Sabtu, 22 November 2025

#PUISIBARUTERBIT : BERTAMU KE MASA LALU


Dunia yang kita pijak masih tetap sama

Nasibmu tak jauh berbeda

Di pojokan kamar sewa pengap

Kau meringkuk setelah letih seharian 

Tirai jendela koran itu tetap terpasang di sana

Memuat berita-berita penguasa yang tak peka

Yang memakan pikiranmu perlahan

Hingga tak ada lagi harapan


#PUISIBARUTERBIT adalah proyek penulisan puisi terbaru saya. Semoga bisa dikabarkan berkala untuk mengingat nyala untuk puisi dalam diri ini masih ada.

Rabu, 12 Februari 2025

Mendengar Diri Sendiri



 MENDENGAR DIRI SENDIRI

oleh Doddy Rakhmat

Di antara malam malam yang sudah pernah kita lewati
Kerap kali kita menyenangi berkelahi dengan pikiran-pikiran sendiri sampai kita lelah
Entah ada kenikmatan apa di dalamnya
Seolah itu menjadi obat bagi hidup yang sering tak berpihak

Beradu debat antara nurani dan pikiran
Sampai jiwa kita sendiri bingung siapa yang akan jadi pemenangnya
Lalu kita semua memilih tidur agar keduanya diam
Sampai esok harinya saat kita semua tersadar kembali di mulai kita membuka mata dan semua jadi nyata
Nurani dan pikiran kembali saling berdebat
Meributkan hal-hal sepele seolah memutuskan keputusan besar sampai terlupa ada hal-hal besar menjadi terabaikan

Kemanapun kita pergi, nurani dan pikiran tidak mengakhiri perdebatan mereka
Mereka dirancang punya jalan keluar masing-masing dan kita diutus sebagai pendamainya
Ada masanya jika nurani dimenangkan, pikiran akan termenung
Juga sebaliknya saat pikiran jadi juaranya, nurani akan durjana
Bisakah keduanya sejalan seiring? 
Tentu saja bisa itulah tugas sang pendamai

Sabtu, 08 Februari 2025

Setelah Menonton Film : 1 Kakak 7 Ponakan

 Setelah menonton film 1 Kakak 7 Ponakan beberapa minggu lalu ada hal-hal menarik yang menjadi perhatian saya dan bisa menjadi perenungan bagi kita semua.



[Spoiler Alert]


Dari adegan awal, saat Moko harus mendadak ditinggal kakak perempuan dan kakak iparnya dalam satu hari yang sama. Kita semua akan menghadapi kehilangan. Siap tidak siap kehilangan itu datang. Tidak pula permisi. Sementara kehidupan setelahnya harus terus berjalan. Moko yang baru saja lulus kuliah harus membiayai para keponakannya, apalagi saat itu masih ada yang bayi sehingga ia memutuskan untuk merawatnya dan memendam mimpinya sebagai arsitek terlebih dahulu. Karena mereka bukan berasal dari keluarga berada, jadi tentu permasalahan ekonomi menjadi cukup pelik.


Ditambah lagi Moko harus kedatangan satu orang anak bernama Ais dari guru les pianonya yang broken home. Dengan rasa tidak enak hati dan kasihan, ia pun tetap menerima untuk tinggal di rumah tersebut.


Dari kejadian-kejadian tersebut menunjukkan persiapan finansial untuk keluarga itu penting, karena akan dijalani dalam masa panjang. Semua harus sudah dipikirkan dari sejak awal.


Di tengah sulitnya mencari kerja dan ekonomi

Untung saja Moko masih punya teman yang supportif. Maurin. Walaupun Moko sempat tidak percaya diri dengan kondisinya saat itu dan Maurin adalah sosok perempuan yang bisa dibilang kondisi ekonominya lebih baik. Tapi Maurin meyakinkan Moko semua bisa dilewati dan akan baik-baik saja sambil dipikirkan bersama solusinya.


Kedatangan Mba Osa sang kakak dan Mas Eka sang ipar dari Australia juga tidak membuat kehidupan mereka membaik, Moko yang sudah mendapatkan kerja yang stabil malah dimanfaatkan oleh Mas Eka yang kerap meminta biaya dengan dalih untuk keperluan para keponakannya mereka. Namun ternyata uang tersebut malah digunakan untuk investasi bodong dan dia kabur entah kemana dan para keponakannya disuruh kerja cari uang sendiri sama Mas Eka. Tentu saja saat itu Moko tidak tahu.


Saat keponakannya sudah beranjak dewasa dan sudah ada yang sudah kerja.

Moko merasa keponakannya semua tidak perlu bersusah payah dan biarkan ia saja yang bekerja sendiri. Namun itu salah. Dan di adegan menjelang akhir itu memang ditunjukkan oleh Maurin dan para keponakannya Moko.


Intinya berjuang sama-sama itu tidak apa-apa, tidak semuanya harus ditanggung sendiri.  Rasa tanggungjawab yang berubah menjadi rasa bersalah dan menyalahkan diri ini tentu saja tidak sehat. Terlebih tanggungjawab itu bukan sepenuhnya ada padanya.


Lalu ada Adegan Ais menanyakan kepada Moko, "Pernah gak sih kita ngelakuin sesuatu hal, supaya bisa ngerasa orang yang kita sayang itu masih ada?" dan saat Moko kilas balik mengingat semua kebersamaannya bersama almarhum kakak di situlah saya tidak bisa membendung air mata. Pecah. Sesak. Saya bisa merasakan sama  persis apa yang Moko rasakan. Bahwa ia melakukan sesuatu hal tersebut demi mengingat dan menggantikan posisi kakaknya yang sudah tiada. Ia berusaha menutupi rasa kehilangannya tersebut dengan bertanggungjawab atas apa yang terjadi dengan keluarganya. Sementara bagi para keponakannya, Moko tidak harus berjuang sendirian. Moko juga berhak bahagia dan mengejar mimpi-mimpinya.

Jika film ini masih ditayangkan di bioskop terdekat kalian, boleh luangkan waktu untuk menonton dan merasakannya sendiri.


(DR)

Rabu, 14 Februari 2024

Menghidupkan Kembali Demokrasi



Hari ini 
Kembali meraya demokrasi
Dalam suaramu ada amanah
Ada tanggungjawab untuk para penguasa

Dalam suaramu 
Ada doa dan harap
Ada keluh kesah yang belum terjawab
Ada juga impian yang belum terwujud

Suaramu adalah masa depan
Walau kadang suaramu terbungkam
Ataupun tak didengar
Tapi jangan sampai engkau diam bisu

(DR)

Minggu, 11 Februari 2024

Filosofi Asap

 Filosofi Asap



Terbakar-terbakar semuanya

Membumbunglah asap

Tak peduli ras, suku, agama

Semua sama hirup sesak


Setelah habis semua lenyap

Akhirnya tinggal abu

Yang ditiup angin jadi debu

Juga buat sesak


Semua bertahan

Di tengah sesak

Sementara asap dan debu

Masih abadi


(DR)

Jumat, 28 April 2023

Televisi



Malam hari tanpa sinar bulan. Kelam. Aku kembali berangkat menuju kantor mengambil chargerku yang tertinggal. Televisi kubiarkan menyala saat pergi. 30 menit kemudian aku kembali dan saat berdiri di depan pintu rumah. Sayup sayup terdengar suara tidak jelas dan bising dari dalam rumah. Seperti bunyi kursi yang digeser dan juga langkah kaki. Aku memberanikan diri untuk masuk. Pintu perlahan kubuka, posisi kursi masih seperti semula. Kondisi televisi masih menyala namun menayangkan cuplikan video seperti kaset rusak yang tidak jelas. Terlihat sebuah ruangan yang tidak aku kenali.

Dari sudut layar, sosok dengan kain putih lusuh tercabik-cabik, wajah hancur berdarah dengan mata hitam pekat bergerak terseok-seok mendekati kamera dan dari layar televisi ia berteriak ke arahku

AWAS DI BELAKANGMU!!!

Aku tersentak dan refleks menoleh ke belakang.

Berdiri sosok dengan wajah yang sama persis ada di layar televisi tadi. Sekejap ia mendekat ke arahku. Di balik hancurnya wajah itu, perlahan aku mengenalinya.

Seorang teman beralih musuh.

Terakhir aku melihatnya 15 tahun lalu saat kukubur jasadnya di tengah kebun sawit dengan pisau penuh darah tertancap sebagai nisannya.

Kamis, 19 Januari 2023

19 Januari adalah Hari Kehilangan Di Semestaku



Tepat 6 tahun yang lalu aku kehilangan seorang kakak perempuan. Anak tengah. Pekerja keras. Melakukan apapun demi keluarganya.

Bagaimanapun duka selalu punya ruang di hati, di kehidupan yang kita jalani. Duka yang bernama kehilangan akan kekal. Tidak lekang masa. Tidak sementara.

Percakapan dan suara yang biasa kau dengar hanya akan terkunci di memori. Perhatian yang kau tak temukan kembali dan cerita tak bisa terulang lagi. Kenangan itu hanya akan melekat dalam ingat. Kau akan rindu memeluknya, kau akan rindu membuatnya tertawa, kau akan rindu kehadirannya. Kau tak bisa memilih untuk mengakhiri perasaan itu. 

Kepada setiap kehilangan yang terjadi di muka bumi, semoga hatimu tidak rumpang. 

Minggu, 27 November 2022

Ibu-kota


Aku tak tahu apa apa

Tentang kota ini
Selain klakson menyalak,
Harapan yang dijual,
Mimpi tumbuh subur,
Keringat yang tak berhenti menetes

Aku tak tahu banyak
Namun semua bergerak
Membawa rancangan
Dalam kepala dan badan
Untuk bertahan

Aku tak tahu
Ruas jalan yang rumit
Atau pikiranku saja yang pelik
Di hiruk pikuk sibuk

Aku tak
Tinggal di dalamnya
Hanya perlintasan sementara

Aku
Belum mengenalnya betul
Tapi mereka menyebutnya
Ibu
Kota

(DR)

Selasa, 01 Februari 2022

Topeng Muslihat Rasa

Ada masa saat aku hanya berdiri di depan cermin, bayanganku bahkan tidak mengenali tuannya sendiri. Karena sudah terlalu banyak topeng yang kukenakan.  Kudapati topeng-topeng dari itu masa silam. Silam belum terlalu jauh. Masih baru dari luka yang masih basah juga dari bahagia yang tumbuh merekah.

Topeng-topeng itu kuselipkan dan kubawa kemanapun aku pergi. Kuajak ia untuk bertemu banyak orang, yang di suka maupun tidak. 

Kemudian ada masa saat aku pulang dari padatnya isi kepala karena sering diteriaki atas kebodohan sendiri. Lalu aku menarik kursi kayu dan duduk di depan cermin setinggi badan itu. Bayanganku menangis, aku tersenyum. Ia sempat heran tapi lekas tersadar. Aku belum melepas topeng muslihat rasaku malam itu. 

Waktu memilih menjalankan takdirnya ke depan, melaju maju tak dapat dihentikan. Tidak ada kata mundur atau kembali. 

Aku terlampau lelah membawa topeng-topeng yang semakin beragam. Maka sudah kuputuskan, di suatu malam aku melemparnya tinggi-tinggi dan kubiarkan topeng muslihat rasa jatuh pecah berkeping. 
Lalu aku harus menjadi siapa?

(Doddy Rakhmat, Februari 2022)


Gambar dari Pinterest.

Jumat, 06 Agustus 2021

WHATSAPP BUKAN KITAB SUCI

 Kepada bapak, ibu, adik, kakak yang saya sayangi jika berkenan baca sejenak tulisan ini.


Sejatinya Whatsapp hanyalah sebuah alat atau platform untuk media komunikasi sosial berbasis internet yang diperuntukkan untuk mempermudah penyampaian pesan. 

Dari hal tersebut perlu digarisbawahi Whatsapp bukanlah sumber bacaan ilmiah mutlak. Walaupun ada yang membagikan informasi/artikel kita harus cek ricek kembali siapa pengirimnya? Apakah yang bersangkutan memang kompeten dalam bidangnya atau artikel tersebut valid dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada Google, kan? Yuk bisa digoogling dulu.

Namun di zaman pandemi ini, informasi yang beredar perihal penanganan covid-19 ini banyak sekali mengalami disinformasi atau bahkan terkategori sebagai hoax. Tidak sedikit yang percaya dan menimbulkan kepanikan bahkan perdebatan dalam keluarga maupun teman. 

Bila melihat lebih jauh lagi informasi beredar tersebut bahkan membuat nyawa seseorang tidak terselamatkan. Karena ada yang menganggap covid itu tidak ada, covid konspirasi belaka, atau yang vaksin itu akan meninggal dalam waktu dua tahun lagi hingga akhirnya banyak yang tidak mau dirawat secara medis maupun menjalani vaksin padahal mereka bisa dan mampu.

Semua memang pilihan masing masing. Tapi setidaknya jangan memaksa orang lain untuk mempercayai hal yang belum jelas secara keilmuan. Dan cuma berbasis KATANYA KATANYA KATANYA. 

Mari beranalogi sederhana. Jika kita melihat pesan siar (broadcast) di whatsapp itu rata rata di awali judul dengan huruf kapital dan ditebalkan untuk menarik perhatian dan meyakinkan.
Lalu di bawahnya mulai mencantumkan informasi  panjang lebar apapun yang belum jelas kebenarannya. Kemudian di akhir pesan siar tersebut tinggal bubuhi di bawahnya dengan 
"Prof DR H. DRAGONOV S.Si MBA M.Sc
Dokter dan Ahli Virus Dunia"

Apakah bapak, ibu, adik, kakak sekalian langsung percaya? Tidak bertabayyun mencari tahu kebenaran dahulu? 

Mari bijak menggunakan sosial media. 
Ada tanggungjawab di setiap kata kata yang kita sampaikan.

Jika itu baik dan bermanfaat bagi orang yang menerimanya tentu saja jadi amal kebaikan kita
Tapi bagaimana jika hal tersebut malah menjadi keburukan bagi orang lain. Apakah kita sudah siap menanggung dosa atas kelalaian kita?

(Doddy Rakhmat)


Minggu, 10 Januari 2021

Bandara Adalah Tempat Sakral



Selama merantau, sejak 11 tahun lalu saya memaknai bandara sebagai tempat yang sakral. 

Di bandara semua rasa rindu itu tumpah, baik harus memulai kembali atau menuntaskan. Setelahnya kita cemas apakah masih bisa tetap bersua? Perasaan-perasaan seperti itu yang selalu muncul saat kita bepergian.

Kampung halaman, tempat kuliah sebelumnya maupun tempat bekerja saat ini posisinya berbeda pulau. Karenanya perjalanan yang harus ditempuh sangat jauh dan jalur transportasi udara adalah pilihannya. Setidaknya dalam satu tahun ada 4 penerbangan yang saya jalani, beberapa tahun belakangan ada yang sampai 8 penerbangan. Termasuk cuti maupun dinas. Mungkin tidak banyak. 

Selama 11 tahun itu pula, kalau tidak salah ada 3 insiden kecelakaan udara komersil, ada yang posisinya sebulan sebelum saya berangkat dan juga ada yang setelah berangkat. Tentu saja itu menjadi hal yang saya renungkan. Bagaimana kalau itu pesan singkat yang saya kirimkan ke sanak saudara dan keluarga adalah salam perpisahan yang terakhir? Bagaimana kalau pertemuan di bandara saat itu ditakdirkan menjadi yang terakhir?

Maka, hargailah sebuah pertemuan dan kesempatan

Minggu, 15 Maret 2020

DEKAPAN DELAPAN

DELAPAN DEKAPAN



Ada delapan dekapan dalam hidup yang kau perlu ingat.

Bermula menjelang petang langit berpadu biru dan merah jingga
Saat itu dekapan pertama terlahir saat kau hadir pertama di dunia ini dan kau masih belum bisa membalas dekapan hangat dari ayah ibu

Dan waktu bergerak maju
Saat langkah kecilmu tercipta
Kau berjalan tertatih dengan kedua kaki mungil
Di ujung jalan kau hampir terjatuh
Ayah sigap menyambut dengan mendekapmu
Tak ingin kau terluka
Dan kalian berdua tertawa

Dunia terus berputar
Kau mulai pandai berbicara
Sekolah menjadi rumah keduamu
Setiap pagi kau berangkat
Namun tak selamanya berjalan baik
Kau pernah pulang dengan penuh luka di kaki dan lengan
Lalu ibu mendekapmu
Menyeka tangismu yang belum tiris

Kau mulai bertumbuh dewasa
Sudah mengenal baik dan buruk
Kau pergi mencari ilmu ke kampus yang jauh dari rumah
Mengejar cita menjadi sarjana
Kau ingin membuat ayah ibu bahagia
Dengan toga dan wisuda
Lalu mereka berdua mendekapmu
menahan sesak di dada, bangga

Realita mulai menghantam
Kau tidak ingin lagi menjadi beban
Merantau jadi pilihan
Sebelum kau berangkat pergi bekerja
Meninggalkan rumah yang nyaman
Ayah dan ibu memberi dekapan panjang
Tanda rindu yang tak berbilang

Waktu tak mengenal kata lelah
Kau akhirnya memutuskan untuk menikah
Lalu memohon restu kepada ayah ibu
Mendekap mereka setelah ijab terucap
Berjanji tetap beri bahagia

Dan segalanya bergerak cepat
Rambut mulai memutih dan anak-anakmu
telah memilih jalan hidupnya masing-masing
Di saat itu kau mulai disinggahi kehilangan-kehilangan orang yang kau sayang
Kau mendekap belahan jiwamu
Saling menguatkan

Dekapan ke delapan
Kau terima untuk kali terakhir saat kau tak dapat lagi mendekap
Hanya ada diam dan gelap
Karena kau telah menjadi kenangan

Doddy Rakhmat
15 Maret 2020

(Ilustrasi oleh Giri Prahasta Putra)

)

Rabu, 18 September 2019

DOA SENYAP

Siang tak ubahnya malam gelap
Kami yang pada akhirnya mulai terbiasa
Menyesap asap
Sudah lama kami bersedekap
Melindung diri dari kabut menyergap
Sesak pengap

Kami telah berteriak lantang
Namun perhatian tak kunjung datang
Kami hanya menunggu
Hujan datang
Memadam petaka terbentang
di tanah kami sekarang
Yang tentunya
Masih bagian Indonesia

Apa kabar yang sedang menghirup udara lega?
Dapat salam dari Mentaya

#SelamatkanSampit
#DaruratAsap

(Doddy Rakhmat)

MEMBAKAR LANGIT












Dulu biru
Sekarang kelam abu

Dulu jingga
Sekarang hitam jelaga

Dulu segar
Sekarang racun terpapar

Dulu perhatian penuh
Sekarang seolah enggan menyentuh

Dulu langit masih biasa-biasa saja
Sekarang ada api menyala

Menyala sengaja
Sengaja menyala
Lalu habis melenyap
Tersisa gelap

Hilang nurani
Hati tak fungsi
Akal membebal
Tangan seolah dewa
Memutus apa yang salah
Tampak benar adanya
Api menyala

Mungkin usai hari ini
Tapi barangkali lusa
Tangan dewa sekali lagi
Membuat lagit membara

(Doddy Rakhmat)

#SaveSampit #IndonesiaDaruratAsap

Minggu, 30 Desember 2018

Tidak Cukup Selamat Tinggal

Tidak cukup selamat tinggal dari kepergianmu. Kamu adalah kegagalan yang aku ciptakan sendiri. Kita berdua terluka dan kamulah yang paling menderita. Aku berdoa agar kau segera dibahagiakan oleh orang lain. Agar semua lara segera berakhir. Tidak ada ruang lagi yang tersisa untukku di hatimu yang telah sesak karena benci dan kecewa. Tidak ada jalan kembali kepadamu.

Kita yang pada akhirnya telah berjalan saling menjauh dalam genggaman tangan yang lain berusaha menemukan kebahagiaan masing-masing. Ada saatnya kita berpaling melihat satu sama lain, lalu tersenyum simpul mengingat segaris waktu yang pernah dilalui bersama. Lalu kita sadar, bahwa waktu tak pernah berjalan mundur, luka-luka akan menguatkan diri menuju masa depan.

Tidak cukup selamat tinggal,
dari pria yang pernah jatuh hati dan patah hati kepadamu.

(Doddy Rakhmat)

Minggu, 25 Februari 2018

Ini dia! 5 Drama Korea Yang Recomended Buat Kalian Tonton

Annyeong hasseo :) Eonni Oppa
Kamu pecinta drama korea atau masih tergolong pemula? Mau mencoba menonton drama korea yang bagus dan gak ngebosenin? Nah aku punya 5 judul drama korea yang bisa jadi rekomendasi kalian. Dijamin kalian gak bakalan lagi memandang sebelah mata kualitas drama korea yang setiap episodenya diolah dengan skala film layar lebar.

1. Remember : The War of Son


Jumlah episode : 24
Rilis : 9 Desember 2015


Drama genre legal (hukum) ini bercerita Seo Jin-woo memiliki kondisi Hipertimesiayang memungkinkan dia untuk mengingat hampir setiap hari secara detail sempurna. Untuk membuktikan ayahnya tidak bersalah, Jin-woo menjadi pengacara. Ia berjuang untuk membuktikan ayahnya tidak bersalah, tapi ia mulai kehilangan ingatannya karena demensia.

Drama ini sangat kuat menceritakan hubungan ayah dan anak. Baik dari tokoh protagonis maupun antagonis. Masing masing punya cerita yang salinf berkaitan. Dengan tensitas setiap episode yang membuat kalian penasaran. Saya kagum dengan penulis skenarionya yang begitu detail dan kritis dalam membahas kriminal dan hukum di negeri ginseng. Tidak banyak romantika yang ditemukan dalam drama ini tapi kalian akan menemukan hal yang berbeda saat menonton hingga akhir. Wujud kecintaan yang luar biasa.

2. Let's Fight Ghost

Jumlah episode : 16
Rilis : 11 Juli 2016

Drama genre horor thriller romance comedy ini menceritakan Park Bong Pal (Taecyeon 2PM) yang punya kemampuan melihat dan membuka jasa mengusir hantu akhirnya bertemu dengan hantu cakep unyu Kim Hyun Ji (Kim So Hyun) dan si Kim Hyun Ji ini lupa ia mati karena apa dan berniat untuk mencari tahu misteri kematiannya tersebut dengan meminta bantuan si Park Bong Pal.
Komedinya dapet banget bahkan di episode pertama kita sudah dibikin gemes sama pasangan. 
Drama dieksekusi dengan baik dan termasuk paket lengkap yang benar benar bertanggungjawab atas genrenya. Ada sedihnya, komedi, tegang, romansa pokoknya dijamin kalian akan suka. Apalagi ngeliatin si Hantunya yang diperanin Kim So Hyun yang  cakepnya luar biasa. Bikin rela dihantuin. 

3. Goblin (Guardian : The Lonely and Great God)


Jumlah episode : 16
Rilis : 2 Desember 2016

Drama genre fantasy romance dengan sedikit sae guk ini bercerita tentang seorang panglima bernama Kim Shin (Gong Yoo) di kerajaan yang dikhianati oleh raja dan dibunuh kemudian ia melakukan perjanjian kepada dewa dan ia bangkit menjadi seorang iblis (yang tampan hahhaha) dengan misi mencabut kutukan pedang yang menancap di dadanya dan harus menemukan pengantin wanita iblis untuk mematahkan kutukan tersebut. Hingga ia bertemu dengan di masa sekarang dengan si pengantin Ji Eun Tak (Kim Go Eun)

Goblin tinggal satu rumah dengan malaikat maut Wang Yeo (Lee Dong Wook). Bromance antara si goblin dan malaikat maut ini sungguh juara. Kocak dan hangat. Perjalanan mereka berdua dalam menemukan dan menyelesaikan apa yang terjadi di masa lalu itu membuat kita berdecak kagum dan mungkin akan menitikan air mata di beberapa bagian. Penggambaran kehidupan, kematian dan akhirat dengan elegan dan rapi. Efek visual yang ciamik dengan set yang luar biasa bahkan syuting di dua negara yaitu Kanada dan Korea.

OST drama ini juga enak-enak banget didenger. Dan beberapa menjadi hits tangga lagu pada saat itu. Salah satunya berjudul Round and Round - Heize

4. My Love From Another Star


Jumlah episode : 21
Rilis : 18 Desember 2013


Drama genre fantasy romance comedy ini bercerita tentang seorang alien bernama Do Min-Joon (Kim Soo Hyun) yang mendarat di Bumi 400 tahun yang lalu selama periode Dinasti Joseon. Do Min-Joon memiliki penampilan mendekati sempurna dengan kemampuan fisik yang luar biasa dalam penglihatan, pendengaran, dan kecepatan. Do Min-Joon berpandangan sinis kepada manusia, tetapi ia jatuh cinta dengan seorang aktris bernama Cheon Song-Yi Gianna Jun) bahkan sejak ia masih di masa Joseon hingga bereinkarnasi ke masa sekarang. 

Setiap episodenya selalu kocak sekaligus seru, menyibak misteri serta dibumbui sedikit thriller yang membuat kalian selalu ingin menyelesaikan dengan cepat. Ada pesan moral tentang keluarga juga di dalamnya.

5. Pinocchio


Jumlah episode : 20
Rilis : 12 November 2014


Drama tentang kehidupan para jurnalis dan reporter sekaligus potret media pemberitaan Korea yang masih ditunggangi politik dan bisnis. Berpusat pada tokoh Choi Dal Po (Lee Jong Suk) yang ayahnya seorang kepala pemadam kebakaran difitnah tidak bertanggungjawab atas kejadian ledakan dan menghilangkan nyawa anak buahnya karena media yang tidak jujur dan cenderung menyudutkan, hingga Choi Dal Po bertekad menjadi seorang jurnalis yang jujur dan mengungkap stasiun TV yang menyebarkan kebohongan berita tersebut.
Dibantu oleh seorang jurnalis lain Choi In Ha yang mengidap sindrom pinocchio. Sindrom yang membuat penderitanya tidak bisa berbohong karena jika ia melakukan kebohongan maka akan cegukan. Hingga ia cukup kesulitan bekerja di lingkungan media yang menuntutnya membuat berita tidak benar tuntutan dari redaksi.
Drama ini sangat mewakili apa yang terjadi hampir di seluruh negeri bagaimana para media dan stasiun TV masih melakukan keberpihakan dan juga indikasi pemlintiran berita hingga berakibat fatal bagi masyarakat.
Semoga drama-drama ini bisa jadi awal dari kalian yang mau mencoba masuk dalam putaran candu drama korea yang tiada akhirnya. Hahaha.
----
Doddy Rakhmat
Penggila Drama Korea

Jumat, 23 Februari 2018

Pengalaman Horor Nonton di Bioskop

PENGALAMAN HOROR NONTON DI BIOSKOP

Okey setelah banyak sekali tulisan yang berbagi pengalaman alias experience nonton film di bioskop kali ini daku juga mau cerita. Dari mulai lahir sampai sekolah SMA gue belum pernah nonton film di layar lebar terus rame-rame. Paling banter nonton film bajakan terus nonton bareng kawan-kawan di LCD Proyektor kelas pas lagi jam pelajaran kosong. Nah, pertama kalinya daku menginjakkan kaki ke bioskop saat kuliah di bogor tahun 2010.

Rata-rata mal di sana sudah punya bioskop, tapi diriku hanya lewat dan numpang foto di depannya aja. Maklumlah, anak kos mau nonton penuh perhitungan. Satu tiket bisa buat makan 3 kali kayaknya. Dan satu nyawa kembali terselamatkan, ahay. Hingga suatu ketika, teman-teman satu kosan berniat untuk nonton ke bioskop. Alangkah senangnya hatiku, dan lebih senang kalau dibayarin. Eh ternyata nggak. Bayar masing-masing, awalnya berat seperti Dilan bilang ke Milea. Tapi karena yang dicari adalah cinematix experience yang gak bakal kita dapet pas nonton di layar kecil dan sound pas-pasan akhirnya diriku ikut mereka. Biarlah puasa 3 kali makan.

Berangkatlah kami ke salah satu mall di Kota Bogor, menuju lantai paling atas karena bioskopnya ada di sana. Cinema 21. Pas masuk rasanya deg-degan kayak masuk ruang ujian, hampir mau lepas sendal eh ternyata boleh dipakai karena lantainya empuk dikasih karpet bawaannya pengen tidur di atasnya.

Film pertama yang diriku tonton di bioskop adalah Sang Pencerah. Tentang Kyai Ahmad Dahlan. OST yang nyanyi Nidji kebetulan band favorit diriku pada zaman itu. Jadi sampai merinding dengernya. Setelah saya nonton film itu, keluar dari teater rasanya beda aja. Ada kepuasan tersendiri. Tapi tergantung juga eksekusi filmnya seperti apa bahkan sekarang diriku kalau ada film yang mengecewakan rasanya pengin minta balikin uang tiketnya.

Selama kuliah saya jarang nonton, terhitung hanya 2 kali saya nonton di bioskop selama di Bogor. Dan paling banyak ketika saya sudah kerja di Jambi sekarang. Hampir tiap bulan pasti saya ada nonton, setiap cuti, dinas luar kalau memungkinkan, saya sempatkan. Walaupun sering dikomen sama mamak sih. Mending buat beli beras katanya daripada beli tiket bioskop yang lumayan mahal belum lagi jajanannya.

Pengalaman paling menyebalkan yang sering diriku alami adalah kursi kita direbut secara brutal oleh penonton lain. Dan itu kadang bikin diriku baper, apalagi yang nempatin gak mau pindah. Karena posisi duduk adalah segalanya kalau nonton di bioskop. Semakin strategis, semakin nyaman. Dan ngomong-ngomong soal posisi duduk, favorit aku biasanya di row paling atas dan bagian tengah. Jarang dapat paling pojok.

Oke. Ada satu momen yang tak akan pernah kulupakan saat menonton film di bioskop. Berkaitan dengan posisi duduk tadi. Kejadian ini terjadi saat liburan natal tahun lalu. Desember 2017.

Semua berawal dari perjalanan dari kebun menuju Kota Jambi, saya sudah tidak enak badan. Keringat dingin sudah menitik di dahi.  Di tengah perjalanan saya minum tolakangin untuk meredakannya tapi bukannya sembuh perut saya malah mules sejadi-jadinya. Antara mau buang angin atau buang air. Saya dihadapkan kegalauan itu. Dihadapkan problematika yang menimbulkan perdebatan dalam diri. Yang bisa menyebabkan pecahnya perang dunia ketiga.

Hotel masih jauh di depan mata, saya berusaha tetap fokus dan tenang walau pikiran dan badan saya berkecamuk dihantam badai. Kentut segan, sendawa pun tak membantu. Selama 2 jam saya menjalani situasi yang tidak menyenangkan. Hingga saya tiba di hotel dan langsung nangkring di toilet. Fyuh, lega. Tapi kondisi badan saya tetap belum fit total.

Malam harinya kami ada acara makan bersama, semua berjalan lancar. Setelah itu saya dengan teman juga istrinya berencana mau nonton film yang lagi booming AAC2 walau endingnya is totally dibikin bengong. Kami sudah pasrah karena saat itu sedang akhir pekan, macet di jalan dan tentu bioskop penuh manusia. Sambil memantau dari aplikasi cinema 21 mobile dan membuat kami tetap nonton karena masih tersisa barisan atas.

Kami bertiga nonton film yang jadwalnya jam 21.45 kami tiba sekitar jam 21.30 di sana. And you know what. Saat lagi nunggu di lobby bioskop, perut daku tiba tiba mules di tengah keramaian itu. Film masih belum mulai dan daku buru buru ke toilet. Pengalaman paling malu dimulai. (Berasa kayak opening bioskop trans tv dulu deh)

Dalam toilet XXI itu yang notabene sempit dan cuma sepetak, daku ngelepaskan hajat terpendam dengan beberapa kali tembakan kentut yang membahana. Sampai yang lagi pake toilet di sebelah ketawa. Ampuni hamba. Sumpah malu banget. Setelah selesai dan keluar dari toilet mengendap-endap memeriksa udah sepi atau belum karena takut diliatin sama orang-orang siapa yang habis ngebomb kedamaian toilet XXI yang elegan.

Daku dapat kursi paling pojok, tepat di samping dinding. Spot terbaik untuk jomblo yang tak punya gandengan. Di samping daku ada mas-mas bawa dua cewe entah pacar atau gebetan tapi dandan ala sosialita gitu. Film dimulai. Dan seketika daku ingin menjadi fahri yang dipujapuji para wanita. Oke stop it!

Di pertengahan film, there's something wrong again with my stomach. Kampret banget. Mules lagi persis kayak di perjalanan tadi. Posisinya bener bener udah di level bahaya. Kali ini hasrat ingin kentutnya luar biasa hebatnya. Kebetulan daku pake celana pendek waktu itu dan hawa dingin AC dengan biadab membuat perut mules kembalu. Akhirnya daku coba geser-geser posisi duduk, keringat dingin mulai membasah. Ada masa-masa ketika musik film lagi naik-naiknya, kepengen ngelepasin tapi takut baunya busuk banget. Akhirnya ditahan lagi. Di saat genting itu tidak ada pilihan lain karena posisi daku terlalu jauh untuk pergi ke kamar mandi. Kalau melewati beberapa bangku pasti daku udah nembak-nembak gak karuan. Bener-bener di ujung banget. Gak mungkin daku bergerak. Geser sedikit meledak udah. Kayak tim gegana lagi ngejinakin bom. Menegangkan.

Daku tetap paksakan nonton, berusaha menikmati film, apalagi menjelang ending yang sebenarnya orang-orang pada nangis nah akunya enggak. Gak terlalu sedih sebenarnya cuma karena lagi fokus banget nahan aja, men! Kan gak lucu juga kalau pas Chelsea Islan bilang, 'Nikahi aku, Fahri' terus lagi senyap gitu tiba-tiba ada suara 'duuuuut' atau 'prooot' yang ada daku ditatap satu studio, terus disuruh keluar, dikucilkan, masuk daftar hitam bioskop terus aku pulang ngambil tanah sambil menaburinya ke badan. Karena aku merasa kotor dan nista. Untung itu masih dalam bayangan dan tak pernah kejadian. Daku selamat. Tuhan masih memberikan kesempatan.

Sumpah, film romantis dan mengharukan kayak Ayat Ayat Cinta 2 berubah drastis kayak film horor paling serem pas saat itu. Jadi pengalaman banget buat ke depannya kalau nonton harus di posisi bangku yang strategis, tidak jauh dari tangga jalan keluar. Kali aja serangan angin gerilya itu kembali datang. Tapi daku gak pernah kapok nonton di bioskop. Selama masih ada duit dan waktu, film adalah salah satu bentuk hiburan terbaik yang bisa dinikmati jomblo seperti daku ini.

(Doddy Rakhmat)

Jumat, 02 Februari 2018

Sendiri & Tabah

SENDIRI & TABAH

Tabahlah, kepada kalian yang masih sendiri. Hapus airmatamu, lenyapkan rasa sepimu, Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk kehidupanmu. Jangan terlalu cepat berprasangka Tuhan tidak mencintaimu dan tidak adil padamu. Dia memberikanmu kesempatan untuk menghargai kesendirianmu agar kamu menjaga hati. Memberi jeda agar kau jatuh hati kepada orang yang tepat dengan cara yang benar.

Tabahlah, tak usah kau risau dengan perkataan orang lain. Hiduplah di atas prinsip kita sendiri bukan penilaian-penilaian mereka yang tak mengenal dengan benar dirimu. Karena hati adalah samudra yang dalam. Penuh kerahasiaan dan teka-teki besar yang orang lain tidak berhak mengetahuinya.
Tabahlah, sendiri bukan berarti kau orang paling rendah di muka bumi. Berjalanlah sebagaimana ksatria hendak pergi ke medan perang, jangan patah arang. Tuhan telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Itulah ketetapannya. Apakah kamu meragukannya? Jika iya, itu sama saja kamu meragukan dirimu sendiri.
Tabahlah, menjadi sendiri memang bukan pilihan, melainkan sebuah proses. Dari ganjil yang nanti akan tergenapi. Dari ketidaksempurnaan menjadi kebahagiaan hakiki.

Tabahlah, seperti batuan karang yang dihempas ombak bertubi-tubi. Kegagalan-kegagalan yang menghampirimu dalam menemukan teman hidup hanyalah ujian kecil agar kau berjiwa besar.
Tabahlah.

Doddy Rakhmat

Kamis, 05 Oktober 2017

Sepatu Usang

Musim penghujan baru saja mulai. Jalan-jalan menuju desa yang masih tanah akan berubah menjadi lumpur setelah hujan turun. Dalam langkah terseok-seok, aku berjalan menuju rumah yang ada di ujung desa. Orang-orang memilih tidur karena cuaca yang dingin terlengkapi dengan langit mendung. Tiba di depan rumah, aku menemukan sebuah sepatu usang berwarna hitam yang basah. Tergeletak hanya sepasang, menghadap ke arahku. Talinya menjuntai berubah warna dari putih menjadi cokelat karena lumpur. Aku tidak tahu pemilik sepatu itu. Yang pasti ada perasaan janggal setiap melihatnya seakan-akan sepatu itu ingin menemukan pasangannya yang lain. Dan acapkali menimbulkan rasa sakit setiap kali aku berusaha memikirkannya.

Kunci rumah yang menyatu dengan deretan kunci lainnya seringkali membuatku kesal. Bentuknya yang sama dan kadang aku harus berulang kali mencobanya sampai menemukan kunci yang tepat. Baru saja masuk, aku mencium aroma anyir menyengat menguar ke seisi rumah. Aku pikir ada tikus mati lagi diburu oleh kucing kampung yang kupelihara.
“Gori.” Aku memanggil kucing kampung itu. Biasanya dia akan segera datang jika aku memanggilnya. Namun kali ini tidak ada tanda-tanda Gori akan muncul, bahkan mengeong pun tidak. Aku meletakkan mantel dan topi di gantungan pakaian di belakang pintu kamar. Kemudian menyalakan lampu pijar, suasana kamar berubah menjadi jingga remang-remang. Kasur dan meja rias masih berantakan. Aku tinggal seorang diri. Sebelum berangkat bekerja aku tidak pernah sempat merapikan kamar. Rasa lelah yang mendera tubuh dan mata selalu membuatku bangun kesiangan.

Dok. Dok. Dok.
Ada yang mengetuk pintu rumah dengan tempo cepat dan keras. Setelah berganti pakaian, aku bergegas menjumpai seseorang yang tidak sabaran itu. Tidak ada orang yang berdiri di balik pintu. Aku pikir ini pasti ulah anak-anak yang jahil. Belum jauh aku meninggalkan pintu yang telah kututup. Suara ketukan itu muncul lagi, lebih keras. Disertai dengan orang yang memanggil namaku. Dengan cepat aku membuka pintu, dan di sana hanya ada sepatu bagian kiri yang tadi kulihat. Ia telah berpindah tempat dari pekarangan ke depan pintu rumah.

“Kembalikan sepatu saya. Kembalikan sepatu saya. Kembalikan sepatu saya”

Suara itu terdengar seperti di langit-langit rumah. Berulang-ulang. Bau anyir pun semakin menjadi-jadi. Aku mengutuk Gori yang kuyakini tidak bersih menyantap hasil buruannya. Aku kembali ke kamar dan melupakan suara-suara itu. Aku rasa aku hanya terlalu lelah hingga muncul halusinasi yang aneh-aneh. Apalagi dari sepatu usang entah punya siapa itu. Aku meraih radio di atas meja. Dan menyalakannya, memutar tuas volume keras-keras.

Ternyata radio sedang menyiarkan program berita. Aku mendengarkan sang narator membacakan tiap kalimat beritanya. Tentang kriminal.

“Seorang pembunuh berdarah dingin yang mengalami gangguan ingat jangka pendek telah berhasil kabur dari penjara kota seminggu yang lalu. Pembunuhan terakhir memakan korban yang tak lain adalah ayah pelaku sendiri. Diduga pelaku kabur menuju desa seberang.”

Bau anyir itu kini berpindah ke kamar. Aku memerhatikan sesuatu yang familier terjulur dari bawah ranjang. Sebuah sepatu sebelah kanan yang sama dengan kutemui di depan rumah tadi. Aku berusaha meraihnya, dan ternyata cukup berat.

“Astaga.” Aku melompat kaget. Itu bukan hanya sebuah sepatu tapi juga sesosok mayat bersimbah darah dengan luka tusuk yang mengenaskan di sekujur tubuhnya. Gori, kucing kampung itu berada di dada mayat tersebut dengan posisi tertancap pisau yang menembus si mayat.

“Kembalikan sepatu saya. Kembalikan sepatu saya. Kembalikan sepatu saya.”

Suara itu terdengar lagi dari langit-langit rumah. Aku bergidik ngeri dan berlari ke luar dari rumah. Namun naas, aku terjatuh tersandung sepatu sebelah kiri di depan pintu. Belum sempat aku bangkit, sosok mayat itu berdiri di depan saya. Dan ia berkata, “Kembalikan sepatu Ayah, Anakku.”

-----
Warga desa seberang heboh. Radio-radio menyiarkan berita yang sama pada keesokan harinya.

“Seorang warga desa seberang yang diyakini sebagai pembunuh berdarah dingin  yang menjadi buronan beberapa hari lalu telah ditemukan tewas berdampingan bersama dengan korban terakhirnya, yakni ayahnya sendiri.”

ditulis oleh Doddy Rakhmat
26.03.2017

Rabu, 06 September 2017

Menyelamatkan Jodoh Orang Lain

Kadang ada orang-orang ditakdirkan hanya untuk hadir sementara dalam kehidupan. Tugasnya adalah memberi pelajaran bagaimana kita untuk lebih tabah menghadapi sebuah pilihan. Menjadi wanita sabar yang menunggu, menjadi lelaki berani memberi kepastian.

Ratusan hari menunggu, menyimpan rindu diam-diam, dan yang kau tunggu tak kunjung datang memberimu kepastian adalah bukti kesabaranmu. Namun tidakkah kita pernah bersepakat sebelumnya? Saling memantaskan diri sebelum ikatan suci.

Aku tahu kau pasti lelah, waktu kadang terlalu tega membiarkan kita menjalani hal-hal yang tidak kita inginkan. Kau seperti sekuntum mawar yang menantikan embun di musim kemarau. Tetap mekar dan berduri walau melalui masa sulit. Dan aku hanya seperti angin kering berembus yang tidak akan pernah menjadi setetes air.

Untuk keduakalinya, perpisahan seperti menemukan jalan terakhir. Aku memilih untuk tidak menyelamatkan hubungan ini karena aku merasa bukan pilihan terbaik. Kau pantas mendapatkan seseorang yang tidak membiarkanmu tertatih dalam penantian.

Di tengah terik siang kadang hujan juga tetap turun, namun setelahnya akan hadir pelangi. Pun begitu pula kesedihan, hari ini kau merasakannya, esok atau lusa semua akan diliputi bahagia. Jemputlah kebahagiaan itu walau bukan denganku. Karena aku hanya bisa mengantarkanmu dengan doa-doa. Terima kasih atas segala yang pernah kau beri, atas kenangan-kenangan baik.

Setidaknya, kepergianku adalah sebuah upaya menyelamatkan jodoh orang lain. Yang bisa memberimu kepastian sesegera mungkin. Ditemukan oleh seseorang dan membawamu kepada kebahagiaan hakiki, sebuah pernikahan.

Doddy Rakhmat
06092017