 Desember 2015

Murai Murai

Murai Murai

Aku bagai murai
Di langit sepi
Mengarungi lepasnya angkasa
Bertahan dalam kesendirian

Aku bagai murai
Di tengah senyap
Mendekam dalam perih
Rindu sang kekasih

Aku bagai murai
Di taman rindu
Mencengkeram erat ranting
Seperti kenangan tentangmu

Aku bagai murai
Sendiri

~dr
05.12.2015

Minggu, 29 November 2015

Hujan Belum Usai

Kasih, Hujan yang kuhabiskan bersamamu ini belum lah usai. Masih ada hujan lainnya yang turun dari langit. Seperti rasa rindu yang menggebu-gebu, bertubi-tubi menyerang hati.

Kasih, ingatlah bahwa setelah hujan akan selalu ada pelangi yang menghiasi. Begitupun kesedihan, tak usah berlama-lama bermukim dalam muram durja. Karena aku selalu ada, menemani hingga bahagia.

~dr

Minggu, 22 November 2015

Fallen Star

Aku tidak percaya kepada keberuntungan. Bagiku itu hanyalah sebuah kepasrahan kepada hal yang tidak pasti. Dan mungkin, Doni adalah semacam keberuntungan bagiku. Siapa yang tidak mengenali penyanyi yang sedang menggelar karpet kesuksesannya belakangan ini. Seorang Doni tidak akan pernah melupakan Re, melupakan aku.

****

Siang mengembus angin panas. Terik sinar menjalar ke permukaan bumi. Dari semua yang pernah saya alami, ini mungkin paling parah. Menunggu Re berdandan, alangkah lama dunia berputar. Konser solo memasuki H-2, rencana hari ini kami akan pergi berkencan, kali ini ia tidak ikut dalam acara saya. Karena lokasinya terlalu jauh di luar kota. Saya melihat jam dinding sekali lagi, sudah hampir satu jam. Semoga saja masa menunggu ini tidak sia-sia.

****

Doni pasti sudah cukup kesal menungguiku berdandan, aku takut saja kalau ada paparazzi mengambil foto kami berdua. Setidaknya aku bisa tampil maksimal di depan kamera. Menjadi pasangan selebritis seolah tertular Star Syndrome.

Oke, semua sudah siap.

"Hai sayang, ayo berangkat."

****

Akhirnya, Re keluar juga dari rumahnya. Syukurlah, masa penantian saya berakhir. She look pretty, tonite.

Setelah menikmati jalanan kota Jakarta malam hari. Kami tiba di sebuah kedai wedang di tepian kota. Jauh dari hiruk pikuk, dan fans-fans yang kadang lupa diri.

"Aku mengajakmu ke sini untuk merayakan sesuatu."

Re meminum wedang jahe nya, seperti biasa. Menghirup aroma dalam-dalam, baru meneguk sedikit demi sedikit.

"Merayakan apa?"

"Merayakan hari rindu nasional."

Re tertawa.

"Baru pertama kali ini aku dengar ada hari merindu nasional. Siapa pencetusnya, kamu?"

Saya mengangguk. Re tersenyum

*****

Aku tahu, alasan Doni mengajakku malam ini. Dan ide gilanya menciptakan hari merindu nasional, terbilang unik. Aku tidak mau menyebutnya gombal. Karena ia sudah berusaha yang terbaik. Tapi aku selalu menunggu momen, dimana ia bersimpuh memegang sebuah cincin dan bertanya padaku "Will you marry me?" Just simple like that. But, when?

****

Entahlah apa yang di dalam pikiran Re, saya tak mau berprasangka. Ide hari merindu nasional di bulan November ini sudah lama saya persiapkan. Setidaknya pertemuan-pertemuan kami tidak membosankan. Dan beberapa hari lagi kami harus berpisah jauh,

"Gimana kamu mau merayakannya kan?"

"Tentu." Ia tersenyum walau terkesan memaksa.

****
Dan malam ini berakhir seperti biasanya. Nothing special, I guess. But pretending to be happy is more difficult now.

Mungkin Doni hanyalah The Fallen Star dalam kehidupanku. Ia seorang bintang yang telah jatuh hati padaku. Tidak lebih. Hadir hanya untuk memenuhi permintaanku, sama seperti bintang jatuh.

****
Saya tahu Re kecewa. Dan saya memang pasangan yang buruk. Saya selalu bertanya, apakah saya belum siap menjalani komitmen setelah menikah? Atau dunia penuh pujian ini telah menutup segala keberanianku?

****
Keesokan paginya.
'Headline news : Doni, musisi pendatang baru membuat press release bahwa ia akan keluar dari kancah permusikan indonesia'

****
Will you marry me, Re?

~Doddy Rakhmat
22.11.2015

Sabtu, 24 Oktober 2015

Pilihan Terakhir

Pernahkah kita bertanya, mengapa kita bisa dipertemukan? Pada awalnya kita hanyalah orang asing, tak saling mengenal.
Pernahkah kita bertanya, mengapa kita bisa duduk bersama, di sebuah tempat yang disebut pelaminan? Aku yang selalu bersabar di kala kerabat mulai melepas masa lajangnya, dan mulai bertanya padaku. Kapan menikah?

Rabu, 21 Oktober 2015

INTRO

'INTRO'

Kosong, tidak ada satu pun lagu di dalam ponsel maupun komputerku. Kalian tak perlu heran.  Aku memang tak menyukai musik. Namun sejak bertemu dengannya, aku belajar mencintai apa yang tidak kusukai.

"Lala!"

Seseorang meneriakkan namaku di tengah riuhnya Terminal Baranangsiang. Dari jauh, sesosok pria menggendong gitar di punggungnya. Berkali-kali, ia harus meminta maaf karena tak sengaja menyenggol, penumpang lain yang hilir mudik. Apalagi direpotkan dengan bawaannya.

"Akhirnya, kesampaian juga datang ke kota Hujan."

"Welcome to the roti unyil home" ujarnya berlagak menyambut turis. Aku tertawa, begitupun dirinya.

Hujan memang tak pernah meminta izin untuk turun, seperti sore itu. Baru beberapa puluh menit yang lalu datang, aku benar-benar diterima kota Hujan dengan baik.

Kami berlarian mencari tempat berteduh, Adie tak membiarkanku kebasahan. Ia mengangkat tas gitarnya untuk melindungi kami berdua dari guyura hujan. Ia mengajakku ke sebuah warung soto tak jauh dari terminal.

"Kamu dari Bandung belum makan kan?"

Aku menggeleng malu-malu. Beberapa orang juga menunggu di teras warung. Adie menarik lenganku. Kami melangkah masuk warung. Hidungku bersekutu dengan perut, menghirup aroma dari kepulan kuah soto yang menggugah selera.

"Ya sudah kita makan aja sekalian. Belum pernah nyoba soto kuning bogor kan?"

"Wah jadi gak enak, ngerepotin kamu, Die."

"No, I'm not." jawabnya sambil berlalu. Datar, tak berubah sejak dulu kalau menyikapi basa-basi.

Kami memilih meja dekat jendela, lampu warung temaram. Setidaknya ada cahaya dari luar dan pemandangan kota Hujan yang bisa kami nikmati. Mobil-mobil angkot yang berhenti mencari penumpang, suara peluit dari pengatur lalu lintas, dan juga tukang gorengan yang bersedekap di bawah payung tempat jualannya.

"Kamu jadi mau ambil penelitian di sini?" tanya Adie seraya mengaduk mangkuk sotonya.

"Jadi dong, nanti aku minta bantuan kamu ya. Nunjukin jalan di sini. Aku belum hafal, takut kesasar."

"Kan ada Google Maps, hehehe." candanya. Ya Tuhan, tawanya lebih renyah daripada bawang goreng yang jadi garnis soto dihadapanku.

Aku memukul pelan pundaknya. Ia berpura-pura mengaduh kesakitan. Oh, iya kalian pasti belum tahu siapa Adie. Dia tetanggaku saat di Bandung. Tapi ia pindah saat kami sudah SMA. Dia kembali ke kota kelahirannya. Bogor. Mengikuti Ayahnya yang dipindah tugaskan. Kami sudah sering belajar dan bermain bersama, mengelilingi setiap sudut kota parahyangan. Walau selalu berujung kemarahan oleh kedua orang tua kami

Lagu-lagu pop dari pengeras suara warung mengiringi percakapan. Adie menatap ke arahku, aku seolah tahu apa yang mau dikatakannya.

"Masih gak suka musik?"

Benar, tidak salah lagi tebakanku. Aku mengiyakan, suapan terakhir soto kuning pertama. Kandas. Tak tersisa. Segan aku untuk menambah, tengsin. Masa perempuan makannya banyak.

"Berarti kamu masih termasuk gadis langka." ujarnya.

"Kenapa begitu?"

Adie menyuapkan sendok terakhir. Membersihkan mulut dengan tisue ”makan. Ia lalu menjawab.

"Jelas langka. Di zaman iTunes, Dahsyat, Billboard seperti ini masih ada yang nggak suka musik."

Aku tertawa, tak sadar menimpuknya dengan tisu bekasku. Buru-buru minta maaf, ia malah balik tertawa.

"Ah mungkin sudah bawaan dalam gen ku, Die."

"Cepat atau lambat, kamu harus belajar menyukai apa yang kamu nggam sukai. Karena begitulah kehidupan sekarang ini, kita nggak pernah tahu ternyata dari hal yang tidak suka justru memberi manfaat lebih." Ia menjelaskan.

"Oke mas gitaris, berarti sudah suka sayur dong?" Aku menggoda balik bertanya.

