Selasa, 09 Februari 2016

Senyum Yang Tertahan

Pertengkaran tadi malam sama hebatnya dengan hujan yang tumpah ke bumi. Sumpah serapah keluar bersahutan dari mulut Pang dan Ulis. Meributkan urusan kopi yang tak tersaji saat Pang pulang kerja. Mereka telah dibutakan oleh rasa cemburu yang dipendam masing-masing, hingga membakar amarah dalam diri mereka.

Pang keluar dari rumah setelah membalik meja kayu ruang tamu. Berdebam keras. Ia tahu kalau Ulis mulai dijodoh-jodohkan dengan lelaki lain yang lebih kaya menurut orang tuanya.

Persetan dengan cinta, umpat sang mertua kala Ulis memohon untuk tidak menjodohkannya padahal ia masih bersuami.

Pandangannya mengabur kalap, kepalanya semarak dengan ide-ide jahat. Langkahnya diburu oleh ribuan setan dalam hati. Memegang pisau untuk membuka karung yang sering dibawanya bekerja. Pang mendatangi kedua mertuanya yang baru saja menghadiri kawinan tetangga. Di gang sempit komplek, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Pisau digenggamannya sudah bekerja. Menghujam jantung Ibu Mertuanya. Sang suami membela, menampar Pang namun pukulannya terlalu pelan. Tenaganya ringkih dimakan usia. Si menantu menendangnya hingga jatuh tersungkur. Seketika ia menghujani tubuh kedua mertuanya dengan pisau tanpa ampun. Bau amis darah menyeruak.  Teriakan mereka mengundang warga kampung. Darah menggenang di got-got bercampur air comberan. Warga bak pahlawan kesiangan hanya menemukan dua jasad orang tua yang bertindihan. Tidak ada Pang di sana. Hanya ada jejak-jejak kaki warna merah darah di jalanan. Menjauh dari tempat perkara.

------

Anjing itu mengetuk pintu rumah berkali-kali. Melolong minta dikasihani. Bersaing parau dengan suara kumandang takbir. Anjing itu tetap menangis hingga pagi. Seolah meminta pengampunan. Anjing itu telah membunuh orang tua yang terlalu egois dengan pendiriannya. Anjing itu suaminya sendiri.

Tidak ada yang kembali ke fitrah menurut Ulis. Suaminya telah menodai bulan penuh berkah dimana orang-orang menjadi suci bersih. Pang diringkus saat ia kembali ke rumah Ulis untuk meminta maaf. Bahkan gadis yang dinikahinya, yang telah menemaninya tidur menghabiskan malam-malam yang dingin tak menampakkan hidungnya barang sejenak.

------

Setelah mendekam di balik dinginnya jeruji besi hampir seperempat abad, Pang bebas. Ia melangkah merdeka keluar dari dinding beton yang menutup dirinya, melenggang mengenakan kemeja yang sama saat ia masuk. Tak berubah warna dan baunya. Dan yang ia pikirkan pertama kali adalah Ulis. Apakah istrinya itu masih menanti seorang mantan pembunuh? Atau sudah tenggelam dalan pelukan lelaki lain.

Selama dalam pengasingan, Pang sering tidur telanjang, membiarkan angin malam menusuknya hingga menggigil. Berharap malaikat maut ada di antaranya. Sipir-sipir yang berjaga kadang menganggapnya sudah tak waras. Bahkan Pang menjadi sosok pendiam, jarang ditemui ia berbicara sepatah dua patah kata dengan penghuni lainnya.

Membunuh mertuanya adalah hal tergila seumur hidup. Ia sudah muak dengan nasihat yang tak lebih dari sekedar cercaan. Meremehkan pekerjaan kasarnya sebagai tukang pikul karung-karung beras di pasar. Karena belum memiliki rumah, Pang menumpang tinggal di rumah mertuanya. Itupun ia jalani dengan berat hati mengingat rumah sempit itu dipaksakan ditinggali dua keluarga. Ibu mertuanya bagai burung berkicau kesana kemari, menceritakan aib keluarganya sendiri. Menyesal atas restu yang diberikannya kepada Pang untuk menikahi anak gadisnya. Hingga tercetus pemikiran bodoh oleh kedua mertuanya untuk menjodohkan Ulis kepada pria lain.

Warga-warga yang masih mengingat kejadian itu memilih masuk rumah. Enggan menegur sapa dengan orang yang pernah membunuh keji. Pang terus berjalan, seakan tak peduli dengan masa lalunya. Sudah cukup 23 tahun baginya memikirkan dan merenungi di balik gelapnya hotel prodeo.

