Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2016

Pemenang Giveaway Tere Liye

Selamat pagi, siang, malam para pembaca setia blog Doddy Rakhmat.com setelah lebih dari sebulan Giveaway Tere Liye berlangsung. Hari ini saya akan mengumumkan pemenang beruntung yang akan mendapatkan buku karya Tere Liye berjudul Pulang dan Hujan edisi TTD.

Cerpen ini saya pilih atas pertimbangan teknik bercerita, mengurai konflik dan menghidupkan semua karakter dalam cerita tergolong bagus dan nyaman untuk dibaca. Walaupun masih ada beberapa kata yang harus disesuaikan EYDnya menjadi catatan pembelajaran bagi pemenang.

Ini dia ceritanya!

------------

PULANG
(Harisma Wardani Ningtyas)

Kabut tipis menuruni kaki bukit menyertai kepulangan Ayah dari perantauannya. Kokok ayam masih belum usai. Sisa hujan semalam membuat udara pagi ini dingin menusuk. Ia menggendong sebuah tas ransel lusuh. Langkahnya tegap. Di tangan kirinya membawa sepasang sepatu baru berwarna putih bersih. Kontras dengan baju kemeja yang dipakainya. Kami baru saja selesai menimba air, mengisi tong-tong besar untuk kebutuhan sehari-hari.
Aku -Mada- dan ketiga saudaraku, Gani, Rumpun dan Lara berdiri di depan rumah menyambut kedatangan Ayah. Hampir dua tahun ia pergi. Dan sebelum musim panen padi inilah dirinya pulang. Mata kami tertuju pada satu hal yang sama. Sepatu.

"Mak, Ayah pulang…" teriak kami serempak memberitahu Mamak.

Prang.

Terdengar bunyi barang pecah belah menghantam lantai. Kami tersontak kaget lantas berlarian ke sumber suara dan mendapati Mamak terbelalak pucat, menatap kepingan piring yang berserakan tak jauh dari kakinya. Ketika ia mengalihkan pandangan ke arah kami, wajahnya tampak merah. Tanpa memperdulikan pecahan yang ada ia berjalan ke ruang depan, menemui ayah dan tanpa basa-basi langsung menamparnya.

"Kenapa kau pulang sekarang, hah?" seru Mamak murka. "Bukankah kau kata di suratmu waktu itu kau tidak akan kembali?"

Kami terkejut, dan lebih lagi ketika ayah hanya diam saja. Setelah Mamak tak lagi berkata, perlahan ia menurunkan sepatu putih yang dipegangnya dan meraih sebuah amplop dari dalam tas. Lalu berucap, "Uang, untuk anak-anak."
Mamak terpaku menatap amplop itu, lalu menerimanya, tanpa sadar meneteskan air mata yang semakin lama semakin banyak. Tak mengerti, kedua adikku yang terkecil bergerak maju, memeluk Mamak yang kini tersendu.

Aku hanya menatap ayah, memeluk Gani yang juga tampak tak yakin dengan situasi yang kami hadapi saat ini.

Ekspresi ayah juga tampak begitu sendu, namun senyum yang mengembang di bibirnya jelas menunjukan bahwa setidaknya, ia saat ini bahagia.

"Aku pulang."

Suasana setelahnya tak lebih baik dibandingkan sebelumnya. Mamak memilih untuk kembali ke dapur, memilih menjauhi ayah untuk sementara waktu. Matanya yang merah tak luput dari perhatianku. Membuatku sedikit banyak berpikir, mengamati dengan penuh perhatian pada sosok ayah yang kini tampak sedang tersenyum bersama saudaraku yang lain.
"Jadi bagaimana kabar kalian?" tanyanya sambil menarik Lara ke pangkuannya. Gadis mungil itu tertawa, memegangi kedua tangan ayah yang melingkari pinggangnya. Merasakan kembali bagaimana rasanya memiliki sosok lain selain Mamak di dalam keluarga ini.

Ganilah yang akhirnya membalas balik, "Ayah sendiri, bagaimana di sana? Kota itu bagaimana?"

"Bagus, banyak gedung. Dan jalannya rata." Jawaban tipikal, namun dari cara bicaranya, kurasa ia memang menganggap hal itu penting untuk kami ketahui.
"Waa," serempak kedua adik terkecilku berseru.
"Nah, bagaimana dengan kalian? Mada? Sekolahmu bagaimana?"

Aku yang sedari tadi hanya terdiam tersentak. Berkedip beberapa kali sebelum memaksakan seulas senyum di wajah. Apa yang harus kukatakan? Bukankah seharusnya di sini aku yang bertanya? Kenapa ayah tak pernah mengabari? Kenapa Mamak tadi menangis? Kenapa — "Mamak tidak bisa mendaftarkanku, jadi sekarang aku membantu di tuan Ringo," ujarku akhirnya, tanpa sadar membuat Gani bungkam.

Aku hanya melirik adik lelakiku itu. Mungkinkah ia masih merasa bersalah karena masih menganggap dirinyalah yang membuatku tak bisa melanjutkan pendidikanku lagi?
"Oh..." Ekspresi Ayah seperti sedang mencoba menelan informasi yang kuberikan tadi bulat-bulat. "Kalau Gani, Rumpun?" tanyanya dengan nada kembali ceria.
"Baik, sekolah juga," balas Gani sambil tersenyum kecil.

Ayah ikut tersenyum. Menundukan pandangannya pada Lara yang kini bermain-main dengan jarinya ketika ia membisikan kata selanjutnya.

"Baguslah."

Kalaupun aku mendengar, aku memilih untuk tidak berkomentar.

Setelah makan siang, Ayah memutuskan untuk mengunjungi rumah kakek nenek yang tak jauh dari rumah. Mamak sendiri sibuk mengupas bawang — dibantu Gani dan Rumpun. Setelah selesai memotongi kayu untuk persediaan memasak, aku pun memilih untuk menyusul ayah, mengetahui benar jika mungkin akan lebih baik jika pertanyaanku ini kutanyakan tanpa kehadiran anggota keluarga yang lain.
Jadi aku pun pamit, beralasan pergi ke rumah Deni untuk membantunya merawat koleksi burungnya lagi. Mamak menggeleng, mengerutkan kening. Bergumam mengenai apa sebenarnya yang menarik dari merawat burung-burung semacam itu. Yang mana hanya kubalas dengan kedua bahu terangkat tak acuh. Namun sejenak, aku senang karena Mamak tampaknya sudah tidak memikirkan kejadian tadi pagi.
"Aku pergi dulu," ujarku sambil berjalan pergi.

Kucoba, namun nampaknya gagal. Oh, harusnya aku tak terkejut jika sampai mendengar suara amarah menyertai kepergian ayah dari rumah kakek nenek. Aku menatap balik, ayah yang kini memandangku dengan raut kecut. Ia memaksakan wajah lelahnya tetap terlihat kuat. Menghampiriku sambil berkata, "Mau ke warung?"
Aku hanya mengangguk, kaku.

"Kau mau kemana?"

"Menemui ayah," jawabku memilih untuk jujur. "Bertanya. Tapi aku tak yakin Mamak akan setuju jika aku melakukannya di rumah."
"Ya, ya, aku paham." Ia mengangguk ketika memesankan dua gelas kopi untuk kami berdua.
"Jadi apa yang kau tanyakan?" tanyanya sambil mengaduk kopinya sebelum menyesapnya lamat-lamat.

Sejenak, aku menatap ke arahnya, mendapati bahwa pikiranku mendadak kosong. Seluruh pertanyaan yang sudah kususun menghilang entah kemana. Kupandang arah lain. Lalu akhirnya memilih untuk mengatakan apapun yang ada di pikiranku saat ini.

"Sepatu ayah..." Aku kembali teringat warna putihnya yang tak memiliki setitik noda sedikitpun. "... baru, ya?"

Ayah tertawa. "Itu untukmu. Aku belum bilangkah? Hah! Sudah tua rupanya aku ini," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya. "Kau ingat dimana aku menaruhnya tadi?"

Aku mengangguk, menuangkan kopiku pada tatakan gelas dan pelan-pelan meminumnya dari sana. "Rumpun meletakannya di almari tadi."

"Hoo."

Mengulum bibir, aku memutuskan untuk bertanya lagi, "Kau... tak memberi kabar. Kenapa?"

Dan ia terbelalak, lalu tersenyum. Menatap kopi lagi dan berkata lirih.

"Begitukah? Mamakmu... Tentu saja, ia pasti menyimpannya sendiri."

"Maksud ayah?"

"Ayah, cuma berkunjung di sini," ujar ayah selanjutnya. "Memang apa yang Mamakmu katakan selama kepergianku?"
Aku mengerutkan kening, tak mengerti apa hubungan dari kedua perkataan tersebut. Namun aku tetap berkata, "Mamak bilang ayah merantau, cari uang. Kalau iya kenapa ayah tidak mengirim apapun? Apa Mamak menyimpannya sendiri? Kenapa Mamak menampar ayah tadi? Maksudku —" Aku tersedak. "Kau tahu, terkadang tetangga sering berkata miring pada Mamak. Bilang kalau ia —"
Aku tak bisa melanjutkan.

Pada akhirnya tak ada pertanyaanku yang terjawab. Dan setelah pembicaraan itu terjadi, aku baru menyadari betapa pucatnya wajah Mamak semenjak tadi pagi. Ia tampak mencoba bersikap sewajarnya di hadapan ayah. Menimpali setiap ucapan dengan nada datar yang tak mewakili sedikitpun perasaannya.
Namun tentu, kami menyadari betul betapa canggungnya suasana tersebut. Meskipun mungkin, hal itu luput dari perhatian kedua saudaraku yang terkecil, yang sampai saat ini masih dengan riangnya bergelayutan pada ayah. Mencoba menyampaikan kerinduan yang sudah lama mereka pendam.
Aku sendiri, dan Gani,memutuskan untuk diam-diam memperhatikan saja. Bahkan ketika kami sadari tas ayah masih teresleting rapi. Atau ketika Mamak berujar pelan saat dua saudara kami bermain di perkarangan, tak mengacuhkan kami yang masih duduk di dalam rumah, dimana membuat kami otomatis masih bisa mendengar pembicaraan mereka yang kini duduk berdampingan di teras depan.
"Apa yang terjadi?" tanya Mamak. Kami hanya dapat melihat punggung keduanya. Sehingga akhirnya mencoba menebak sendiri ekspresi apa gerangan yang sedang ditunjukan oleh mereka.
Ayah terdengar menghela nafas sebelum akhirnya menjawab.

"Ia meninggal. Anak-anak ditinggalkan ke rumah nenek mereka."

Aku tahu, aku tahu seharusnya ucapan itu — UCAPAN ITU berarti sesuatu lebih untukku, untuk Mamak, untuk kami. Namun Mamak dengan mudahnya hanya membalas balik, bahkan tak sedikit pun mencoba mengkonfirmasi.

"Hmm."

Ayah tampak mendongak, menyesap batang rokok ketika setelah kediaman yang terjadi beberapa saat diantara mereka akhirnya diputus saat ia mengatakan.

"Kau mengerti bukan? Jika aku pergi lagi, kali ini. Aku mungkin tidak akan bisa kembali. Mereke membutuhkanku. Dan kau pasti mengerti."
"Tak apa. Pergi saja," Mamak masih tak acuh saat membalasnya.

"Aku... akan mengirimkan uang." Kini ia mengucapkan itu dengan nada mencoba meyakinkan, entah untuk dirinya sendiri atau Mamak yang masih pasif dalam kebungkamannya.
"Tak usah kau repotkan diri. Aku tak perduli."

"Kau perduli," Ayah berkata balik.

Mamak terdiam. Kepalanya yang tertunduk didongakan. Menatap ke arah Lara yang kini sedang mengejar anak ayam tetangga dan Rumpun yang memetiki bunga-bunga rumput liar saat ia menjawab, "Ya."

Ayah berkata sekali lagi, "Kau masih perduli."

Mamak kali ini tak coba lagi menimpali.

Entah esok, atau lusa, ketika ayah memutuskan untuk pergi lagi dan meninggalkan kami, desa akan dipenuhi oleh kabar miring; mengenai Mamak kami yang ditinggal melarikan diri. Aku hanya menatap ke sepasang sepatu putih yang masih bersih di almari. Mencoba menetapkan hati atas apa yang sebenarnya keluargaku ini alami.
Kenyataan bahwa Mamak bahkan tak mengelak dari segala tuduhan tersebut, harusnya menyadarkanku bahwa prasangka yag kupendam memang benar adanya.
Namun Mamak hanya tersenyum. Dan berkata, "Kau harusnya mengerti, Bujang. Ayahmu itu bukan pergi, ia pulang kembali."

Dan ketika aku mengerti maksud ucapan tersebut, aku tak bisa menahan diri — aku pun menangis.
Rumah kami bukanlah rumahnya lagi.

------

Selamat buat Harisma, semoga bukunya bermanfaat dan teruslah menulis untuk kebaikan!

Salam,

Doddy Rakhmat

Minggu, 18 Oktober 2015

Alien Salah Jurusan

Jalan depan rumah ramai bukan main, bukan karena presiden lewat. Di ujung gang, di rumah Pak RT lagi ada pesta sunatan anaknya. Panggung dangdutan itu persis menutup jalan, menghalangi lalu lalang kendaraan. Alhasil, semua pemakai jalan memutar arah, tak sedikit juga yang malah terjebak menonton dangdutan. Aku bertanya sama Mang Ali sewaktu lewat depan rumahku, ia menjawab, "Lumayan neng, tadinya mau beli rokok di warung, eh malah dapat hiburan gratis."
"Mah, aku berangkat ke kampus dulu ya!" Teriakan pagi itu menyita perhatian Abah. Masih lengkap dengan sarung dan kaos putihnya, ia keluar sambil membawa helm yang baru dibelinya semalam. Warnanya pink dengan stiker bunga di belakangnya. Bukan aku banget.
"Tuti, pake helm ini. Abah udah beli yang standar. Copot helm kodokmu itu." Perintah Abah tangannya menyodorkan Si Helm Pinky. Tak kuambil. Sengaja.
Aku merengut, tak suka. Setengah hati melepas helm kesayanganku. Baru setengah senti helm terangkat, langsung kukenakan lagi. Dan buru-buru pergi, Abah langsung berteriak. Sumpah serapah untuk anak gadisnya yang tak tahu di untung. Mengejarku sampai luar pagar.
"Jangan merengek ke Abah, kalau kamu kenapa-napa di jalan." ujarnya setengah mengancam.
Aku tak menghiraukannya. Lagipula suaranya sudah kalah dengan pengeras suara musik dangdut acara pak RT. Tiba di perempatan sebelum jalan raya, ada yang memotong jalanku. Belok tanpa lampu sein,hampir saja aku jatuh. Lantas aku berteriak memekakan telinga.
"KALAU BELOK, KASIH LAMPU DONG!"
Abang tukang ojek perempatan ikut menimpali dengan senyum mesem-mesem, Udah neng. Jangan marah-marah, entar cepat tua lho. Disusul gelak tawa abang-abang lainnya. Kalau saja masih banyak waktu, mungkin kuladeni sindiran abang-abang itu. Tapi cepat-cepat aku kembali focus untuk sampai di kampus tepat waktu. Ada Pop Quiz dari salah satu dosen killer, terlambat sedikit bisa mengulang mata kuliah semester depan.
Hampir dekat kampus, lagi-lagi ada yang hampir menyerempetku, kali ini ibu-ibu begajulan. Sudah memberi lampu sein ke kiri, eh malah belok ke kanan. Ini ujian dapat SIM nya remedi atau bagaimana sih? Heran, pikirku.
Beruntunglah, aku tak telat. Kuliah pagi ini lancar jaya. Dan baru sadar, kalau ibu-ibu begajulan tadi itu dosen killerku. Tugas-tugas mingguan masih menumpuk, daripada di kampus. Aku memilih pulang. Jalanan tak terlalu sepi. Belum jauh dari kampus, di sebuah simpang jalan. Ada razia kendaraan dari satuan Polantas. Dua sejoli yang sedang berboncengan mesra tiba-tiba berbalik arah. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. Si pria sudah keringat dingin, aku sudah bisa menebak, pasti dia belum punya lisensi berkendara. Jadi perlu diingat buat yang mau boncengin pacaranya sambil naik motor atau mobil. Pastikan dulu selain punya STNK juga harus punya SIM, Surat Izin Mencintai, eh Mengemudi.
Simpang itu kulalui dengan aman. Tanpa pemeriksaan. Terbayang masa lalu dulu, si Ayip yang rela memboncengku ke sekolah, padahal kami masih berseragam putih biru. Tentu belum cukup umur membawa sepeda motor, aku mengira itu termasuk salah satu hal heroik. Ternyata nggak sama sekali.
Bruk.
Aku mengaduh. Karena asik melamun, aku tak melihat lubang besar di jalan. Dan terjatuh ke dalamnya. Abang-abang di perempatan jalan tadi ramai-ramai menolong. Syukurlah hanya lecet di tangan dan lutut. Kalau sampai di wajah, kan harus operasi plastik. Aku berterima kasih kepada mereka, impas. Pupus sudah niat pembalasan sindiran tadi pagi.
****
Sepanjang jalan kenangan, kita kan selalu bergandeng tangan..
Sepanjang jalan kenangan, kau memeluk diriku mesra..
Lagu lama diputar dari radio butut milik Abah, ia sambil mengelap helm yang masih mengkilap. Aku sampai di teras rumah. Memarkirkan kendaraan di garasi. Burung-burung peliharaan Abah menyambut dengan celetukan nakal.
"Neng, bagi pin BB nya dong."
Entah darimana burung beo itu meniru, kurasa Abah sering menggoda tukang sayur komplek.
Abah dengan semena-mena mengubah lirik lagunya dengan sedikit memaksa dan menyanyi dengan suara seadanya.
Sepanjang jalan S.Parman, kita selalu pake helm standar..
Sepanjang jalan Sudirman, lampu sorot kita nyala..
"Eh sudah pulang Tut?" sahutnya sesaat kemudian ia menoleh ke arahku. Abah langsung tertawa lepas. Melihat baju dekil plus luka-luka lecet di tanganku. Bukannya ditolongin, malah diketawain, batinku.
"Tuh kan, apa yang Abah bilang. Harusnya tadi nurutin kata-kata Abah. Kualat kan?"
"Abah, kolot banget sih. Kan malu pake helm begitu ke kampus."
"Kenapa musti malu,Tut? Kenapa?"
Mendengar keributan dari teras rumah, Mamah keluar dari balik pintu. Ia membawa sutil penggorengan.  Disusul aroma semerbak ikan asin goreng. Roll rambutnya masih terpasang sejak pagi. Rencananya mau persiapan ke acara pak RT, jadi dandannya harus maksimal. Biar gak kalah sama ibu-ibu komplek yang lain.
"Mah, jelasin ke Abah deh. Dari tadi maksa pake Helm SNI." ujarku mengadu.
Mamah mendelik ke Abah.
"Kamu mau ngebela si Tuti? Ini aku nyiapin perlengkapan buat dia aman berkendara lho, Mah. Helm SNI. Abah kan baru ikutan sosialisasi di kantor lurah. Pak Polisi lalu lintas mengajarkan yang baik untuk masyarakatnya. Eh, kenyataan malah masih banyak yang ngelanggar juga." Abah sambil menunjuk kendaraan yang lalu lalang di depan rumahnya. Ada yang tak pakai helm. Lampu sorot mati. Belok tak pakai lampu sein. Kaca spion yang cuma satu. "Mau dibawa kemana muka Indonesia ini, Mah? Kalau budaya berkendaranya saja masih begitu." lanjutnya lagi.
Mamah hanya diam membiarkan Abah menjelaskan panjang lebar. Ia tahu Abah belum puas menceramahi. Tak berapa lama Jukri, anak tetangga sebelah lewat. Menuntun motornya sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
Tuh, tuh lihat si Jukri. Pasti gara-gara gak pake helm tuh. Kepalanya sampai bedarah-darah gitu. Abah menunjuk-nunjuk si Jukri yang lagi lewat.
"Astaga, Juk. Kenapa kepalanya?" tanya Mamah prihatin.
"Biasalah mpok, gara-gara ada yang tawuran dekat sekolah. Eh, malah kena timpuk batu nyasar. Apes. Apes."
"Rasain. Makanya Juk, pakai helmnya. Biar gak tambah berabe urusannya. sahut Abah penuh kemenangan. Jukri menangis sepanjang jalan. Bapaknya terkenal galak. Apa jadinya kalau lihat anaknya macam begitu.
Kembali ke perdebatan yang belum usai. Ikan asin yang di goreng mendesis.
"Iya, Abah. Tuti itu bakal nurut semua yang Abah sampaikan kalau memang sudah tepat waktunya." Ujar Mamah.
Aku diam, tak menatap Abah. Melihat jalanan yang masih ramai. Lututku masih perih bekas terjatuh tadi. Perlahan-lahan aku berjalan meraih kotak obat di ruang tamu. Membersihkan luka, sambil menahan sakit. Abah ikut pindah, Mamah kembali ke dapur menyelesaikan urusan ikan asinnya. Lalu kembali bergabung bersama kami.
"Tepat waktunya gimana? Nih Abah kasih tahu ya, kalau namanya Safety Riding itu banyak manfaatnya. Selain melindungi diri sendiri, juga orang lain. Kalau belok ya harus pasang lampu sein ke arah yang benar. Kalau malam ya harus dinyalain lampu sorotnya, jangan dimatiin. Apa dikira pengemudi di jalan ini bisa sulap kayak di tivi-tivi itu apa, yang pakai ditutup matanya. " jelas Abah menatap kami bergantian.
"Ya itu kalau Tuti sudah dibelikan motor sama Abah. Masa Abah mau suruh Tuti pake helm SNI tapi dianya naik sepeda. Kan lucu, Bah." jawab Mamah.
"Tapi kan harus tetap Safety Riding, Mah. Berkendara itu harus mengutamakan keselamatan." Abah tak mau kalah berkilah.
"Duh, Abah ini apa mau nanti dibilang anaknya gak waras atau gimana sih. Kan Tuti udah benar pake helm sepeda. Nanti kalau kemana-mana pakai itu, disangka Alien salah jurusan lagi." Aku membela diri.
Abah langsung garuk-garuk kepala. Sepertinya tidak gatal, tapi karena malu dan tengsin.
Berkendara secara tertib dan aman bukan saja melindungi diri kita, tapi juga orang lain, orang-orang yang melanggar aturan tertib lalu lintas itu berarti hanya mementingkan ego nya saja. Kita harusnya sadar bahwa jalanan adalah tempat rentan terjadinya kecelakaan, urusannya bisa sampai membuat nyawa melayang. Sayangi diri kita dan keluarga, caranya? Dengan patuh berkendara.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen, 'Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.' #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Minggu, 26 April 2015

[Diperpanjang] Giveaway Lorong Waktu

Selamat pagi, siang, malam
Pembaca setia blog DoddyRakhmat.com

Melihat dari judul postingan, pasti sudah pada excited ya.
Untuk kedua kalinya di tahun 2015 saya mengadakan GiveAway berhadiah buku lagi. Horeeee..

Buku yang saya mau bagikan adalah buku pengembangan diri berjudul Lorong Waktu karya Monde Ariezta. Bahasa dalam buku ini tidak menggurui, banyak memberikan contoh dan metode yang asik untuk memanajemen waktu. Kebayang dong, dari sampul bukunya aja kita sudah dibuat takjub. Bagaimana punya 100 jam dalam sehari? Padahal normalnya hanya 24 jam bukan?

"Waktu adalah misteri. Yang menaklukannya adalah sang penguasa kehidupan"
-Doddy R-

Oke, giveaway kali ini saya mengajak kalian semua untuk menulis cerpen. Berikut adalah ketentuannya,

1. Peserta wajib memfollow blog Doddy Rakhmat dan twitter @dodddod
2.  Cerita pendek merupakan karya orisinal oleh peserta bukan hasil plagiasi dan belum pernah dipublikasikan di media cetak maupun internet.
3. Di awal cerpen WAJIB di awali dengan kalimat berikut "Seandainya waktu adalah _____ , maka akan_____"
Isi bagian kosong tersebut dengan kata-kata kalian.
Contoh : "Seandainya waktu adalah benda, maka akan kujual"
3. Cerpen dikirimkan melalui email drpks4@gmail.com  bukan di badan email tapi dilampirkan dengan file ms Word format tulisan spasi 1,5 , margin 3-3-3-3 cm, times new roman 12 pt. Subjek email : GADR_Judul Cerpen_Nama kamu
4. Panjang cerpen yang dikirim sebanyak 5-8 halaman.
5. Peserta hanya boleh mengirimkan SATU karya terbaiknya
6. Di bagian akhir cerpen cantumkan data diri (Nama, alamat rumah lengkap, no.hp, dan akun twitter)
7. Setelah mengirimkan cerpen, peserta agar mention ke twitter @dodddod  dengan format
"Sudah mengirimkan cerpen (isi judul cerpenmu) untuk mengikuti #GiveawayLorongWaktu www.doddyrakhmat.com"
8. Deadline pengiriman cerpen 25 Mei 2015  pukul 23.59
9. Dua pemenang yang beruntung akan diumumkan via blog dan twitter pada tanggal 31 Mei 2015 pukul 20.00
10.  Buku akan dikirimkan ke alamat yang dicantumkan pada data diri.

Selamat menulis! Siap menuju Lorong Waktu!