Adie melihatkan mangkuk sotonya yang kandas. Aku paham. Itu artinya dia mau tambah. Bercanda, maksudnya dia sudah mau makan sayur. Kalau dulu, lihat timun di atas nasi goreng saja langsung di buang. Anti sayur banget lah.

Hujan telah reda. Aku meminta Adie mengantarkan ke tempat kos dimana aku harus tinggal selama sebulan untuk penelitian. Baru kali ini aku naik angkot di Bogor, tentu saja Adie kerepotan membawa tas gitarnya yang super besar itu ke dalam angkot.

"Kumaha yeu, nanti penumpang lain gak bisa masuk." ujar supir angkot sedikit kesal.

"Nanti saya bayar double kang, santai wae." sahut Adie.

Sesampai di kos yang terletak di sebuah komplek perumahan asri. Jalanan masih basah, malam belum terlalu larut. Adie tampak letih membawa tasgitarnya, jalan yang dilalui cukup terjal. Karena kontur daerah Bogor adalah pegunungan.

Aku menawarinya untuk singgah. Tapi dia menolak, gak baik main ke tempat perempuan malam-malam, ujarnya.

Dua minggu berjalan, penelitianku tentang kualitas air bersih di perkampungan warga sudah mulai menunjukkan kemajuan. Data-data sudah terkumpul. Tak jauh beda dari Bandung, di Bogor penduduknya juga ramah-ramah. Apalagi masih satu bahasa, jadi lebih akrab bawaannya.

Ponsel berdering, panggilan masuk dari Adie. Aku bergegas mengangkat meninggalkan sejenak kuisioner-kuisioner yang sedang kuperiksa.

"La, nanti kamu datang ke Taman Kencana ya. Kamu sudah tahu tempatnya kan?"

"Iya aku tahu."

"Apa mau dijemput?"

"Nggak usah. Emang disana ada acara apa, Die?"

"Acara manggung kecil-kecilan sih. Dari komunitasku. Seru deh."

Malampun datang, aku berdiri di depan kerumunan menghadap stage. Di tengah  panggung, Adie duduk hanya disorot lampu dari atas. Lampu lain dimatikan. Lalu ia mulai memetik gitar kesayangannya. Menyanyikan sebuah lagu dari Michael Buble. Home. Baru saja aku melihat video klipnya di tivi.

Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home..

Suaranya Adie begitu lembut tak jauh dari penyanyi Aslinya apalagi diiringi kepiawaiannya memetik senar gitar. Selesai penampilan, Adie mengajakku duduk di salah satu bangku taman. Ia membersihkannya sebelum aku duduk.

"Gimana penampilanku tadi?"

"Seperti biasanya"Aku mengacungkan dua jempol.

"Hai, Die!" Seorang wanita berparas ayu bak artis papan atas mengarah ke tempat kami, melambaikan tangannya. Mendadak, aku sedang dikhianati oleh ketidaktahuanku. Siapa dia? Tiba-tiba dia mencium pipi Adie mesra. Diam-diam ada gemuruh di dalam hati. Aku cemburu. Tapi kenapa aku cemburu?

"Hei kalian lagi kencan ya?" tanya lagi. Aku tersadar. Astaga, itu hanya lamunanku. Beruntunglah, Ya Tuhan kamu masih melindungi Adie dari godaan wanita lain, batinku.

"Eh, Amel. Long time no see. Sudah jadi artis ya sekarang." ujar Adie.

"Ah biasa saja. Oh iya ini siapa ya?" ujarnya sambil menoleh ke arahku.

"Kalian belum kenalan ya. Lala, ini Amel. Amel, ini Lala."

Aku setengah tak percaya, dihadapanku berdiri seorang aktris ternama negeri. Dan dia mengenal Adie. Luar biasa.
Ia mengulurkan tangan, aku terima seolah takut mengotori tangannya.

"Kamu ngapain ke sini, Mel?"

"Aku iseng aja. Mau survey lokasi buat syuting nanti. Eh, ketemu kamu deh, Die. Aku sempat lihat kamu tampil. Keren. Kenapa ga ke dapur rekaman aja sih?"

"Aku takut jadi Artis. Takut terkenal. Lagipula aku sukanya di dapur kosan. Banyak makanan" canda Adie. Disusul tawa Amel. Ia izin pamit karena dipanggil seorang laki-laki, kurasa sang manager.

Aku menggenggam erat tanganku sendiri karena kedinginan. Tiba-tiba tubuhku terasa hangat, jaket Adie telah berpindah tempat. Ia melepaskannya

"Kamu nanti masuk angin, Die."

"Gak apa-apa, ada si Jojo yang ngerokin kok. Kalau kamu kan jauh ga ada yang ngerawat kalau sakit.

"Kan ada kamu." Aku keceplosan.

Suasana canggung cukup lama.

Lalu ia memecah kebekuan.

"Ada sesuatu yang harus aku omongin malam ini ke kamu, La."

"Iya." Aku bertanya-tanya dalam hati.

"Ibarat intro dalam lagu yang kumainkan. Kamu, ialah awal dari perjalananku yang panjang."

"M-maksudnya?" tanyaku tergagap.

"Karena kamu, La. Aku tak mau berhenti bermain musik. Agar kamu menyukainya, bahwa di setiap lagu selalu ada makna yang ingin disampaikan. Dan lagu tadi, aku mainkan spesial untuk kamu. Kamu, adalah rumah dari perasaan cintaku. Yang selalu membuatku ingin cepat bertemu." jawab Adie mantap.

How cute, isn't? Jantung berdebar tak seperti biasanya. Ada yang melesak dalam diri. Ingin rasanya memeluk langsung. Sebelum aku berpikiran ke sana. Tanpa kusadari, Adie telah mengecup pipiku sekejap. Membuatku terpana cukup lama. Pipi terasa hangat.

Hujan perlahan mulai turun. Bukan dari langit tapi dalam hati. Aku tak sedih, kurasa ini hanyalah kebahagiaan tak terbendung. Meluap-luap tak tertampung.

Ia tersenyum, sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada cela di setiap lengkung tipis bibirnya.

Adie, aku berjanji. Aku tidak hanya menjadi intro, tapi juga menjadi lagu yang kau nyanyikan sepanjang hidupmu.

****

Doddy Rakhmat
20.10.2015

Karam

'Karam'
Ada delapan lembar foto berukuran kecil. Pas untuk di dompet, lalu kita sepakat membaginya sama setengah. Berjanji selalu menyimpannya. Sampai kapanpun, akan tersemat di sana.
Dan di danau inilah pertama kali berjumpa, aku memandangi kembali bergantian foto-foto kita berdua. Ada luka yang menyelinap hati. Tak terasa pipi membasah, beberapa penumpang menoleh. Cepat-cepat aku menyembunyikan wajah sedih.
Matahari membayang permukaan danau. Memecahnya menjadi kilau jingga. Sebentar lagi ia tumbang berganti bulan. Begitupun perahu yang mengantarku sekarang, tidak ada yang berani berkeliling danau di kala malam. Pikiranku melayang ke sebuah restoran seminggu yang lalu.
"Kita putus."
Dua kata yang teramat sakti, membuat sakit hati bagi para penerimanya. Bagai saklar yang mudah  dihidupmatikan, begitukah menurutmu?
Acapkali melihat foto kita yang tersenyum bahagia, tak pernah terlintas bila kau memberi luka padaku.
"Leo, bisakah kau jelaskan mengapa hubungan kita ini harus berakhir?"
Pemuda yang baru saja menyelesaikan gelar sarjana itu mengabaikan pandanganku. Titik air melukis jendela, hujan di luar sana. Juga hujan di dalam hati.
Tanpa memandangku, Kau malah menjawab dingin, "Aku harus pergi ke luar negeri, Patira."
Aku terhenyak, bukan alasan yang cukup menyudahi hubungan delapan tahun lamanya. Tak penting hadiah atau benda yang kami saling berikan, namun waktu. Ya, dua insan yang telah saling mengasihi, akan rela mengorbankan waktunya untuk orang yang mereka cintai. Itu lebih berharga dari apapun. Akhir yang tak menyenangkan hanya menyisakan belati yang menancap di hati. Bahkan aku sendiri tak sanggup mencabutnya.
"Bukankah kita bisa menjalani hubungan jarak jauh?" tanyaku sekali lagi untuk meyakinkanmu.
Kau masih membuang wajah.
"Aku tak bisa."
"Kamu pasti bisa, Leo. Kamu hanya perlu percaya padaku."
Nada suaramu meninggi, "Aku tak mau disiksa oleh jarak."
Dirimu menggebrak meja. Pengunjung yang lain tentu saja terkejut. Kau melangkah pergi menerabas hujan. Membiarkanku sendirian, menangis tersedu tanpa sebuah kepastian jawaban.
Danau kala senja itu menjadi saksi bisu, aku telah mengaramkan kenangan tentangmu. Tentang kita. Empat foto itu pupus semakin jauh ke dasar danau. Dalam genggaman tanganku. Entahlah, apakah engkau masih menyimpan empat lembar lainnya di sana?
~Doddy Rakhmat
19.10.2015

Rabu, 30 September 2015

Lima Menit Selamanya

Telepon itu berdering.

Suasana gelap gulita dan gema pengeras suara dalam ruang bioskop menenggelamkan nada ponsel, tapi aku merasakan getaran. Aku mengeluarkannya dari saku celana.

Dari Mama.

Harus kuangkat, pasti penting. Selarut ini dia menelpon, tentunya bukan hal remeh temeh. Beberapa detik kemudian layar gelap. Proyektor dimatikan. Dua kali aku menonton di bioskop ini dan memang di setiap pertengahan film selalu ada jeda lima menit. Entah itu untuk mempersilahkan penonton ke kamar kecil atau kepentingan lainnya.

