Bunga Mekar Kemarau
Sabtu, 10 Oktober 2026
Bunga Mekar Kemarau
Bunga Mekar Kemarau
Rabu, 23 September 2026
Jika Kau Temukan Ini Setelah Aku Pergi
Jika kau temukan ini setelah aku pergi
Maka bacalah perlahan prosa prosa yang kutulis ini
Yakinlah aku akan selalu hidup dalam ingatan
Hangat perasaan yang masih tersimpan dalam hati
Pelukan yang mungkin tak lagi kau rasa tapi kau masih ingat bagaimana ia melingkar pada badanmu
Kau jadikan tubuhku rumah untuk pulang
Kau bawa semua sedihmu, kesalmu, letihmu dan kembali padaku menjadi dirimu sendiri
Tak perlu bersusah menjadi keinginan orang lain
Percayalah sekali lagi
Rumah itu tetap ada berdiri dan kuharap kau selalu tersenyum kelak kau akan mengunjunginya kembali dalam abadi
Sabtu, 22 November 2025
#PUISIBARUTERBIT : BERTAMU KE MASA LALU
Dunia yang kita pijak masih tetap sama
Nasibmu tak jauh berbeda
Di pojokan kamar sewa pengap
Rabu, 12 Februari 2025
Mendengar Diri Sendiri
MENDENGAR DIRI SENDIRI
Sabtu, 08 Februari 2025
Setelah Menonton Film : 1 Kakak 7 Ponakan
Setelah menonton film 1 Kakak 7 Ponakan beberapa minggu lalu ada hal-hal menarik yang menjadi perhatian saya dan bisa menjadi perenungan bagi kita semua.
[Spoiler Alert]
Dari adegan awal, saat Moko harus mendadak ditinggal kakak perempuan dan kakak iparnya dalam satu hari yang sama. Kita semua akan menghadapi kehilangan. Siap tidak siap kehilangan itu datang. Tidak pula permisi. Sementara kehidupan setelahnya harus terus berjalan. Moko yang baru saja lulus kuliah harus membiayai para keponakannya, apalagi saat itu masih ada yang bayi sehingga ia memutuskan untuk merawatnya dan memendam mimpinya sebagai arsitek terlebih dahulu. Karena mereka bukan berasal dari keluarga berada, jadi tentu permasalahan ekonomi menjadi cukup pelik.
Ditambah lagi Moko harus kedatangan satu orang anak bernama Ais dari guru les pianonya yang broken home. Dengan rasa tidak enak hati dan kasihan, ia pun tetap menerima untuk tinggal di rumah tersebut.
Dari kejadian-kejadian tersebut menunjukkan persiapan finansial untuk keluarga itu penting, karena akan dijalani dalam masa panjang. Semua harus sudah dipikirkan dari sejak awal.
Di tengah sulitnya mencari kerja dan ekonomi
Untung saja Moko masih punya teman yang supportif. Maurin. Walaupun Moko sempat tidak percaya diri dengan kondisinya saat itu dan Maurin adalah sosok perempuan yang bisa dibilang kondisi ekonominya lebih baik. Tapi Maurin meyakinkan Moko semua bisa dilewati dan akan baik-baik saja sambil dipikirkan bersama solusinya.
Kedatangan Mba Osa sang kakak dan Mas Eka sang ipar dari Australia juga tidak membuat kehidupan mereka membaik, Moko yang sudah mendapatkan kerja yang stabil malah dimanfaatkan oleh Mas Eka yang kerap meminta biaya dengan dalih untuk keperluan para keponakannya mereka. Namun ternyata uang tersebut malah digunakan untuk investasi bodong dan dia kabur entah kemana dan para keponakannya disuruh kerja cari uang sendiri sama Mas Eka. Tentu saja saat itu Moko tidak tahu.
Saat keponakannya sudah beranjak dewasa dan sudah ada yang sudah kerja.
Moko merasa keponakannya semua tidak perlu bersusah payah dan biarkan ia saja yang bekerja sendiri. Namun itu salah. Dan di adegan menjelang akhir itu memang ditunjukkan oleh Maurin dan para keponakannya Moko.
Intinya berjuang sama-sama itu tidak apa-apa, tidak semuanya harus ditanggung sendiri. Rasa tanggungjawab yang berubah menjadi rasa bersalah dan menyalahkan diri ini tentu saja tidak sehat. Terlebih tanggungjawab itu bukan sepenuhnya ada padanya.
Lalu ada Adegan Ais menanyakan kepada Moko, "Pernah gak sih kita ngelakuin sesuatu hal, supaya bisa ngerasa orang yang kita sayang itu masih ada?" dan saat Moko kilas balik mengingat semua kebersamaannya bersama almarhum kakak di situlah saya tidak bisa membendung air mata. Pecah. Sesak. Saya bisa merasakan sama persis apa yang Moko rasakan. Bahwa ia melakukan sesuatu hal tersebut demi mengingat dan menggantikan posisi kakaknya yang sudah tiada. Ia berusaha menutupi rasa kehilangannya tersebut dengan bertanggungjawab atas apa yang terjadi dengan keluarganya. Sementara bagi para keponakannya, Moko tidak harus berjuang sendirian. Moko juga berhak bahagia dan mengejar mimpi-mimpinya.
Jika film ini masih ditayangkan di bioskop terdekat kalian, boleh luangkan waktu untuk menonton dan merasakannya sendiri.
(DR)
Rabu, 14 Februari 2024
Menghidupkan Kembali Demokrasi
Minggu, 11 Februari 2024
Filosofi Asap
Filosofi Asap
Terbakar-terbakar semuanya
Membumbunglah asap
Tak peduli ras, suku, agama
Semua sama hirup sesak
Setelah habis semua lenyap
Akhirnya tinggal abu
Yang ditiup angin jadi debu
Juga buat sesak
Semua bertahan
Di tengah sesak
Sementara asap dan debu
Masih abadi
(DR)
Jumat, 28 April 2023
Televisi
Malam hari tanpa sinar bulan. Kelam. Aku kembali berangkat menuju kantor mengambil chargerku yang tertinggal. Televisi kubiarkan menyala saat pergi. 30 menit kemudian aku kembali dan saat berdiri di depan pintu rumah. Sayup sayup terdengar suara tidak jelas dan bising dari dalam rumah. Seperti bunyi kursi yang digeser dan juga langkah kaki. Aku memberanikan diri untuk masuk. Pintu perlahan kubuka, posisi kursi masih seperti semula. Kondisi televisi masih menyala namun menayangkan cuplikan video seperti kaset rusak yang tidak jelas. Terlihat sebuah ruangan yang tidak aku kenali.
Dari sudut layar, sosok dengan kain putih lusuh tercabik-cabik, wajah hancur berdarah dengan mata hitam pekat bergerak terseok-seok mendekati kamera dan dari layar televisi ia berteriak ke arahku
AWAS DI BELAKANGMU!!!
Aku tersentak dan refleks menoleh ke belakang.
Berdiri sosok dengan wajah yang sama persis ada di layar televisi tadi. Sekejap ia mendekat ke arahku. Di balik hancurnya wajah itu, perlahan aku mengenalinya.
Seorang teman beralih musuh.
Terakhir aku melihatnya 15 tahun lalu saat kukubur jasadnya di tengah kebun sawit dengan pisau penuh darah tertancap sebagai nisannya.
Kamis, 19 Januari 2023
19 Januari adalah Hari Kehilangan Di Semestaku
Tepat 6 tahun yang lalu aku kehilangan seorang kakak perempuan. Anak tengah. Pekerja keras. Melakukan apapun demi keluarganya.
Minggu, 27 November 2022
Ibu-kota
Aku tak tahu apa apa
Selasa, 01 Februari 2022
Topeng Muslihat Rasa
Ada masa saat aku hanya berdiri di depan cermin, bayanganku bahkan tidak mengenali tuannya sendiri. Karena sudah terlalu banyak topeng yang kukenakan. Kudapati topeng-topeng dari itu masa silam. Silam belum terlalu jauh. Masih baru dari luka yang masih basah juga dari bahagia yang tumbuh merekah.
