Senin, 12 Desember 2016

Nopember Ini

Nopember ini
adalah tentang perayaan
hujan yang turun setiap malam

Nopember ini
Aku berserah diri dipenjara
Oleh lekuk senyum
Pada sudut bibirmu yang ranum

Nopember ini
Dari matamu yang terlanjur sepi
Memeluk segala risau yang tumbuh di hati

Nopember ini
Adalah tentang aku
Kamu
Yang berharap menjadi kita

Kota Hujan adalah Penghulu

Kau yang menunggu dengan segala debar
Dan waktu beranjak tak sabar
Mempertemukan senyum demi senyum
Menciptakan kisah baru dalam sejarah
Menguapkan masa lalu yang mungkin pedih
Menggantinya dengan derai bahagia yang turun
Bagai hujan sepanjang abad

Kota hujan adalah penghulu
Cinta pertama kita
Untuk selamanya

Dari jauh hari Tuhan telah menetapkan
Bahwa takdir kita saling berkelindan
Dan hari ini kita menautkannya
Merajutnya dengan bahagia
Setelah kuucapkan ikrar setia
Maka kau dalam pelukku selamanya

Mari tanggalkan masa lalu dan luka-luka
Dan kita tinggal bersama di sebuah tempat
Yang bernama, Rumah Tangga.

-----

Selamat melepas masa lajang untuk Amel dan Frima
Semoga hari-harimu selalu bahagia
Doa-doa terbaik untuk kalian mewujud nyata

Bandung, 11 Desember 2016
Dari sahabat masa kecil dan selamanya
Doddy Rakhmat

Kamis, 27 Oktober 2016

Melepasmu Seperti Udara

Hujan kadang datang tiba-tiba, seperti kesedihan yang tak bisa kau bendung di suatu sore. Kau hanya bisa menerimanya. Seperti mengenang masa-masa indah yang tak kau bisa gapai lagi.

Apakah melupakan masa lalu itu semudah kita bernafas? Saya rasa tidak, tidak ada yang pernah mudah melupakan masa lalu. Pahit ataupun manis. Dan masing-masing punya cara untuk melakukannya tapi memasrahkan kepada waktu agar kenangan pahit terhapus tentu akan menyakitkan seperti menikam hatimu berkali-kali setiap kau melakukannya.

Sore ini, suara tivi menyala menayangkan berita-berita yang kadang tak ingin saya dengar. Hari hampir gelap, suara ciap burung pulang berkumpul ke sarang. Apakah kembali ke masa lalu itu sama dengan pulang? Atau lebih baik saya pergi, menguapkan masa lalu dengan menerima kenyataan. Bahwa dia mungkin bukan siapa-siapa lagi, lantas untuk apa saya harus berharap?

Tidak semua memiliki kesempatan kedua, tapi kita berhak mendapat kesempatan baru untuk memulai.  Kita akan tetap butuh seseorang, karena yakinlah kita tidak bisa memeluk diri sendiri manakala ada gemuruh di dalam dada dan kita tak pernah tahu hendak pergi ke mana untuk menenangkannya.

Dan yang kulakukan sekarang adalah melepaskanmu seperti udara, bebas, tidak terikat, dan kita berdua akan tetap hidup walau langkah kita berlainan arah.

*Doddy Rakhmat
26.10.2016

Jumat, 07 Oktober 2016

Story Blog Tour : Teror Tengah Malam

Naara memegang kepalanya. Ia berusaha duduk tapi tidak mampu. Kepalanya terasa sakit seperti habis dipukul.

"Sudahlah, Nak. Kamu istirahat saja dulu. Jangan memaksakan diri."

"Apakah teman-temanku berada di sini juga?"

"Iya. Mereka dirawat di sini. Tapi..."

"Tapi kenapa bu?"

"..Agni menghilang."

"H-hilang? Bukankah ibu bilang mereka baik-baik saja."

Ibu menghela nafas dalam-dalam. Matanya menerawang kosong, membayangkan sesuatu yang mungkin mengerikan. Mimik wajahnya berubah takut. Dalam kejadian semalam, ia tidak mungkin salah lihat saat empat bilah keris menembus raga Pak Rama.