Aku punya waktu lima menit.

"Halo Zid."

"Halo, iya ma."

"Kamu sehat-sehat saja kan?"

"Sehat ma, mama belum tidur jam segini?"

"Mama tak bisa tidur. Bayangan Ayahmu selalu ada. Mama kesepian."

Orang yang duduk disampingku memasang sikap seolah ingin tahu pembicaraan yang berlangsung. Hei bung, dimana sopan santumu. Menguping sama saja dengan mencuri, umpatku dalam hati. Aku memelankan suara.

"Mama kan sedang bersama Ayah. Kenapa harus tak bisa tidur?"

"Kemana saja dirimu Nak, atau apa yang terjadi dalam hidupmu?"

"Apa maksud Mama? Aku tak paham."

Mama menghela nafasnya, "Ayahmu sudah tidak ada.

"Mama tahu kamu sedang menonton di bioskop. Melihat gambar dirinya di layar itu. Tapi terimalah Zidan, Ayahmu sudah tak ada. Kamu pulang ke rumah ya nak." Ujar Mama membujuk.

Empat menit tiga puluh detik.

"Mama sedang tidak bercanda kan, bagaimana mama tahu aku sedang di bioskop?"

"Nak, mama selalu mengkhawatirkan anak laki-laki yang setiap malam keluar, ke tempat yang sama, menonton film yang sama, hanya untuk mendengarkan suara dan gerak gerik Ayahnya di sebuah layar lebar. Dan kamu tidak sedang menonton sendirian kan?"

"Tidak ma, ramai sekali yang menonton disini."

"Sampai kapan kamu mau menyendiri Zidan, luka itu tidak akan sembuh bila dirasakan sendiri tanpa ada yang mengobati."

Lima menit tepat.

Aku termenung lama, suara Mama lamat-lamat menjauh. Ternyata layar dihadapanku sempurna gelap, lampu ruangan nyala sedari tadi. Tinggal aku sendirian. Ternyata aku tidak sedang menonton. Aku hanya sedang berdamai dengan kenyataan.

Kadang kita tidak serta merta menerima sebuah kenyataan dengan begitu mudah. Sakit, pedih, perih menyayat hati tak terperi. Tapi ingatlah pepatah lama, semua rasa sakit ada penawarnya. Penawar itu bagiku ialah memberikan perhatian untuk orang yang masih peduli dengan adanya kita. Kita tidak pernah benar-benar sendirian.

~doddy rakhmat
27.09.2015

Minggu, 20 September 2015

Dicari Tulang Rusuk Yang Hilang

DICARI TULANG RUSUK YANG HILANG. Tulisan besar di selebaran yang dibagi-bagikan seorang pemuda di pinggir jalan. Pakaiannya rapi mentereng, rambutnya klimis, sepatu mengkilat, kumis dan jambang tipis di wajah. Ia tidak banyak berbicara. Hanya membagikan selebaran warna warni itu ke orang-orang. Kepadaku salah satunya. Di atas selebaran itu tercetak nama dan kontak serta siluet seorang gadis. Tidak ada reward yang ditawarkan. Aku bergegas kembali dan menghampiri pemuda itu namanya. Nayan Ridho.

"Siapa yang membuat selebaran ini." Aku bertanya kepadanya.

"Aku."

"Benarkah? Kenapa?"

"Aku sudah terlalu lelah dicerca pertanyaan kapan menikah dari keluargaku. Lalu aku berinisiatif membuat selebaran ini. Siapa tahu bisa membantu."

"Menarik. Mengapa demikian?"

"Mungkin saja salah satu dari yang memberi sedikit perhatian pada selebaran itu bisa memberitahu sanak famili atau teman mereka."

Sebagian dari mereka yang lewat hanya sekadar menerima, membaca lalu membuangnya. Kurasa pupuslah sudah harapan dan angan pemuda itu. Ternyata tidak. Sesaat kemudian, Nayan berteriak kegirangan, seseorang menelponnya.

"Hey dude, aku baru saja mendapatkan telepon dari seorang wanita." Ia berteriak girang ingin didengarkan oleh orang-orang.

"Dan dia berkata dialah tulang rusuk yang selama ini aku cari."

Ia pergi menghambur selebarannya ke langit. Kertas warna warni itu jatuh perlahan dan menyisakan aku yang sedang berdiri dibaliknya.

Tiba-tiba aku juga terpikir, apakah aku harus mencoba cara yang sama untuk mendapatkan tulang rusukku yang hilang?

Kurasa mencari jodoh juga perlu dibarengi dengan ikhtiar, bukan hanya menunggu.

~doddy rakhmat
20.09.2015

Tak Selamanya Cantik

Selepas senja, aku berjalan sebentar di komplek Ayasofya Camii. Ini kali pertama kali aku mengunjungi tanah Turki. Ada suatu alasan yang mendorong langkahku untuk menyambangi kota yang identik dengan penganan kebab ini, tapi aku tak tahu apa.

