Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2017

#8 Jatuh Cinta Kepadamu

Manusia adalah makhluk sosial. Ia membutuhkan manusia lain. Membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Baik dari keluarga maupun pasangan hidupnya kelak.

"Jika jatuh cinta bisa diatur, maka kamu ingin jatuh cinta kepada siapa?" Sebaris pertanyaan yang membuat saya berpikir dua kali. Ada benarnya. Jatuh cinta sebenarnya tidak bisa kita atur. Karena sejatinya jatuh cinta adalah ketika mengikuti kata paling jujur dari hati. Tidak dipengaruhi logika maupun faktor dari luar diri.

Jatuh cinta sebaiknya tidak cukup sekali. Musti berkali-kali dan kepada orang yang sama. Jatuh cinta adalah pengorbanan, menyerahkan sepenuhnya hidup kepada orang yang kita percayai. Lalu orang-orang mungkin akan protes. "Ah kebanyakan teori. Praktik dong." Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan, "Kapan nikah?","Kapan punya pasangan?", untungnya saya masih cukup sabar menghadapinya. Kalau saya balik tanya, "Kapan kamu mau jadi jomblo lagi?" Bagaimana? Berhentilah bertanya, walaupun alasan klasik ngelesnya nanti  adalah "Kitakan mendoakan semoga cepat." Dalam hati saya, "Aamin." Tapi menikah bagi saya bukan cepat-cepatan. Karena itu bukan sebuah lomba. Ada menang atau kalah.

Oke kembali kepada jatuh cinta. Jika bisa diatur, maka saya akan pilih jatuh cinta kepada orang yang membuat pertanyaan ini. Kenapa?

Jatuh cinta itu, kala jantung berdegup lebih kuat saat mengingat segala tentangnya. Saat senyumnya yang manis menghapus harimu yang pahit. Walau sekedar sapaan, tapi kau menjadi dua kali lebih merindukannya. Suaranya, tatapan matanya, dan kau tidak menyadari bahwa kau sedang jatuh cinta. Melainkan menemukan potongan surga yang bisa kau raih dan menjadikannya pendamping hidup kelak dunia dan akhirat.

"Jatuh cinta kepadamu, adalah jatuh cinta terhebat yang pernah aku rasakan. Karena di dalam diriku, aku tidak menemukan jeda untuk melupakanmu walau sejenak."

(Doddy Rakhmat)

#28harimenulis #hari8

Sabtu, 16 Juli 2016

Kota Setelah Hujan

Bukankah begitu dingin
Hujan sisa semalam
Betapa kejam, bukan?
Tangis yang menggelayut
Mengering belum kau seka
.
Aku yang mengetuk pintu rumah lamamu
Membawa seikat bunga rampai layu
Yang hendak kuberi sebelum pergi
Dan kau memulainya lebih dahulu
.
Genangan di jalan belum menguap
Menguar aroma tanah basah
Aku penasaran kisah yang terputus oleh waktu
Cerita setelah hujan
Tentang kamu yang tak ingin sendiri
Dan aku hanya senyap yang tak pernah berani berisik.

-Doddy Rakhmat
16.07.2016

(Picture : webneel.com)

Kamis, 19 Mei 2016

Melawan Hujan

Aku dan kamu masih percaya bahwa kebahagiaan itu bukan tumbuh setelah hal-hal menyedihkan terjadi. Seperti kehilangan. Kehilangan diri sendiri.

Aku pernah mengalaminya beberapa tahun silam. Ya, aku kehilangan diri sendiri karena kehilanganmu. Dan aku tidak menemukannya di manapun. Di puluhan film yang kutonton, puluhan buku yang kubaca maupun ratusan kalimat yang kutulis. Hujan yang katamu mengantar banyak kenangan berubah menjadi mimpi buruk setiap ia datang. Aku menggigil karena rindu yang kandas tak menemukan labuhan. Aku tenggelam dalam lautan manusia yang berpikiran sama tentang cinta. Mereka punya pemikiran,

"Kamu pasti akan mendapat penggantinya yang lebih baik lagi."

Menemukanmu lagi di raga yang lain bukan perkara mudah, aku enggan membandingkanmu dengan seseorang yang baru. Mungkin kami akan mendatangi tempat yang sama yang pernah kita kunjungi. Tapi itu akan terasa berbeda, aku mulai mengumpulkan kenangan-kenangan yang seharusnya kuhapus sejak lama. Lagu kesukaan kita mengalun dari pengeras suara, aku menggamit kedua tangannya. Aku berpikir, dia bukan kamu. Lagu-lagu itu mengantarkanku pada rambut dan matamu bukan kepada wajahnya. Kepada senyummu yang berbeda dengannya; senyum dua jari yang menawan.

Hujan pengantar mimpi buruk selalu hadir tepat waktu ketika malam akhir pekan. Aku masih berdiri di bawah kerumunan orang yang berpikiran sama, bahwa ketika kehilangan orang yang kita cinta, maka segera cari penggantinya. Hujan tak seindah masa silam, di mana kita saling berkejaran, membuat kenangan, melawan hujan.

Aku ingin kita melawan hujan walau kita tak lagi berdiri berdampingan, melupakan luka hingga reda.

(Doddy Rakhmat)
18.05.2016

Selasa, 26 April 2016

(Tidak) Patah Hati

Lagu-lagu romantis yang dilantunkan oleh penyanyi wanita di cafe tak ubahnya ratapan pilu cinta yang karam. Hujan tersisa rintik kuterabas liar meninggalkan jauh-jauh Ekspresio Cafe. Menjejak genangan air tanpa hirau. Kilat masih menyambar. Orang-orang berlarian dari hujan. Aku terus berjalan memikirkan cara untuk membunuh hujan. Karena ia bagai lawan yang tangguh. Sampai di rumah, aku diajak oleh kenangan yang berputar dalam pikiran ke potongan-potongan masa silam bersama Kalea.

Sejak berpisah dengan Kalea, sebenarnya aku enggan bertandang ke Ekspresio Cafe lagi. Tempat kami membuat kenangan-kenangan indah. Aku melepaskannya agar ia menemui kepastian. Dan aku dapat memilih untuk melanjutkan pencarian tulang rusuk yang hilang. Tapi sebaris kalimat yang baru saja kubaca beberapa menit lalu membuatku berpikir dua kali. Masih adakah cinta yang tepat untuk ku?

"Bang, Uzi boleh masuk kamar bentar nggak?" pinta Uzi, adikku umur 12 tahun, dari luar kamar.

"Masuk aja"

Ia berjalan mengendap-endap takut menimbulkan suara-suara aneh. Atau ia tahu kebiasaanku yang selalu memarahinya masuk kamar.

"Abang, kenapa? Keujanan gitu, gak ganti baju, gak takut masuk angin?"

Aku hanya menggeleng. Memandangi foto hasil jepretan ala paparazzi gadis yang kukagumi beberapa hari belakangan. Bukan Kalea. Bagiku itu cukup menghangatkan.