Rumah yang ditujunya hanya tersisa puing-puing kebakaran, dalam akalnya bermunculan dugaan-dugaan dangkal. Apakah istrinya hangus terbakar di dalamnya saat kejadian atau sempat melarikan diri dan menghilang selamanya dari peredaran Pang. Pang tersenyum. Senyum yang ditahannya selama 23 tahun

~Doddy R
09.02.2016

Sabtu, 06 Februari 2016

Tanpa Cinta

Di suatu malam yang tak begitu ditunggu-tunggu oleh Odin namun begitu didamba banyak sejoli memadu kasih. Ia memilih duduk di antara keramaian sebuah warung di salah satu sudut kota. Deru mesin dan knalpot yang dipacu kencang menggerung jalan bersaing dengan teriakan para penonton bola. 

Di tengah keramaian itu, Odin semacam mendapat ketenangan. Suara-suara sekitar menciptakan gua yang nyaman untuknya bersemayam. Ia tak begitu peduli dengan si kulit bundar ditayangkan di sebuah televisi layar datar di dekatnya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu. Ia ingin menyambut hari esok lebih cepat. Sampai warung tak tersisa pengunjung barulah dirinya pulang. Walaupun esok ia gamang membawa hidupnya kemana. 

Rabu, 03 Februari 2016

Giveaway buku Tere Liye

Selamat pagi, siang dan malam para pembaca setia

Semoga selalu berbahagia :)

Setahun terakhir tentunya sudah banyak cerita dan puisi yang teman sekalian baca dari blog Doddy Rakhmat. Untuk menghargai hal tersebut di tahun 2016 saya akan mengadakan Giveaway Buku dari penulis kenamaan Indonesia sekaligus penulis favorit saya yaitu Tere Liye.

Syarat untuk mengikuti Giveaway buku Tere Liye ini adalah dengan melanjutkan cerita yang belum selesai di post blog berjudul Sambung Cerita (silahkan klik disini)

1. Copy postingan blog Sambung Cerita kemudian tulis kelanjutannya versimu hingga menjadi sebuah keutuhan cerita di file Word dengan ketentuan margin normal, times new roman 12 pt, spasi 1,5 maksimal 8 halaman.
2. Berikan judul sesuai dengan isi cerita. Pada halaman akhir naskahmu lengkapi dengan biodata singkat, alamat lengkap dan no.hp
3. Kirim naskahmu melalui email dengan melampirkan file Word nya ke doddyrakhmat92@gmail.com dengan subjek : SC_Judul cerita_Nama lengkap
4. Periode penerimaan naskah 3 Februari -  20 Maret 2016
5. Pemenang diumumkan melalui blog www.doddyrakhmat.com pada tanggal 25 Maret 2016
6. Satu orang pemenang dengan lanjutan cerita yang paling menarik akan mendapatkan satu paket buku terbaru Tere Liye (Hujan dan Pulang) edisi tanda tangan penulisnya langsung!

Jangan sia-siakan kesempatan emas ini, mulailah menulis, keluarkan kemampuan terbaikmu dan dapatkan hadiah eksklusifnya!

Salam literasi,

Doddy Rakhmat

Sambung Cerita

Kabut tipis menuruni kaki bukit menyertai kepulangan Ayah dari perantauannya. Kokok ayam masih belum usai. Sisa hujan semalam membuat udara pagi ini dingin menusuk. Ia menggendong sebuah tas ransel lusuh. Langkahnya tegap di tangan kirinya membawa sepasang sepatu baru berwarna putih bersih. Kontras dengan baju kemeja yang dipakainya. Kami baru saja selesai menimba air,  mengisi tong-tong besar untuk kebutuhan sehari-hari.

Aku -Mada- dan ketiga saudaraku, Gani, Rumpun dan Lara berdiri di depan rumah menyambut kedatangan Ayah. Hampir dua tahun ia pergi. Dan sebelum musim panen padi inilah dirinya pulang. Mata kami tertuju pada satu hal yang sama. Sepatu.
"Mak, Ayah pulang…" teriak kami serempak memberitahu Mamak.

Prang.

Terdengar bunyi barang pecah belah menghantam lantai. Kami tersontak kaget lantas berlarian ke sumber suara dan….

------

Copy tulisan di atas sebagai awal cerita kemudian tulis lanjutannya sesuai versimu dan dapatkan satu paket buku Tere Liye versi TTD untuk satu orang pemenang.
Info lebih lanjut klik disini