Selasa, 14 Juli 2015

Matahari Terbit Dari Kardus

Hanya debu-debu jalanan yang menjadi saksi hidup bahwa seorang gadis terbuang sepertiku, terperangkap dalam roda-roda kehidupan yang berkarat. Membosankan.  Sejauh mata memandang hanya ada jalan dan lalu lalang kendaraan. Tepian jalan ditumbuhi ilalang setinggi orang dewasa, berayun saat angin melintas dari kendaraan yang melesat.

Sunrise, atau matahari terbit. Jendela kamar belakang rumah makan tempat dimana aku dibesarkan, adalah sudut sempurna melihat matahari muncul dengan gagah di ufuk timur langit.

"Inaaaaaaaai" Suara melengking dari dapur belakang memanggil sepotong namaku. Ya sejujurnya itulah nama lengkapku. Inai. Tidak ada tambahan di depan maupun belakang. Aku pun tak mengenal siapa orang yang memberikan nama itu padaku.

Mungkin umurku sekarang 17 tahun. Ditinggalkan dalam kardus mie instan di tengah belantara kehidupan, bukanlah perkara biasa. Menurut penuturan orang sekitar, aku ditemukan oleh Cik Jalal di suatu pagi yang masih menusuk. Saat tangisanku menarik perhatian seisi rumah makan tanah minang itu. Selepas subuh kala itu, Cik Jalal perlahan membawaku ke 'rumah' baru.

"Duhai bang, apo lah yang nak diolah dari mi instan satu dus pagi-pagi macam ini." Tanya Istri Cik Jalal, orang lebih suka memanggilnya Bu Cik, terkenal galak tapi paling suka musik dangdut lokal.

"Bukan mi instan ini dek, ini bayi." Sahut Cik Jalal pelan-pelan, tidak mau aku terbangun dari kardus mi instan itu. Raut muka Bu Cik berubah seketika, ada ketidaksukaan tergurat dari gestur mata dan bibirnya.

Bertahun-tahun mereka menikah belum jua mendapatkan keturunan. Segalanya usaha sudah ia coba. Dari ujung sumatera sampai ujung jawa. Nihil. Mereka tetap tidak punya anak. Tiap hari Bu Cik bersungut lebih-lebih jika ada pengunjung yang membawa anak-anak mereka yang masih mungil menggemaskan. Maka Bu Cik mengurung diri di dalam kamar yang menyatu dengan rumah makan. Menyalakan lagu-lagu qasidah lama. Kadang membenamkan wajah dalam bantal yang sudah lepek. Kalau sudah begitu, Cik Jalal menghampiri sang istri sekedar menepuk pundak, menenangkan.

Bu Cik tetap menyayangiku walau ia gelagatnya sangat bertolak belakang. Toh, seseorang menyukai kita dengan berbagai macam cara bukan. Mungkin itulah cara Bu Cik menerima kehadiranku. Dengan omelan.

"Inai, tak usah kau lama-lama melamun memandangi jalan. Tak bakal pindah jalan itu." Amru, pemuda seumuran denganku, mengibas-ibaskan kemoceng di wajah kaku terbuai lamunan.

"Aih mengganggu saja kau Am."

Amru terkekeh, melenggang menuju dapur. Entah siapa yang akan dikerjainya di belakang sana. Pemuda yang juga tak seberuntung diriku. Dititipkan oleh sanak familinya beberapa tahun yang lalu, Amru harus putus sekolah karena orang tuanya bercerai dan sama-sama melepas hak asuhnya hingga terlantarlah pemuda berkulit sawo matang itu.

Aku bermimpi ada orang yang dengan gagah berani membawaku dari kungkungan di tepian jalan lintas yang berdebu ini. Aku bermimpi tentang pangeran yang tak berkuda tapi ia mengajakku berkelana ke suatu tempat nun jauh dari tempat aku dibesarkan ini. Sisa mimpi itu kadang kunikmati saat siang tak hanya malam. Di sela melap piring dan gelas. Hingga aku dapat julukan Sang Pelamun dari orang sekitar.

"INAAAI." Suara melengking Bu Cik membubarkan acara lamunanku lagi. Kali ini, bau gosong menyerbak seisi dapur. Astaga, aku lupa mengangkat tempe goreng. Itu artinya tidak dapat jatah makan malam. Sarapan besok pun mungkin hanya segelas teh. Itulah hukuman yang diberikan oleh Bu Cik. Sadis? Tidak juga, bagiku itu mendidik. Pengusaha mana yang mau rugi kalau dagangannya dibuat kacau oleh karyawannya sendiri. Ada puji tentu juga ada pinalti.

