Jumat, 03 Maret 2017

Residu Kehilangan

Jalanan sehabis hujan menyisakan genangan-genangan kecil yang harus kulalui penuh hati-hati.  Malam itu aku tidak berniat langsung pulang ke rumah. Dan aku memilih singgah di sebuah minimarket. Hanya untuk membeli segelas cokelat hangat instan. Kursi-kursi di depan minimarket itu kosong dan sedikit basah karena tempias air hujan. Aku menyekanya perlahan. Duduk dan memandangi uap dari cokelat hangat yang masih meliuk-liuk di atas gelas.

Tidak ada keramaian di jalan, lengang, karena sudah beranjak larut malam. Aku menenggak tegukan pertama, sekujur tubuh menghangat. Jaket parka yang kukenakan tidak cukup tebal menahan dingin saat itu.

Aku kembali memeriksa telepon pintar. Tidak ada balasan darimu. Mungkin lebih tepatnya tidak ada niat untuk membalas. Karena aku tahu kau sudah membacanya.

"Apakah kau sedang dekat dengan seseorang belakangan ini?"

Begitu pertanyaanku yang seharusnya tidak terlalu sulit kau jawab. Aku mengaduk gelas, mengacaukan residu yang mengendap di dasarnya. Seperti aku yang tiba-tiba hadir lagi di kehidupanmu yang mungkin saja tidak ada ruang untuk namaku di sana.

Entah kenapa aku masih merasa berdebar-debar menunggu jawabanmu. Padahal kita sama-sama tahu, bahwa tidak ada lagi hal yang bisa menghubungkan kita satu sama lain. Hujan di bulan Februari adalah saksi bagaimana kita masing-masing mengambil jarak. Apakah kita pernah bertengkar sebelumnya? Tidak pernah, kan? Lantas aku masih heran dengan keputusan yang kita buat.

Lalu aku menceritakan apa yang terjadi di antara kita kepada temanku. "Bagaimana kamu masih mencintai dia bahkan kalian tidak ada berkomunikasi lagi setelah sekian lama?" Ia bertanya.

Aku hanya diam. Dan dalam hati aku masih yakin, bahwa cinta tidak butuh banyak alasan. Aku percaya kita akan berjodoh. Tapi aku juga takut. Apakah ada seseorang yang berada di dekatmu? Maka aku putuskan untuk mengirimkan pertanyaan itu kepadamu.

Dan aku masih menunggu. Mataku mulai lelah. Aku bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku tidak tenang. Belum jua kuterima balasanmu. Ah, mungkin kau sudah tidur. Tapi mengapa kau sudah membacanya?

Apakah kita memang tercipta hanya untuk menjadi residu kehilangan? Sisa-sisa harapan yang kemudian ingin bersatu kembali?

(Doddy Rakhmat)
03.03.2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar