Rabu, 06 Mei 2015

Senja Renta

Basah hujan masih membias di jalanan kota. Hilir mudik belum terlalu ramai. Hanya satu dua kendaraan melesat cepat takut kehilangan kesempatan. Mungkin ia juga lupa dengan kehilangan nyawa.

Bertahun-tahun sudah dalam hiruk pikuk ini, untungnya aku tak pikun. Jemariku masih lihai meracik minuman warna warni itu. Tak mewah tapi ramai dicari penikmatnya.

Senja terlanjur renta bersamaku, waktu tak pernah lelah berputar mengukur zaman. Rambut semakin beruban, badan tampak menanggung beban. Namun, ada sejentik bahagia saat senyum itu mengembang dari pelanggan. Artinya aku melayani raja dengan baik. Mereka adalah raja-raja yang baik. Mereka yang kuharap bisa mengubah masa depan. Memberi sekelumit ketenangan di hari tua yang menjanjikan.

Terima kasih telah menjadi Raja yang baik.
Biarkan sekali lagi senja ikut renta. Agar semua tahu bahwa dunia juga memiliki umur yang tak lama. Sehingga raja-raja tak lupa hakikat tahtanya.

~Doddy R
06.05.2015

#RabuMenulis

6 komentar:

  1. Hidup yang penuh liku. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah begitulah kehidupan.. Life is never flat

      Hapus
  2. Kadang kalo gua ngeliat bapak-bapak tua yang ngejual barang dagang di pinggir jalan, gua suka inget kakek sendiri. Hebatnya, mereka selalu punya senyum tulus pas ngelayanin pembeli, dan ya... jari-jari mereka masih lihai ngeracik minuman (dalam kasus penjual minuman).

    "Rambut semakin beruban, badan tampak menanggung beban." Tulisan yang bagus :-)

    BalasHapus