"Setelah kalian berempat tak sadarkan diri,  Ibu melihat Agni dibawa oleh seseorang keluar dari pentas. Sedangkan kalian ditolong oleh panitia dan langsung di bawa ke rumah sakit." Ibu menjelaskan

"Siapa yang membawa Agni, Bu?"

Ibu hanya menggeleng. Naara menangis lirih tak bersuara. Ia masih ingat bagaimana dirinya menolak tarian itu tapi Agni berhasil meyakinkannya lagi. Sungguh ia tak menyangka bahwa tarian itu benar-benar membuat petaka. Naara mengira apa yang diucapkan Agni dan Tio hanya bualan. Mereka berlatih di tempat gelap dan tidak ada orang yang boleh melihat mereka.  Tio, sang pelatih selalu berpesan kepada Naara dan teman-teman,  Mereka akan membawa sebuah tarian sakral tidak boleh ada yang menonton mereka sebelum waktunya.

Naara teringat kepada Pak Rama, Dekan Fakultas Seni dan Budaya tempat Naara mengenyam bangku kuliah.

"Pak Rama apa benar dia sudah tiada, Bu?"

Ibunya mengangguk,  "Ibu terkejut kenapa tiba-tiba Pak Rama sudah bersimbah darah." Ibu Naara duduk persis di sebelah Pak Rama. Tentu saja Ibu masih shock dengan kejadian janggal tersebut, batin Naara.

Ting. Ting. Ting

Bunyi nada dering pemberitahuan pesan singkat masuk di ponsel Naara. Ia meminta tolong Ibunya untuk mengambilkan ponsel di atas meja. Layar ponsel cukup menyilaukan. Ia membuka sebuah pesan singkat.

"Apapun yang kita lihat tadi malam, jangan ceritakan kepada siapa-siapa. Agni dan Tio tidak main-main. Dan aku cukup bodoh percaya kepada mereka."

-Auri

Pesan dari Auri itu semakin menambah kekhawatiran akan terjadi hal-hal buruk yang akan menimpa orang di sekelilingnya. Tidak hanya kemarin, tapi bisa jadi hari ini atau esok lusa. Dan menghilangnya Agni tentu menjadi teka-teki. Siapa dia sebenarnya? Walau mereka telah berteman cukup lama, tapi Agni termasuk orang yang tertutup.

"Istirahatlah, Nak. Kamu kelihatan masih pucat. Ibu tidak mau kamu lama-lama di sini." ujar Ibu sembari mengusap kepala Naara. Anak sematawayangnya.

Naara mengangguk, membalikkan badannya ke sisi lain, membelakangi ibunya.

*****

Malam itu, lebih tepatnya menjelang tengah malam, Naara masih berusaha memejamkan mata. Pikirannya tidak tenang. Ia tinggal seorang diri dalam kamar inap. Ibunya sedang pergi ke kamar mandi.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan, berkali-kali, semakin keras. Naara bersembunyi di balik selimutnya.

"I-ibu?" tanya Naara

BRAK.

Pintu terbuka paksa tanpa ada seseorang di belakangnya. Angin malam menerabas masuk, bau minyak menguar seisi ruangan.

Alunan musik gamelan terdengar lirih, seolah membisiki Naara. Naara menutup telinganya dengan bantal. Ia tidak mungkin lupa dengan setiap ketukan yang mengusik hari-harinya menjelang pentas semalam.

Tiba-tiba selimut Naara tersibak, Naara terkejut. Empat penari bayangan yang dilihatnya semalam berdiri mengelilinginya. Dan...mereka ternyata tidak memiliki wajah. Naara bergidik ngeri.

"Jangan..jangan, ja-ngan bu-nuh saya." ujar Naara memelas. Tenggorokannya terasa kering dan susah untuk bicara.

Para penari itu berkata lirih, silih berganti,  "Apa yang gelap kembali kepada gelap, tidak ada terang yang bisa menarikmu keluar."

----

Bersambung.

Ini adalah Story Blog Tour Misteri dari komunitas OWOP

Episode sebelumnya oleh Dini - Sang Penari Tarian

Episode selanjutnya akan diteruskan oleh Nana di chocobanana.blogspot.co.id