Aku yakin semua orang memiliki cara untuk menikmati secangkir kopi pun menyesap kepahitan cinta yang suram. Aku belajar bagaimana sembuh dari patah hati ; luka masa lalu. Dan penyesalan bukanlah jalan keluar. Mencintai seperti merawat sebuah bunga dalam pot. Ketika ia mati, kita tidak bisa menghidupkannya kembali. Namun menanaminya kembali dengan bunga baru adalah cara terbaik untuk menyempurnakan pot kosong.

Ternyata aku salah memilih bunga lagi. Bunga itu telah bertuan dan aku masih mempertanyakan. Benarkah jika aku harus merebut gadis dari pria yang telah memilikinya? Haruskah memaksakan kehendak? Siapapun, aku ingin seorang gadis yang tidak membuatku patah hati lagi.

Dan menyesap banyak kopi tidak dapat menyembuhkanmu dari patah hati. Kau hanya perlu membiarkan hujan turun dari langit, meluruhkan segala luka hingga reda.

*Doddy R

Cerita sebelumnya bisa dibaca di http://tututlaraswati03.blogspot.co.id/2016/01/patah-hati-pada-kopi-dan-hujan.html?m=1

Kamis, 21 April 2016

Filosofi Patah Hati

Hujan gerimis turun dari langit dan dari matamu, kesedihan tak teramat mudah ditaklukan hanya dengan tangisan. Kadang kau hanya diam. Menatap bulir air jatuh menerpa daun bonsai teras rumah yang lama tak dipangkas.

Kopi yang kau seduh tetap pahit walaupun setengah toples gula sudah kau campur ke dalamnya. Dan tatapanmu masih nanar. Tegukan kesekian kau memilih meringkuk di bawah selimut. Buku-bukumu berserakan dan terbuka pada halaman-halaman yang bercerita tentang kepiluan. Ketika kita patah hati kadang kita bukan mencari cara untuk mengobati. Namun membiarkan perih itu sembuh dengan sendirinya dan mengajak semesta untuk ikut merayakan. Kau tak ingin merasakannya seorang diri.

Kita sama sama jatuh cinta dan patah hati. Aku mencintaimu tapi kau mencintainya. Kau tak pernah tahu hal itu. Mengagumi dari kejauhan, kau yang dirundung kegelisahan, aku tersenyum tipis. Masih adakah celah yang dapat kususupi ke dalam hatimu?

Kau mungkin juga tidak tahu, pria juga pernah patah hati. Hanya saja mereka berpura-pura untuk tabah. Mereka cepat tertawa bersama teman-temannya padahal semua yang dilakukan untuk menghibur dirinya sendiri. Aku tidak termasuk dalam golongan itu. Aku lebih memilih mengurung diri dalam kamar. Menuliskan puisi-puisi cengeng, mendengar lagu-lagu luar negeri yang menyayat hati lalu meminum secangkir cokelat hangat. Dan mulai melupakan.

Dari balik jendela, memandangmu, aku berdiri tegak. Tapi sesungguhnya aku sedang terduduk di dasar jurang.

"Karena patah hati membuatmu dua kali lebih hebat saat jatuh cinta (lagi) nanti"

*****

Flashfiction ini dibuat untuk challenge dari tututlaraswati03.blogspot.co.id

Filosofi Patah Hati

Hujan gerimis turun dari langit dan dari matamu, kesedihan tak teramat mudah ditaklukan hanya dengan tangisan. Kadang kau hanya diam. Menatap bulir air jatuh menerpa daun bonsai teras rumah yang lama tak dipangkas.

Kopi yang kau seduh tetap pahit walaupun setengah toples gula sudah kau campur ke dalamnya. Dan tatapanmu masih nanar. Tegukan kesekian kau memilih meringkuk di bawah selimut. Buku-bukumu berserakan dan terbuka pada halaman-halaman yang bercerita tentang kepiluan. Ketika kita patah hati kadang kita bukan mencari cara untuk mengobati. Namun membiarkan perih itu sembuh dengan sendirinya dan mengajak semesta untuk ikut merayakan. Kau tak ingin merasakannya seorang diri.

Kita sama sama jatuh cinta dan patah hati. Aku mencintaimu tapi kau mencintainya. Kau tak pernah tahu hal itu. Mengagumi dari kejauhan, kau yang dirundung kegelisahan, aku tersenyum tipis. Masih adakah celah yang dapat kususupi ke dalam hatimu?

Kau mungkin juga tidak tahu, pria juga pernah patah hati. Hanya saja mereka berpura-pura untuk tabah. Mereka cepat tertawa bersama teman-temannya padahal semua yang dilakukan untuk menghibur dirinya sendiri. Aku tidak termasuk dalam golongan itu. Aku lebih memilih mengurung diri dalam kamar. Menuliskan puisi-puisi cengeng, mendengar lagu-lagu luar negeri yang menyayat hati lalu meminum secangkir cokelat hangat. Dan mulai melupakan.

Dari balik jendela, memandangmu, aku berdiri tegak. Tapi sesungguhnya aku sedang terduduk di dasar jurang.

"Karena patah hati membuatmu dua kali lebih hebat saat jatuh cinta (lagi) nanti"

*****

Flashfiction ini dibuat untuk challenge dari tututlaraswati03.blogspot.co.id

Jumat, 04 Maret 2016

Aku Tak Pernah Pergi

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda

Lagu dari salah satu penyanyi favoritku itu entah ke berapa kalinya kumainkan di pemutar musik. Mungkin mereka pun lelah menyuarakannya untuk kudengar. Bagiku tidak, aku tetap setia mendengarkannya hingga akhir lirik, hingga nada ditutup sempurna oleh senandung sang penyanyi.

Sejak perpisahan kita setahun silam, rasanya aku dapat mendengarkan denting hujan lebih nyaring seolah telingaku seribu lebih peka daripada sebelumnya. Aku terus memikirkan apakah keputusan itu sudah tepat? Karena jujur saja semuanya terlalu berat, sesampainya foto kita berdua masih dipeluk hangat dalam dompetku. Kenangan tidak bisa diusir pergi, walaupun yang memilikinya telah pergi.

Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar

Tiada perbedaan yang benar-benar membuat orang bertengkar hebat, mereka hanya terlalu mempertahankan ego masing-masing. Kita tidak bertengkar, hanya mengalami pergulatan batin yang dimenangkan oleh diri masing-masing. Aku mungkin terlihat tegar saat mengucap kata pisah denganmu. Dan kamu pun terlihat kecewa. Namun sungguh dalam relung hati, aku tak bisa menyingkirkanmu dari ruang istimewa ke biasa-biasa saja.

Malam siang semua berputar mengukur seberapa lama kita telah berpisah. Rasanya ada yang kosong, aku tak bisa membohongi diri sendiri. Entah apakah kamu pun begitu?

Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama

Ingatkah kita saat bercanda, bercerita hingga larut, aku tidak ingin terlepas dari suaramu yang khas. Yang membangunkan getaran-getaran cinta dalam hati, membuat aliran darah berdesir hangat walaupun dingin kadang menusuk. Apakah kita bisa mengulanginya lagi? Dan tawamu yang tak pernah bosan kudengar, masihkah seperti saat itu?

Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut kuhilang

Semua orang pasti takut akan perpisahan, kesendirian dan kehilangan. Naluri manusia tak bisa kupungkiri. Pasca perpisahan itu, tak mudah aku melalui hari. Aku terlihat cengeng, mendengar lagu mellow langsung teringat tentangmu. Pria dewasa yang kau kenal itu kembali jadi anak kecil yang kehilangan permen. Ia menangis sekencang-kencangnya, walau dalam hati. Aku tak pernah menghilang, aku menjaga jarak untukmu untuk masa depan, jikalau memang kamu jadi jodoh bagi orang lain, apakah aku rela? Apakah aku harus menentang takdir Tuhan?

Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu 

Kita tak pernah berdebat, kamu terlalu banyak bersabar walau aku sering lalai meninggalkanmu saat berbicara dalam telfon. Tanpa permisi aku berbicara seenaknya kepada orang lain di luar telepon, tak memikirkan perasaanmu. Dan aku terlambat menyadari. Betapa bodohnya aku ini.

Entah kusebut apa saat menggenggam tanganmu dalam taksi kala itu, tapi itu termasuk hal terindah yang aku rasakan di dunia. Ada rasa nyaman luar biasa, menenggelamkan rindu berbulan-bulan. Walau sebenarnya aku tidak yakin itu disebut genggaman lebih seperti memangku tanganmu dengan tanganku.

Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu

Tiada sedetikpun aku mengijinkan rasa yang kumiliki pergi jauh darimu.  Aku memang tak pernah benar-benar memilikimu. Belum lebih tepatnya. Hanya ragaku yang berjalan jauh, menahan segala ucap yang belum pantas aku tujukan padamu sampai suatu hari kamu bersanding denganku jika memang ditakdir demikian. Ketahuilah, aku telah berbohong berbulan-bulan jika aku bilang tidak menyukaimu.

Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu

Sebenarnya aku tidak pernah pergi, walau kaki saling berjauhan. Aku tetap di sini. Mengejarmu. Menyimpanmu dalam doa.

Doddy R
04.02.2016

*nb lebih baik membacanya sembari mendengarkan lagu Pamit oleh Tulus.

Rabu, 02 Maret 2016

Orang Gila Bicara Cinta

…..
Bini..
Bini aku
Bini aku kawin
Bini aku kawin lagi
Bini aku kawin lagi sama
Kawin lagi sama anak aku

…
Anak..
Anak aku
Anak aku kawin
Anak aku kawin lagi
Anak aku kawin lagi sama
Kawin lagi sama aku

…
Aku kawin
Aku kawin lagi
Aku gila kawin
Aku gila

*Doddy R

#Hari2 #1hari1puisi #maret

Sabtu, 06 Februari 2016

Tanpa Cinta

Di suatu malam yang tak begitu ditunggu-tunggu oleh Odin namun begitu didamba banyak sejoli memadu kasih. Ia memilih duduk di antara keramaian sebuah warung di salah satu sudut kota. Deru mesin dan knalpot yang dipacu kencang menggerung jalan bersaing dengan teriakan para penonton bola. 

Di tengah keramaian itu, Odin semacam mendapat ketenangan. Suara-suara sekitar menciptakan gua yang nyaman untuknya bersemayam. Ia tak begitu peduli dengan si kulit bundar ditayangkan di sebuah televisi layar datar di dekatnya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu. Ia ingin menyambut hari esok lebih cepat. Sampai warung tak tersisa pengunjung barulah dirinya pulang. Walaupun esok ia gamang membawa hidupnya kemana. 

Minggu, 27 Desember 2015

Rumah Lama

Manusia ibarat rumah lama. Ia dipenuhi oleh kenangan-kenangan. Suatu saat ia akan mengosongkannya, hingga tidak ada lagi yang melekat. Seperti debu-debu yang disapu bersih, sesungguhnya kenangan itu tidak akan pernah benar-benar pergi. Kenangan hanya berpindah tempat, diingat atau tidak diingat. Kenangan tetap di sana, tidak bergeming sedikit pun.

Begitupun kamu, setahun terakhir aku berusaha untuk melupakan kenangan yang kita cipta bersama. Aku kalah, selalu kalah saat berhadapan dengan yang tersisa darimu pada diriku. Namamu, senyumanmu, tatapanmu, lalu kehangatan yang menjalar saat kita malu-malu berpegang tangan di dalam taksi kala itu.

Aku tidak tahu, apakah genggaman itu tidak akan pernah aku dapatkan lagi? Seolah itu adalah hal yang paling membahagiakan sedunia dari orang yang jatuh cinta.

Aku memang lelaki pemalu dan tak tahu diri. Kadang aku ingin berubah menjadi orang lain, menghilang dari rasa bersalah, hingga kau tidak perlu terluka saat membaca namaku di deretan beranda jejaring sosial.

Rumah lama itu tidak pernah aku tinggalkan, kenanganmu masih tersimpan rapi bersama rindu yang bertumbuh tak tertahan. Apakah aku masih berada dalam rumahmu? Dalam ruang hati yang kau jaga.

~dr
27.12.2015

Minggu, 20 Desember 2015

My Lady, My Anti Fan

Akhir pekan lalu, penerbit bukuku yang terbaru mengadakan acara launching di tempat yang spesial. Mereka mengadakannya di pantai, mengusung konsep pesta bahari, segala makanannya dari hasil kekayaan laut.

Aku berdiri seraya menikmati udang goreng yang diberi saus mayones. Telponku tak berdering sedikitpun. Mungkin dia lupa, seperti biasanya.

Deburan ombak menghantam tepian pantai, karang-karang berdiri kokoh. Anggap saja kehadirannya seperti ombak, dan aku sebagai karang. Aku tak pernah letih menghadapinya. Kalau yang lain sibuk berfoto dengan buku, meminta tanda tangan, ia sungguh berbeda. Saat dalam sebuah talkshow aku pernah dikirim olehnya sebuah gambar. Bukuku dalam kondisi terbakar. Dengan tulisan pengantar, "Selamat buku barunya sudah terbit". Lucunya aku tidak marah dan membalasnya dengan ucapan terima kasih. Mengapa aku mencintai dirinya? Karena aku pikir dia membuatku mawas diri. Ketika yang lain sibuk memuji, dia sibuk mencaci. Seimbang. Dia melengkapi.

Semakin ia membenciku, maka semakin sukar melepaskannya. Entahlah, itu mungkin logika yang aneh dari seorang penulis.

Bagiku terlalu mudah rasanya bila jatuh cinta kepada orang yang jatuh cinta pula kepada kita, aku ingin tantangan. Kehadirannya sudah membuat hidup cukup berwarna.

Kling.

Teleponku bergetar, sebaris kalimat notifikasi muncul di layar. Pesan singkat darinya.

"Temui aku di tepi pantai."

Aku membalas, "Aku sedang menatapmu dari kejauhan."

"Bagaimana bisa?"

"Aku sedang di acara launching buku."

"Di pantai?"

"Ya."

Ia menoleh ke belakang bersamaan dengan lelaki di sampingnya, ia terlihat kikuk. Sang pria melambai seraya tersenyum.

Dia tidak pernah cerita kalau ada pria lain dalam hidupnya. Tapi aku sudah terlanjur menganggapnya kekasih, karena dia berbeda dari yang lain. Tapi aku tidak pernah tahu, apakah dia memiliki rasa yang sama padaku?

Mungkin benci adalah kata lain dari cinta, kurasa.

~Doddy Rakhmat

Minggu, 22 November 2015

Fallen Star

Aku tidak percaya kepada keberuntungan. Bagiku itu hanyalah sebuah kepasrahan kepada hal yang tidak pasti. Dan mungkin, Doni adalah semacam keberuntungan bagiku. Siapa yang tidak mengenali penyanyi yang sedang menggelar karpet kesuksesannya belakangan ini. Seorang Doni tidak akan pernah melupakan Re, melupakan aku.

****

Siang mengembus angin panas. Terik sinar menjalar ke permukaan bumi. Dari semua yang pernah saya alami, ini mungkin paling parah. Menunggu Re berdandan, alangkah lama dunia berputar. Konser solo memasuki H-2, rencana hari ini kami akan pergi berkencan, kali ini ia tidak ikut dalam acara saya. Karena lokasinya terlalu jauh di luar kota. Saya melihat jam dinding sekali lagi, sudah hampir satu jam. Semoga saja masa menunggu ini tidak sia-sia.

****

Doni pasti sudah cukup kesal menungguiku berdandan, aku takut saja kalau ada paparazzi mengambil foto kami berdua. Setidaknya aku bisa tampil maksimal di depan kamera. Menjadi pasangan selebritis seolah tertular Star Syndrome.

Oke, semua sudah siap.

"Hai sayang, ayo berangkat."

****

Akhirnya, Re keluar juga dari rumahnya. Syukurlah, masa penantian saya berakhir. She look pretty, tonite.

Setelah menikmati jalanan kota Jakarta malam hari. Kami tiba di sebuah kedai wedang di tepian kota. Jauh dari hiruk pikuk, dan fans-fans yang kadang lupa diri.

"Aku mengajakmu ke sini untuk merayakan sesuatu."

Re meminum wedang jahe nya, seperti biasa. Menghirup aroma dalam-dalam, baru meneguk sedikit demi sedikit.

"Merayakan apa?"

"Merayakan hari rindu nasional."

Re tertawa.

"Baru pertama kali ini aku dengar ada hari merindu nasional. Siapa pencetusnya, kamu?"

Saya mengangguk. Re tersenyum

*****

Aku tahu, alasan Doni mengajakku malam ini. Dan ide gilanya menciptakan hari merindu nasional, terbilang unik. Aku tidak mau menyebutnya gombal. Karena ia sudah berusaha yang terbaik. Tapi aku selalu menunggu momen, dimana ia bersimpuh memegang sebuah cincin dan bertanya padaku "Will you marry me?" Just simple like that. But, when?

****

Entahlah apa yang di dalam pikiran Re, saya tak mau berprasangka. Ide hari merindu nasional di bulan November ini sudah lama saya persiapkan. Setidaknya pertemuan-pertemuan kami tidak membosankan. Dan beberapa hari lagi kami harus berpisah jauh,

"Gimana kamu mau merayakannya kan?"

"Tentu." Ia tersenyum walau terkesan memaksa.

****
Dan malam ini berakhir seperti biasanya. Nothing special, I guess. But pretending to be happy is more difficult now.

Mungkin Doni hanyalah The Fallen Star dalam kehidupanku. Ia seorang bintang yang telah jatuh hati padaku. Tidak lebih. Hadir hanya untuk memenuhi permintaanku, sama seperti bintang jatuh.

****
Saya tahu Re kecewa. Dan saya memang pasangan yang buruk. Saya selalu bertanya, apakah saya belum siap menjalani komitmen setelah menikah? Atau dunia penuh pujian ini telah menutup segala keberanianku?

****
Keesokan paginya.
'Headline news : Doni, musisi pendatang baru membuat press release bahwa ia akan keluar dari kancah permusikan indonesia'

****
Will you marry me, Re?

~Doddy Rakhmat
22.11.2015

Selasa, 17 November 2015

Melupakan Senja

Ada dirimu yang menyapa embun, memanggil bahagia. Kemudian aku tertawa , terluka dan berusaha melupakan senja. Karena saat senja, aku menemukan dirimu yang berbeda, semacam masa lalu yang tak layak dibawa ke masa depan.

Di antara kita, tidak ada yang benar maupun salah. Karena kita ialah makhluk penuh kesalahan dan berusaha selalu melakukan pembenara. Egois. Tidak ada yang mau mengalah. Aku tidak rela dirimu pergi jauh, pergi tanpa tujuan. Dan aku, belum tentu menjadi rumah untukmu pulang. Menjadi muara rindu-rindu yang kau tahan.

"Rana, mungkin aku memang bodoh." ucapmu kemarin malam

"Bodoh kenapa?"

"Aku bodoh, baru menemukanmu sekarang."

Kau baru menganggap dirimu bodoh, setelah mengenalku tiga tahun lamanya. Tidak ada orang yang benar-benar pandai di dunia ini, semua memiliki cela. Hanya saja, tinggal bagaimana cara menerima kekurangannya.

Kau tidak bodoh, Al. Sungguh. Aku yang mungkin salah bertemu denganmu di pekan raya saat itu. Di kala kemarau menyisa debu sepanjang jalan, air sungai yang mengering, di sela embusan angin malam, aku terjatuh dalam pelukanmu. Pasak yang membuatku tersandung seolah menjadi bagian takdir pertemuan kita. Kembang api menyala-nyala, aroma arum manis yang menyeruak, serta musik-musik gembira dari pengeras suara.

"Maaf, lain kali aku hati-hati berjalan." Buru-buru aku melepaskan diri dari dekapanmu.

"Tidak apa, Nona."

Aku masih menunduk malu. Tanpa melihatmu lagi, aku berpaling. Dan, kedua kalinya aku tersandung. Sekelebat, ada yang meraih tanganku, aku tidak jadi terjatuh. Mengejutkan, yang menarik tanganku itu adalah kamu, Al. Dan dirimu tersenyum, di balik bias senja. Membentuk siluet yang terekam dalam ingatan.

Setelah semua yang kita lalui, ternyata ini mungkin akhir dari hujan.

Karena kamu, aku belajar bagaimana jatuh hati. Dan denganmu lah, aku mendapati rasa patah hati. Memang bukanlah sesuatu yang kuharapkan, namun sejauh apapun diri menghindar, takdir dan kenyataan tidak pernah terelakkan. Kenapa kau tidak membiarkan aku jatuh ke tanah saja saat itu, Al? Kenapa? Bukankah lebih baik aku merasakan sakitnya jatuh di badan, daripada harus hatiku meradang sakit karena ucapan dan perasaan yang selalu melukai. Kau biarkan aku jatuh dan patah hati seorang diri.

Katamu, kau begitu menyukai senja. Begitupun pertemuan pertama kita. Untuk itulah aku datang ke tempat yang sama di penghujung waktu matahari bersinar, menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam. Saat membuka mata, semuanya menjadi gelap. Tidak ada lagi senja yang kutemui kala itu. Hanya ada malam. Namun senja selalu datang esok hari, tidak pernah bisa dihindari. Aku mulai menyadari. Bahwa luka ini bukan untuk dilepaskan, tapi didekap perlahan-lahan. Berdamai. Karena ia tetap bersemayam dalam ingatan.

~Doddy Rakhmat
17.11.2015

Melupakan Senja

Ada dirimu yang menyapa embun, memanggil bahagia. Kemudian aku tertawa , terluka dan berusaha melupakan senja. Karena saat senja, aku menemukan dirimu yang berbeda, semacam masa lalu yang tak layak dibawa ke masa depan.

Di antara kita, tidak ada yang benar maupun salah. Karena kita ialah makhluk penuh kesalahan dan berusaha selalu melakukan pembenara. Egois. Tidak ada yang mau mengalah. Aku tidak rela dirimu pergi jauh, pergi tanpa tujuan. Dan aku, belum tentu menjadi rumah untukmu pulang. Menjadi muara rindu-rindu yang kau tahan.

"Rana, mungkin aku memang bodoh." ucapmu kemarin malam

"Bodoh kenapa?"

"Aku bodoh, baru menemukanmu sekarang."

Kau baru menganggap dirimu bodoh, setelah mengenalku tiga tahun lamanya. Tidak ada orang yang benar-benar pandai di dunia ini, semua memiliki cela. Hanya saja, tinggal bagaimana cara menerima kekurangannya.

Kau tidak bodoh, Al. Sungguh. Aku yang mungkin salah bertemu denganmu di pekan raya saat itu. Di kala kemarau menyisa debu sepanjang jalan, air sungai yang mengering, di sela embusan angin malam, aku terjatuh dalam pelukanmu. Pasak yang membuatku tersandung seolah menjadi bagian takdir pertemuan kita. Kembang api menyala-nyala, aroma arum manis yang menyeruak, serta musik-musik gembira dari pengeras suara.

"Maaf, lain kali aku hati-hati berjalan." Buru-buru aku melepaskan diri dari dekapanmu.

"Tidak apa, Nona."

Aku masih menunduk malu. Tanpa melihatmu lagi, aku berpaling. Dan, kedua kalinya aku tersandung. Sekelebat, ada yang meraih tanganku, aku tidak jadi terjatuh. Mengejutkan, yang menarik tanganku itu adalah kamu, Al. Dan dirimu tersenyum, di balik bias senja. Membentuk siluet yang terekam dalam ingatan.

Setelah semua yang kita lalui, ternyata ini mungkin akhir dari hujan.

Karena kamu, aku belajar bagaimana jatuh hati. Dan denganmu lah, aku mendapati rasa patah hati. Memang bukanlah sesuatu yang kuharapkan, namun sejauh apapun diri menghindar, takdir dan kenyataan tidak pernah terelakkan. Kenapa kau tidak membiarkan aku jatuh ke tanah saja saat itu, Al? Kenapa? Bukankah lebih baik aku merasakan sakitnya jatuh di badan, daripada harus hatiku meradang sakit karena ucapan dan perasaan yang selalu melukai. Kau biarkan aku jatuh dan patah hati seorang diri.

Katamu, kau begitu menyukai senja. Begitupun pertemuan pertama kita. Untuk itulah aku datang ke tempat yang sama di penghujung waktu matahari bersinar, menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam. Saat membuka mata, semuanya menjadi gelap. Tidak ada lagi senja yang kutemui kala itu. Hanya ada malam. Namun senja selalu datang esok hari, tidak pernah bisa dihindari. Aku mulai menyadari. Bahwa luka ini bukan untuk dilepaskan, tapi didekap perlahan-lahan. Berdamai. Karena ia tetap bersemayam dalam ingatan.

~Doddy Rakhmat
17.11.2015

Melupakan Senja

Ada dirimu yang menyapa embun, memanggil bahagia. Kemudian aku tertawa , terluka dan berusaha melupakan senja. Karena saat senja, aku menemukan dirimu yang berbeda, semacam masa lalu yang tak layak dibawa ke masa depan.

Di antara kita, tidak ada yang benar maupun salah. Karena kita ialah makhluk penuh kesalahan dan berusaha selalu melakukan pembenara. Egois. Tidak ada yang mau mengalah. Aku tidak rela dirimu pergi jauh, pergi tanpa tujuan. Dan aku, belum tentu menjadi rumah untukmu pulang. Menjadi muara rindu-rindu yang kau tahan.

"Rana, mungkin aku memang bodoh." ucapmu kemarin malam

"Bodoh kenapa?"

"Aku bodoh, baru menemukanmu sekarang."

Kau baru menganggap dirimu bodoh, setelah mengenalku tiga tahun lamanya. Tidak ada orang yang benar-benar pandai di dunia ini, semua memiliki cela. Hanya saja, tinggal bagaimana cara menerima kekurangannya.

Kau tidak bodoh, Al. Sungguh. Aku yang mungkin salah bertemu denganmu di pekan raya saat itu. Di kala kemarau menyisa debu sepanjang jalan, air sungai yang mengering, di sela embusan angin malam, aku terjatuh dalam pelukanmu. Pasak yang membuatku tersandung seolah menjadi bagian takdir pertemuan kita. Kembang api menyala-nyala, aroma arum manis yang menyeruak, serta musik-musik gembira dari pengeras suara.

"Maaf, lain kali aku hati-hati berjalan." Buru-buru aku melepaskan diri dari dekapanmu.

"Tidak apa, Nona."

Aku masih menunduk malu. Tanpa melihatmu lagi, aku berpaling. Dan, kedua kalinya aku tersandung. Sekelebat, ada yang meraih tanganku, aku tidak jadi terjatuh. Mengejutkan, yang menarik tanganku itu adalah kamu, Al. Dan dirimu tersenyum, di balik bias senja. Membentuk siluet yang terekam dalam ingatan.

Setelah semua yang kita lalui, ternyata ini mungkin akhir dari hujan.

Karena kamu, aku belajar bagaimana jatuh hati. Dan denganmu lah, aku mendapati rasa patah hati. Memang bukanlah sesuatu yang kuharapkan, namun sejauh apapun diri menghindar, takdir dan kenyataan tidak pernah terelakkan. Kenapa kau tidak membiarkan aku jatuh ke tanah saja saat itu, Al? Kenapa? Bukankah lebih baik aku merasakan sakitnya jatuh di badan, daripada harus hatiku meradang sakit karena ucapan dan perasaan yang selalu melukai. Kau biarkan aku jatuh dan patah hati seorang diri.

Katamu, kau begitu menyukai senja. Begitupun pertemuan pertama kita. Untuk itulah aku datang ke tempat yang sama di penghujung waktu matahari bersinar, menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam. Saat membuka mata, semuanya menjadi gelap. Tidak ada lagi senja yang kutemui kala itu. Hanya ada malam. Namun senja selalu datang esok hari, tidak pernah bisa dihindari. Aku mulai menyadari. Bahwa luka ini bukan untuk dilepaskan, tapi didekap perlahan-lahan. Berdamai. Karena ia tetap bersemayam dalam ingatan.

~Doddy Rakhmat
17.11.2015

Melupakan Senja

Ada dirimu yang menyapa embun, memanggil bahagia. Kemudian aku tertawa , terluka dan berusaha melupakan senja. Karena saat senja, aku menemukan dirimu yang berbeda, semacam masa lalu yang tak layak dibawa ke masa depan.

Di antara kita, tidak ada yang benar maupun salah. Karena kita ialah makhluk penuh kesalahan dan berusaha selalu melakukan pembenara. Egois. Tidak ada yang mau mengalah. Aku tidak rela dirimu pergi jauh, pergi tanpa tujuan. Dan aku, belum tentu menjadi rumah untukmu pulang. Menjadi muara rindu-rindu yang kau tahan.

"Rana, mungkin aku memang bodoh." ucapmu kemarin malam

"Bodoh kenapa?"

"Aku bodoh, baru menemukanmu sekarang."

Kau baru menganggap dirimu bodoh, setelah mengenalku tiga tahun lamanya. Tidak ada orang yang benar-benar pandai di dunia ini, semua memiliki cela. Hanya saja, tinggal bagaimana cara menerima kekurangannya.

Kau tidak bodoh, Al. Sungguh. Aku yang mungkin salah bertemu denganmu di pekan raya saat itu. Di kala kemarau menyisa debu sepanjang jalan, air sungai yang mengering, di sela embusan angin malam, aku terjatuh dalam pelukanmu. Pasak yang membuatku tersandung seolah menjadi bagian takdir pertemuan kita. Kembang api menyala-nyala, aroma arum manis yang menyeruak, serta musik-musik gembira dari pengeras suara.

"Maaf, lain kali aku hati-hati berjalan." Buru-buru aku melepaskan diri dari dekapanmu.

"Tidak apa, Nona."

Aku masih menunduk malu. Tanpa melihatmu lagi, aku berpaling. Dan, kedua kalinya aku tersandung. Sekelebat, ada yang meraih tanganku, aku tidak jadi terjatuh. Mengejutkan, yang menarik tanganku itu adalah kamu, Al. Dan dirimu tersenyum, di balik bias senja. Membentuk siluet yang terekam dalam ingatan.

Setelah semua yang kita lalui, ternyata ini mungkin akhir dari hujan.

Karena kamu, aku belajar bagaimana jatuh hati. Dan denganmu lah, aku mendapati rasa patah hati. Memang bukanlah sesuatu yang kuharapkan, namun sejauh apapun diri menghindar, takdir dan kenyataan tidak pernah terelakkan. Kenapa kau tidak membiarkan aku jatuh ke tanah saja saat itu, Al? Kenapa? Bukankah lebih baik aku merasakan sakitnya jatuh di badan, daripada harus hatiku meradang sakit karena ucapan dan perasaan yang selalu melukai. Kau biarkan aku jatuh dan patah hati seorang diri.

Katamu, kau begitu menyukai senja. Begitupun pertemuan pertama kita. Untuk itulah aku datang ke tempat yang sama di penghujung waktu matahari bersinar, menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam. Saat membuka mata, semuanya menjadi gelap. Tidak ada lagi senja yang kutemui kala itu. Hanya ada malam. Namun senja selalu datang esok hari, tidak pernah bisa dihindari. Aku mulai menyadari. Bahwa luka ini bukan untuk dilepaskan, tapi didekap perlahan-lahan. Berdamai. Karena ia tetap bersemayam dalam ingatan.

~Doddy Rakhmat
17.11.2015

Sabtu, 24 Oktober 2015

Pilihan Terakhir

Pernahkah kita bertanya, mengapa kita bisa dipertemukan? Pada awalnya kita hanyalah orang asing, tak saling mengenal.
Pernahkah kita bertanya, mengapa kita bisa duduk bersama, di sebuah tempat yang disebut pelaminan? Aku yang selalu bersabar di kala kerabat mulai melepas masa lajangnya, dan mulai bertanya padaku. Kapan menikah?

Rabu, 21 Oktober 2015

INTRO

'INTRO'

Kosong, tidak ada satu pun lagu di dalam ponsel maupun komputerku. Kalian tak perlu heran.  Aku memang tak menyukai musik. Namun sejak bertemu dengannya, aku belajar mencintai apa yang tidak kusukai.

"Lala!"

Seseorang meneriakkan namaku di tengah riuhnya Terminal Baranangsiang. Dari jauh, sesosok pria menggendong gitar di punggungnya. Berkali-kali, ia harus meminta maaf karena tak sengaja menyenggol, penumpang lain yang hilir mudik. Apalagi direpotkan dengan bawaannya.

"Akhirnya, kesampaian juga datang ke kota Hujan."

"Welcome to the roti unyil home" ujarnya berlagak menyambut turis. Aku tertawa, begitupun dirinya.

Hujan memang tak pernah meminta izin untuk turun, seperti sore itu. Baru beberapa puluh menit yang lalu datang, aku benar-benar diterima kota Hujan dengan baik.

Kami berlarian mencari tempat berteduh, Adie tak membiarkanku kebasahan. Ia mengangkat tas gitarnya untuk melindungi kami berdua dari guyura hujan. Ia mengajakku ke sebuah warung soto tak jauh dari terminal.

"Kamu dari Bandung belum makan kan?"

Aku menggeleng malu-malu. Beberapa orang juga menunggu di teras warung. Adie menarik lenganku. Kami melangkah masuk warung. Hidungku bersekutu dengan perut, menghirup aroma dari kepulan kuah soto yang menggugah selera.

"Ya sudah kita makan aja sekalian. Belum pernah nyoba soto kuning bogor kan?"

"Wah jadi gak enak, ngerepotin kamu, Die."

"No, I'm not." jawabnya sambil berlalu. Datar, tak berubah sejak dulu kalau menyikapi basa-basi.

Kami memilih meja dekat jendela, lampu warung temaram. Setidaknya ada cahaya dari luar dan pemandangan kota Hujan yang bisa kami nikmati. Mobil-mobil angkot yang berhenti mencari penumpang, suara peluit dari pengatur lalu lintas, dan juga tukang gorengan yang bersedekap di bawah payung tempat jualannya.

"Kamu jadi mau ambil penelitian di sini?" tanya Adie seraya mengaduk mangkuk sotonya.

"Jadi dong, nanti aku minta bantuan kamu ya. Nunjukin jalan di sini. Aku belum hafal, takut kesasar."

"Kan ada Google Maps, hehehe." candanya. Ya Tuhan, tawanya lebih renyah daripada bawang goreng yang jadi garnis soto dihadapanku.

Aku memukul pelan pundaknya. Ia berpura-pura mengaduh kesakitan. Oh, iya kalian pasti belum tahu siapa Adie. Dia tetanggaku saat di Bandung. Tapi ia pindah saat kami sudah SMA. Dia kembali ke kota kelahirannya. Bogor. Mengikuti Ayahnya yang dipindah tugaskan. Kami sudah sering belajar dan bermain bersama, mengelilingi setiap sudut kota parahyangan. Walau selalu berujung kemarahan oleh kedua orang tua kami

Lagu-lagu pop dari pengeras suara warung mengiringi percakapan. Adie menatap ke arahku, aku seolah tahu apa yang mau dikatakannya.

"Masih gak suka musik?"

Benar, tidak salah lagi tebakanku. Aku mengiyakan, suapan terakhir soto kuning pertama. Kandas. Tak tersisa. Segan aku untuk menambah, tengsin. Masa perempuan makannya banyak.

"Berarti kamu masih termasuk gadis langka." ujarnya.

"Kenapa begitu?"

Adie menyuapkan sendok terakhir. Membersihkan mulut dengan tisue ”makan. Ia lalu menjawab.

"Jelas langka. Di zaman iTunes, Dahsyat, Billboard seperti ini masih ada yang nggak suka musik."

Aku tertawa, tak sadar menimpuknya dengan tisu bekasku. Buru-buru minta maaf, ia malah balik tertawa.

"Ah mungkin sudah bawaan dalam gen ku, Die."

"Cepat atau lambat, kamu harus belajar menyukai apa yang kamu nggam sukai. Karena begitulah kehidupan sekarang ini, kita nggak pernah tahu ternyata dari hal yang tidak suka justru memberi manfaat lebih." Ia menjelaskan.

"Oke mas gitaris, berarti sudah suka sayur dong?" Aku menggoda balik bertanya.

Adie melihatkan mangkuk sotonya yang kandas. Aku paham. Itu artinya dia mau tambah. Bercanda, maksudnya dia sudah mau makan sayur. Kalau dulu, lihat timun di atas nasi goreng saja langsung di buang. Anti sayur banget lah.

Hujan telah reda. Aku meminta Adie mengantarkan ke tempat kos dimana aku harus tinggal selama sebulan untuk penelitian. Baru kali ini aku naik angkot di Bogor, tentu saja Adie kerepotan membawa tas gitarnya yang super besar itu ke dalam angkot.

"Kumaha yeu, nanti penumpang lain gak bisa masuk." ujar supir angkot sedikit kesal.

"Nanti saya bayar double kang, santai wae." sahut Adie.

Sesampai di kos yang terletak di sebuah komplek perumahan asri. Jalanan masih basah, malam belum terlalu larut. Adie tampak letih membawa tasgitarnya, jalan yang dilalui cukup terjal. Karena kontur daerah Bogor adalah pegunungan.

Aku menawarinya untuk singgah. Tapi dia menolak, gak baik main ke tempat perempuan malam-malam, ujarnya.

Dua minggu berjalan, penelitianku tentang kualitas air bersih di perkampungan warga sudah mulai menunjukkan kemajuan. Data-data sudah terkumpul. Tak jauh beda dari Bandung, di Bogor penduduknya juga ramah-ramah. Apalagi masih satu bahasa, jadi lebih akrab bawaannya.

Ponsel berdering, panggilan masuk dari Adie. Aku bergegas mengangkat meninggalkan sejenak kuisioner-kuisioner yang sedang kuperiksa.

"La, nanti kamu datang ke Taman Kencana ya. Kamu sudah tahu tempatnya kan?"

"Iya aku tahu."

"Apa mau dijemput?"

"Nggak usah. Emang disana ada acara apa, Die?"

"Acara manggung kecil-kecilan sih. Dari komunitasku. Seru deh."

Malampun datang, aku berdiri di depan kerumunan menghadap stage. Di tengah  panggung, Adie duduk hanya disorot lampu dari atas. Lampu lain dimatikan. Lalu ia mulai memetik gitar kesayangannya. Menyanyikan sebuah lagu dari Michael Buble. Home. Baru saja aku melihat video klipnya di tivi.

Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home..

Suaranya Adie begitu lembut tak jauh dari penyanyi Aslinya apalagi diiringi kepiawaiannya memetik senar gitar. Selesai penampilan, Adie mengajakku duduk di salah satu bangku taman. Ia membersihkannya sebelum aku duduk.

"Gimana penampilanku tadi?"

"Seperti biasanya"Aku mengacungkan dua jempol.

"Hai, Die!" Seorang wanita berparas ayu bak artis papan atas mengarah ke tempat kami, melambaikan tangannya. Mendadak, aku sedang dikhianati oleh ketidaktahuanku. Siapa dia? Tiba-tiba dia mencium pipi Adie mesra. Diam-diam ada gemuruh di dalam hati. Aku cemburu. Tapi kenapa aku cemburu?

"Hei kalian lagi kencan ya?" tanya lagi. Aku tersadar. Astaga, itu hanya lamunanku. Beruntunglah, Ya Tuhan kamu masih melindungi Adie dari godaan wanita lain, batinku.

"Eh, Amel. Long time no see. Sudah jadi artis ya sekarang." ujar Adie.

"Ah biasa saja. Oh iya ini siapa ya?" ujarnya sambil menoleh ke arahku.

"Kalian belum kenalan ya. Lala, ini Amel. Amel, ini Lala."

Aku setengah tak percaya, dihadapanku berdiri seorang aktris ternama negeri. Dan dia mengenal Adie. Luar biasa.
Ia mengulurkan tangan, aku terima seolah takut mengotori tangannya.

"Kamu ngapain ke sini, Mel?"

"Aku iseng aja. Mau survey lokasi buat syuting nanti. Eh, ketemu kamu deh, Die. Aku sempat lihat kamu tampil. Keren. Kenapa ga ke dapur rekaman aja sih?"

"Aku takut jadi Artis. Takut terkenal. Lagipula aku sukanya di dapur kosan. Banyak makanan" canda Adie. Disusul tawa Amel. Ia izin pamit karena dipanggil seorang laki-laki, kurasa sang manager.

Aku menggenggam erat tanganku sendiri karena kedinginan. Tiba-tiba tubuhku terasa hangat, jaket Adie telah berpindah tempat. Ia melepaskannya

"Kamu nanti masuk angin, Die."

"Gak apa-apa, ada si Jojo yang ngerokin kok. Kalau kamu kan jauh ga ada yang ngerawat kalau sakit.

"Kan ada kamu." Aku keceplosan.

Suasana canggung cukup lama.

Lalu ia memecah kebekuan.

"Ada sesuatu yang harus aku omongin malam ini ke kamu, La."

"Iya." Aku bertanya-tanya dalam hati.

"Ibarat intro dalam lagu yang kumainkan. Kamu, ialah awal dari perjalananku yang panjang."

"M-maksudnya?" tanyaku tergagap.

"Karena kamu, La. Aku tak mau berhenti bermain musik. Agar kamu menyukainya, bahwa di setiap lagu selalu ada makna yang ingin disampaikan. Dan lagu tadi, aku mainkan spesial untuk kamu. Kamu, adalah rumah dari perasaan cintaku. Yang selalu membuatku ingin cepat bertemu." jawab Adie mantap.

How cute, isn't? Jantung berdebar tak seperti biasanya. Ada yang melesak dalam diri. Ingin rasanya memeluk langsung. Sebelum aku berpikiran ke sana. Tanpa kusadari, Adie telah mengecup pipiku sekejap. Membuatku terpana cukup lama. Pipi terasa hangat.

Hujan perlahan mulai turun. Bukan dari langit tapi dalam hati. Aku tak sedih, kurasa ini hanyalah kebahagiaan tak terbendung. Meluap-luap tak tertampung.

Ia tersenyum, sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada cela di setiap lengkung tipis bibirnya.

Adie, aku berjanji. Aku tidak hanya menjadi intro, tapi juga menjadi lagu yang kau nyanyikan sepanjang hidupmu.

****

Doddy Rakhmat
20.10.2015

Karam

'Karam'
Ada delapan lembar foto berukuran kecil. Pas untuk di dompet, lalu kita sepakat membaginya sama setengah. Berjanji selalu menyimpannya. Sampai kapanpun, akan tersemat di sana.
Dan di danau inilah pertama kali berjumpa, aku memandangi kembali bergantian foto-foto kita berdua. Ada luka yang menyelinap hati. Tak terasa pipi membasah, beberapa penumpang menoleh. Cepat-cepat aku menyembunyikan wajah sedih.
Matahari membayang permukaan danau. Memecahnya menjadi kilau jingga. Sebentar lagi ia tumbang berganti bulan. Begitupun perahu yang mengantarku sekarang, tidak ada yang berani berkeliling danau di kala malam. Pikiranku melayang ke sebuah restoran seminggu yang lalu.
"Kita putus."
Dua kata yang teramat sakti, membuat sakit hati bagi para penerimanya. Bagai saklar yang mudah  dihidupmatikan, begitukah menurutmu?
Acapkali melihat foto kita yang tersenyum bahagia, tak pernah terlintas bila kau memberi luka padaku.
"Leo, bisakah kau jelaskan mengapa hubungan kita ini harus berakhir?"
Pemuda yang baru saja menyelesaikan gelar sarjana itu mengabaikan pandanganku. Titik air melukis jendela, hujan di luar sana. Juga hujan di dalam hati.
Tanpa memandangku, Kau malah menjawab dingin, "Aku harus pergi ke luar negeri, Patira."
Aku terhenyak, bukan alasan yang cukup menyudahi hubungan delapan tahun lamanya. Tak penting hadiah atau benda yang kami saling berikan, namun waktu. Ya, dua insan yang telah saling mengasihi, akan rela mengorbankan waktunya untuk orang yang mereka cintai. Itu lebih berharga dari apapun. Akhir yang tak menyenangkan hanya menyisakan belati yang menancap di hati. Bahkan aku sendiri tak sanggup mencabutnya.
"Bukankah kita bisa menjalani hubungan jarak jauh?" tanyaku sekali lagi untuk meyakinkanmu.
Kau masih membuang wajah.
"Aku tak bisa."
"Kamu pasti bisa, Leo. Kamu hanya perlu percaya padaku."
Nada suaramu meninggi, "Aku tak mau disiksa oleh jarak."
Dirimu menggebrak meja. Pengunjung yang lain tentu saja terkejut. Kau melangkah pergi menerabas hujan. Membiarkanku sendirian, menangis tersedu tanpa sebuah kepastian jawaban.
Danau kala senja itu menjadi saksi bisu, aku telah mengaramkan kenangan tentangmu. Tentang kita. Empat foto itu pupus semakin jauh ke dasar danau. Dalam genggaman tanganku. Entahlah, apakah engkau masih menyimpan empat lembar lainnya di sana?
~Doddy Rakhmat
19.10.2015

Rabu, 09 September 2015

Ajari Aku Jatuh Cinta (Lagi)

Cinta adalah sebentuk multitafsir. Setiap orang menerjemahkannya dengan definisi berbeda-beda. Ada yang bilang cinta itu tentang memiliki. Pengorbanan. Ada juga yang menyebutnya luka. Mungkin cinta dipengaruhi oleh masa lalu. Apa yang pernah ia alami dan rasakan.
Pukul jam 11 malam, aku disambut oleh rumah yang gelap. Hanya ada makanan tadi siang yang tak sempat kusantap di atas meja. Aku merebahkan diri di atas kasur. Satu hari lagi terlewati. Satu hari sendiri. Lagi.
Kadang saat sendiri orang-orang sepertiku memahami bagaimana cara mencintai diri sebelum mencintai orang lain. Sejujurnya aku ingin jatuh cinta. Lagi. Tapi aku betul-betul belum siap untuk terluka kembali.
Baru kuselesaikan salah satu buku yang kubeli saat di kota tadi. Entahlah cara membunuh waktu yang paling kusukai adalah dengan membaca. Sejak setahun silam aku mulai mengumpulkan buku-buku yang hanya satu kali aku baca. Setelahnya mereka tersusun di lemari kaca. Sebuah catatan kecil aku temukan di salah satu buku pemberian seorang wanita yang ku tak tahu parasnya. Saat itu aku duduk di bangku taman. Wanita itu tiba-tiba melemparkan ke pangkuanku sebuah bungkusan rapi. Ia bergegas pergi dengan sepeda.
Aku membukanya sampai di rumah. Menyadari buku ith seolah ditulis olehnya. Dan entah mengapa aku merasa jatuh cinta. Kepada orang yang tak kukenal. Tapi aku mengenal baik dirinya dari buku yang diberikan.
Karena itulah setiap sore sebelum pulang ke rumah, aku menyempatkan singgah ke taman. Menunggu. Berharap ia akan kembali. Nihil. Namun hari ini, aku tak sempat menungguinya. Karena ada pekerjaan tambahan di kantor. Ya hanya menunggu. Bagiku cinta adalah menunggu. Sesederhana itu.
Aku memeriksa setiap toko buku. Berharap menemukan informasi tentang si penulis buku yang kubawa selalu kemana-mana itu. Tapi tidak ada satu pun yang mengetahui. Betapa asing dan misteriusnya wanita itu membuat aku semakin ingin tahu.
Lalu aku temukan titimangsa di salah satu tulisannya. Tertulis alamat dan tanggal ia menyelesaikan bukunya itu. Baru kali ini ada penulis menuliskan alamatnya dalam buku. Heran juga setelah sekian lama aku baru menyadari. Dan saat aku baca.  Astaga ternyata, alamat itu tepat di seberang jalan rumahku. Aku mengenalnya. Ya aku mengenalnya.
Lalu aku membuka tirai jendela melihat ke seberang jalan. Ia ada disana. Sedang duduk di teras rumah. Dan melemparkan senyum ke arahku.
Baginya cinta adalah menunggu. Dan bagiku cinta adalah mencari. Terima kasih telah mengajariku jatuh cinta (lagi).
~doddy rakhmat
09.09.2015