Aku berhenti sejenak di kedai teh. Sekadar ingin tahu rasa teh di negeri ini. Menikmati riuh para turis dan warga yang hilir mudik. Berbicara dengan bahasa asing dari belahan dunia masing-masing.

Tiba-tiba, mataku tertumpu pada satu titik di seberang kedai teh tersebut. Seorang perempuan dengan garis wajah yang rupawan. Hidung mancung melancip. Bibir tipis. Dan rambut panjang berwarna hitam diikat rapi. Bajunya semacam rompi panjang yang warnanya lusuh.
Ia duduk bersimpuh. Menunggu belas kasih di sebuah mangkuk plastik.

Aku tertarik untuk mengenalnya. Apakah dia pengemis? Atau seorang artis yang sedang menjual paras menawan?

Kuberanikan diri mendekati perempuan yang umurnya sebaya denganku itu. Dia tersenyum.

"Can you speak english?" Tanyaku.

"Ya, a little bit." jawabnya. Kemudian aku mulai bertanya.

"Boleh tahu namamu siapa?"

"Aya, tuan."

"Sudah lama 'bekerja' disini?"

"Sudah."

"Mengapa kamu lebih memilih menjadi seperti ini? Bukankah kamu itu cantik?" Aku agak ragu saat mengatakan kata terakhir. Takut ia merasa risih seolah dirayu turis asing.

"Ternyata menjadi cantik hanya berakhir ke sebuah mangkuk plastik yang kupegangi setiap hari." Ujarnya.

"Andai saja dirimu pergi ke negara kami."

"Mengapa dengan negaramu? Cantik adalah segalanya. Cukup memasang sedikit pose, dipotret lalu mendapatkan uang."

"Tuan sedang membawa kamera bukan?"

"Eh, iya benar."

"Nah silahkan saja potret saya. Siapa tahu saya bisa mendapat sedikit uang dengan itu."

Lidahku kelu. Hati terasa Basah. Ingin rasanya kutumpahkan air mata saat perempuan itu berbicara demikian. Aku merasa dipukul balik dari ucapanku sebelumnya. Cepat-cepat aku mengalihkan pembicaraan.

"Bagaimana kalau hari ini kamu mengajakku berkeliling? Saya baru saja tiba. Dan belum mendapat tour guide?"

"Baiklah, tuan." Ia mengemas barang-barangnya ke dalam tas sandang. Badannya lebih tinggi sedikit daripadaku.

Aya mengajakku berkeliling malam itu. Ia menceritakan keluarganya dan kehidupannya. Ternyata ia adalah seorang yatim piatu. Keluarganya yang lain terlahir dengan kulit sawo matang, lalu menganggap Aya bukan bagian dari silsilah keluarganya. Ia pun sebenarnya tidak ingin menjadi pengemis. Menurutnya, mangkuk plastik yang ditunggui oleh seseorang berpakaian lusuh juga bisa mendatangkan uang. Banyak turis-turis yang mengajaknya berkeliling seperti ini. Tapi semuanya berakhir dengan tawaran-tawaran nakal.

"Mengapa kamu mau menemani saya berkeliling?"

"Saya rasa tuan bukan orang jahat." Jawabnya singkat.

Sebelun tengah malam, aku memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami berpisah di depan Ayasofya Camii, aku memberikan sejumlah uang atas tourguiding yang berkesan.

Satu hal yang aku pelajari malam itu.

"Kecantikan bukanlah alat untuk meraih segalanya. Karena ia bukan materi yang bisa dijual beli. Tak selamanya cantik itu perkara fisik."

Keesokan harinya aku mendatangi lagi tempat itu. Sudah tidak ada Aya disana. Tidak ada lagi perempuan dengan mangkuk plastik.

~doddy rakhmat
20.09.2015

Jumat, 18 September 2015

Negeri Bekicot

-Negeri Bekicot-
Namanya Lahap. Ia punya meja makan di atas ranjangnya. Tempat dia mendengkur pun disitu pula tempatnya mengunyah bubur. Pagi, siang, malam ia makan disana. Tidak perlu meja makan seperti orang normal punya.
Konon Lahap akan membuka Rumah Makan Ranjang pertama di negeri Bekicot. Negeri penuh orang lamban. Ia yakin usahanya akan laku keras. Ia tahu negeri yang penuh manusia-manusia tertinggal sejenak ke belakang ini pasti mengunjunginya. Bangun tidur, langsung menuju Rumah Makan Ranjang. Tak perlu lagi memasak di rumah. Semua tersedia di atas ranjang.
Tibalah hari pertama pembukaan rumah makan Ranjang, lusinan ranjang diatur posisi di sebuah ruko seperempat luas lapangan bola. Ranjang-ranjang itu dihiasi ornamen-ornamen klasik. Layaknya singgasana raja. Pelayan-pelayannya mengenakan baju piyama, mereka buka 24 jam. Kapanpun tamu datang mereka layani.
Suatu hari, mereka didatangi oleh saudagar kaya raya di negeri Bekicot. Namanya Sius. Ia memesan ranjang tingkat dewa. Tentunya karena banyak uang. Ia memesan beragam makan sekaligus untuk seorang diri.
Lahap menyamar menjadi pelayan malam itu.
"Tempat ini bagus. Siapa pemiliknya?"
"Aku."
Sius menatap remeh. Ia lalu menawarkan uang tak terhingga untuk membeli Rumah Makan Ranjang. Tapi Lahap menolak. Ia tak perlu banyak uang. Karena baginya sekumpulan uang bisa menjadi musuh. Menguasai diri.
Karena kesal, tak menerima, Sius membuat pernyataan bahwa ia akan membuat restoran Lahap bangkrut. Serakah hanya membutakan segala rasional. Lahap mempersilahkan, ia menerimanya secara jantan.
Berminggu kemudian, restoran Lahap tutup. Bukan karena bangkrut. Tapi karena Sius diangkat menjadi penguasa negeri Bekicot. Ia memerintahkan semuanya untuk beraktivitas di Ranjang.
Kini jalanan negeri Bekicot lengang pun gedung-gedung perkantoran, gedung anggota dewannya. Karena mereka semua makan, tidur, bercinta, bekerja , rapat cukup di atas ranjang. Jadi tak perlu lagi mereka tidur di meja rapat. Yang mereka perlukan hanyalah ranjang.
Hanya di Bekicot, negeri manusia lamban. Ranjang adalah segalanya.
~doddy rakhmat
17.09.2015

Ada Burung Dalam Pikiran

Ada Burung Dalam Pikiran
Kepakan sayapnya terburu-buru, terbang tak beratur. Kurasa ia buta. Seekor burung ringkih beterbangan dalam pikiran.  Mengusirnya bukan pilihan. Ia hanya terus terbang berpindah-pindah, menabrak dinding-dinding, tanpa mau tahu jalan keluar walau ia sudah tahu. Ia rela tersesat demi hanya untuk terbang bebas.
Mengurung diri dalam jeruji. Tidak nafsu melihat pintu terbuka. Sesekali pemburu berhasil menjeratnya, terluka, kemudian ia terbang ke pikiran yang lain. Dan menyembuhkan luka disana. Lalu beterbangan lagi. Begitu seterusnya sampai ia lelah. Butuh sangkar untuk mengistirahatkan acara terbang bebasnya.
Tak semudah yang dipikirkan. Di dalam perjalanan ia letih. Mendarat di tanah, ia mulai kehilangan arah. Ia rindu terbang dalam pikiran. Ia rindu dihalau. Ia rindu dikejar. Tapi ia tak rela terluka.
Siapapun. Cepat atau lambat, pikiran kalian akan dihinggapi burung ini. Membuat insomnia siang dan malam. Ini bukan burung biasa, perihal ini yang disebut dengan cinta.
~doddy rakhmat
17.09.2015

Rabu, 09 September 2015

Ajari Aku Jatuh Cinta (Lagi)

Cinta adalah sebentuk multitafsir. Setiap orang menerjemahkannya dengan definisi berbeda-beda. Ada yang bilang cinta itu tentang memiliki. Pengorbanan. Ada juga yang menyebutnya luka. Mungkin cinta dipengaruhi oleh masa lalu. Apa yang pernah ia alami dan rasakan.
Pukul jam 11 malam, aku disambut oleh rumah yang gelap. Hanya ada makanan tadi siang yang tak sempat kusantap di atas meja. Aku merebahkan diri di atas kasur. Satu hari lagi terlewati. Satu hari sendiri. Lagi.
Kadang saat sendiri orang-orang sepertiku memahami bagaimana cara mencintai diri sebelum mencintai orang lain. Sejujurnya aku ingin jatuh cinta. Lagi. Tapi aku betul-betul belum siap untuk terluka kembali.
Baru kuselesaikan salah satu buku yang kubeli saat di kota tadi. Entahlah cara membunuh waktu yang paling kusukai adalah dengan membaca. Sejak setahun silam aku mulai mengumpulkan buku-buku yang hanya satu kali aku baca. Setelahnya mereka tersusun di lemari kaca. Sebuah catatan kecil aku temukan di salah satu buku pemberian seorang wanita yang ku tak tahu parasnya. Saat itu aku duduk di bangku taman. Wanita itu tiba-tiba melemparkan ke pangkuanku sebuah bungkusan rapi. Ia bergegas pergi dengan sepeda.
Aku membukanya sampai di rumah. Menyadari buku ith seolah ditulis olehnya. Dan entah mengapa aku merasa jatuh cinta. Kepada orang yang tak kukenal. Tapi aku mengenal baik dirinya dari buku yang diberikan.
Karena itulah setiap sore sebelum pulang ke rumah, aku menyempatkan singgah ke taman. Menunggu. Berharap ia akan kembali. Nihil. Namun hari ini, aku tak sempat menungguinya. Karena ada pekerjaan tambahan di kantor. Ya hanya menunggu. Bagiku cinta adalah menunggu. Sesederhana itu.
Aku memeriksa setiap toko buku. Berharap menemukan informasi tentang si penulis buku yang kubawa selalu kemana-mana itu. Tapi tidak ada satu pun yang mengetahui. Betapa asing dan misteriusnya wanita itu membuat aku semakin ingin tahu.
Lalu aku temukan titimangsa di salah satu tulisannya. Tertulis alamat dan tanggal ia menyelesaikan bukunya itu. Baru kali ini ada penulis menuliskan alamatnya dalam buku. Heran juga setelah sekian lama aku baru menyadari. Dan saat aku baca.  Astaga ternyata, alamat itu tepat di seberang jalan rumahku. Aku mengenalnya. Ya aku mengenalnya.
Lalu aku membuka tirai jendela melihat ke seberang jalan. Ia ada disana. Sedang duduk di teras rumah. Dan melemparkan senyum ke arahku.
Baginya cinta adalah menunggu. Dan bagiku cinta adalah mencari. Terima kasih telah mengajariku jatuh cinta (lagi).
~doddy rakhmat
09.09.2015

Senin, 07 September 2015

Aku Yang Dinikahkan

'Aku Yang Dinikahkan'

Warung kopi, sebuah kafe di tengah kota. Menghabiskan obrolan tak berguna antara aku dan Roy dari masa sekolah sampai kerja.

"Ah gila kali kau Jo. Zaman sudah android masih aja dinikahin. Sebegitu parahkah kehidupan cinta kau?"

"Sial kau Roy. Mana mungkin aku mau dinikahkan, palingan aku kabur."

"Tak yakin aku kau berani melawan Ayah kau itu."

Aku terdiam. Benar apa yang dibilang Roy, aku tak akan pernah berani menentang apa yang dikatakan Ayah. Melawan berarti durhaka. Pantang aku mematahkan keputusannya. Tapi kali ini aku berpikir dua kali. Apa kata orang seorang pejantan dari tanah sumatera seperti ku dinikahkan dengan seorang gadis konglomerat yang fisiknya , jauh dari apa yang aku idamkan.

"Heh, melamun aja kau. Udah lupakan acara perjodohan itu."

Kami melanjutkan permainan menghitung mobil lewat.

Aku pulang belum terlalu larut. Ayah duduk di ruang bacanya. Menyambut kedatanganku. Buku bacaannya ia tutup. Tebalnya cukup membuat bengkak muka jika dilemparkan.

"Dari warung kopi itu lagi Jo?"

"Iya yah."

"Duduk dulu, ada yang mau Ayah bicarakan."

Pasti tentang perkara pernikahan lagi, pikirku. Aku menghempaskan badan ke sofa. Ayah mulai membuka pembicaraan seriusnya.

"Apa kau sudah siap dinikahi oleh Siska, Jo?"

"Ehm, iya yah." Jawabku setengah hati.

"Sebetulnya ini adalah impian dari dulu Jo. Aku ingin sekali anak-anak Ayah dinikahi oleh konglomerat, bangsawan, berdarah biru."

Sebuah impian gila, pikirku lagi. Siapa yang punya impian, siapa yang kena getahnya. Hari itu akhirnya tiba. Siska dan keluarganya mendatangi rumahku. Aku mengajaknya ke tepi kolam di belakang rumah. Rasanya aku ingin menceburkan disana, namun aku urungkan niat. Selain dingin, hanya akan membuat malu keluarga.

"Bang Jo, maukah menikah denganku?" Tanya Siska malu-malu, persis seperti remaja baru jatuh cinta.

Aku gemetar. Seumur hidup ini adalah momen aneh yang pernah terjadi. Dan aku harus menjawab iya.

"Iya. Aku bersedia."

Semua tiba-tiba berubah begitu cepat. Penghulu, ruang resepsi, penyanyi dangdut. Memenuhi kepalaku. Aku mengenakan jas hitam dan Siska dengan gaun putih pengantin.

Siska menjabat tangan penghulu. Sebelum ijab kabul terucap, aku menarik tangannya. Ganti aku yang menjabat tangan si penghulu. Adegan tarik menarik pun terjadi. Penghulu berdiri, bangkit dari duduknya dan memarahi kami berdua. Suara dangdut tiba-tiba semakin keras memekakkan telinga. Begitu familiar suara itu dan aku tersadar suara itu dari alarm telepon genggamku. Berulang-ulang.

Sampai aku menekan tombol 'dismiss' dan semuanya berakhir. Aku terbangun. Syukurlah.

~doddy rakhmat
06.09.2015