"Maaf Bu Cik, maaf." Aku bergegas mematikan kompor. Tempe berwarna aspal itu kuangkat dan kubuang ke tempat sampah.

"Sudah berapa kali Bu Cik bilang Nai, kalau kerja janganlah melamun. Bisa rugi rumah makan ini." Bu Cik setengah memarahi, setengah menasehati.

Aku menunduk memeram wajah merah padam. Amru dari kejauhan tertawa girang. Melihat penderitaan kawannya sendiri. Tawa itu tiba-tiba hilang saat Bu Cik balik badan mulai menyuruhnya membersihkan meja bekas makan.

Sebuah bus ukuran sepanjang sebelas kaki berhenti di depan rumah makan kami. Orang-orang di dalamnya mulai turun. Beberapa diantaranya berolahraga ringan. Menghilangkan penat dan kebas badan setelah perjalanan panjang. Debu jalan menjadi latar belakang. Menambah kesan gersang sudah badan mereka.

Di depan kaca bus itu bertuliskan Masa Lalu - Masa Depan. Aku mengucek mata, membenarkan apa yang sedang kubaca. Apa memang betul trayek bus itu? Kalau benar, aku harus ikut di dalamnya.

Seorang pemuda paruh baya duduk di kursi pojok. Tampaknya ia paling lelah di antara semuanya, kuhampiri ia sembari membawakan segelas teh hangat. Ia menyambut dengan senang.

"Bisakah kau tambahkan beberapa es ke dalamnya? Kerongkonganku cukup kerontang dibuat perjalanan panjang itu."

Aku mengiyakan, kembali ke dapur dan keluar dengan segelas es teh. Meletakkannya di meja. Ia buru-buru meneguknya. Kehausan.

"Apa mau makan sekalian?"

Sambil meneguk es teh, alisnya terangkat ke atas. Mendeham. Pertanda iya. Aku bergegas menyajikan semua masakan di atas piring-piring kecil. Sebakul nasi hangat dan segelas air putih tersaji di atas meja.

"Bisakah aku ikut bis ini pergi?" Aku bertanya kepadanya sambil memberikannya selembar nota makan.

Pemuda itu melihat dari ujung kaki hingga kepala. Seolah-olah dari matanya berkata, "Yakin mau pergi?"

Aku menjauhkan pandangan, kemudian pergi meninggalkannya sendirian. Tiba-tiba, pemuda itu mengejar dan mencengkeram pergelangan tanganku.

"Masa depan sudah menunggu di luar sana. Tunggu apalagi? Kemasi barangmu."

Mendadak hatiku terasa penuh. Ada bahagia yang menyusup masuk tanpa permisi. Mendengar tawarannya itu, aku berlari ke kamar sunriseku. Memasukkan apa saja dalam buntalan seprai yang aku punya. Amru berdiri melongo menatapiku yang siap kabur.

Aku mohon pamit pada Cik Jalal dan Bu Cik, berterima kasih atas jasa-jasa mereka selama ini. Semua penumpang sudah masuk tinggal aku, Sang Pelamun yang belum naik bis. Seorang penumpang terakhir.

Dari jendela belakang bis, pelan-pelan siluet rumah makan ith menghilang ditelan permukaan bumi yang bundar. Sungguh ini semua terasa tidak nyata. Tapi aku benar-benar yakin sudah melangkah pergi dari rumah makan, rumah dimana aku dibesarkan itu. Pemuda sekaligus pengemudi bis menuju Masa Depan itu melempar senyumnya padaku. Senyum yang meyakinkan.

Kehadiran seseorang dalam hidup kita bisa berarti baik atau buruk, tergantung bagaimana cara kita menerimanya. Mungkin aku adalah balasan doa-doa yang dimunajatkan oleh Cik Jalal dan Bu Cik, hanya saja aku datang tidak tepat dari rahimnya. Ya, aku sang matahari terbit dari sebuah kardus. Namun maaf, kardus itu telah dibawa pergi. Jauh sekali. Tak pernah kembali. Aku, doa yang terkabul sementara.

~doddy rakhmat
14.07.2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar