Rabu, 18 Maret 2015

Kopi dari Langit

Bibir mengecap kelu
Merindu butiran serbuk hitam

Tangan ku merentang bermunajat
Semacam memanggil hujan tapi bukan
Menengadah dengan setangkup cangkir putih
Berharap kopi jatuh dari langit

Hingga aku jatuh tenggelam di dalamnya
Terhanyut dalm buai kafein dan sugesti
Aku terjaga
Mencinta
Kemudian sirna

Mengampas di kaki-kaki bumi
Di tangan ku ada secangkir kopi dingin
Langit sedang berbaik hati
Terima kasih

Kusesap perlahan nikmat
Membasahi langit-langit mulut
Dan kata hati ku tersadar

Nikmat apa lagi yang kudustakan selama ini?

~Doddy R
Menjelang senja
Di sebuah kamar mess

6 komentar:

  1. Maka nikmat Tuhan mu yang mana kah yang kau dustakan?

    Hehe Ar-rahman

    BalasHapus
  2. Begitulah nikmat kopi yang selalu menjejali :)

    BalasHapus
  3. Junita Finanty20 Maret 2015 11.57

    Namun sayang, nikmat itu meninggalkan sesap pahit memekat.a

    BalasHapus