Jumat, 06 Agustus 2021
WHATSAPP BUKAN KITAB SUCI
Kepada bapak, ibu, adik, kakak yang saya sayangi jika berkenan baca sejenak tulisan ini.
Minggu, 10 Januari 2021
Bandara Adalah Tempat Sakral
Selama merantau, sejak 11 tahun lalu saya memaknai bandara sebagai tempat yang sakral.
Minggu, 15 Maret 2020
DEKAPAN DELAPAN
Ada delapan dekapan dalam hidup yang kau perlu ingat.
Bermula menjelang petang langit berpadu biru dan merah jingga
Saat itu dekapan pertama terlahir saat kau hadir pertama di dunia ini dan kau masih belum bisa membalas dekapan hangat dari ayah ibu
Dan waktu bergerak maju
Saat langkah kecilmu tercipta
Kau berjalan tertatih dengan kedua kaki mungil
Di ujung jalan kau hampir terjatuh
Ayah sigap menyambut dengan mendekapmu
Tak ingin kau terluka
Dan kalian berdua tertawa
Dunia terus berputar
Kau mulai pandai berbicara
Sekolah menjadi rumah keduamu
Setiap pagi kau berangkat
Namun tak selamanya berjalan baik
Kau pernah pulang dengan penuh luka di kaki dan lengan
Lalu ibu mendekapmu
Menyeka tangismu yang belum tiris
Kau mulai bertumbuh dewasa
Sudah mengenal baik dan buruk
Kau pergi mencari ilmu ke kampus yang jauh dari rumah
Mengejar cita menjadi sarjana
Kau ingin membuat ayah ibu bahagia
Dengan toga dan wisuda
Lalu mereka berdua mendekapmu
menahan sesak di dada, bangga
Realita mulai menghantam
Kau tidak ingin lagi menjadi beban
Merantau jadi pilihan
Sebelum kau berangkat pergi bekerja
Meninggalkan rumah yang nyaman
Ayah dan ibu memberi dekapan panjang
Tanda rindu yang tak berbilang
Waktu tak mengenal kata lelah
Kau akhirnya memutuskan untuk menikah
Lalu memohon restu kepada ayah ibu
Mendekap mereka setelah ijab terucap
Berjanji tetap beri bahagia
Dan segalanya bergerak cepat
Rambut mulai memutih dan anak-anakmu
telah memilih jalan hidupnya masing-masing
Di saat itu kau mulai disinggahi kehilangan-kehilangan orang yang kau sayang
Kau mendekap belahan jiwamu
Saling menguatkan
Dekapan ke delapan
Kau terima untuk kali terakhir saat kau tak dapat lagi mendekap
Hanya ada diam dan gelap
Karena kau telah menjadi kenangan
Doddy Rakhmat
15 Maret 2020
(Ilustrasi oleh Giri Prahasta Putra)
Rabu, 18 September 2019
DOA SENYAP
Kami yang pada akhirnya mulai terbiasa
Menyesap asap
Sudah lama kami bersedekap
Melindung diri dari kabut menyergap
Sesak pengap
Kami telah berteriak lantang
Namun perhatian tak kunjung datang
Kami hanya menunggu
Hujan datang
Memadam petaka terbentang
di tanah kami sekarang
Yang tentunya
Masih bagian Indonesia
Apa kabar yang sedang menghirup udara lega?
Dapat salam dari Mentaya
#SelamatkanSampit
#DaruratAsap
(Doddy Rakhmat)
MEMBAKAR LANGIT
Dulu biru
Sekarang kelam abu
Dulu jingga
Sekarang hitam jelaga
Dulu segar
Sekarang racun terpapar
Dulu perhatian penuh
Sekarang seolah enggan menyentuh
Dulu langit masih biasa-biasa saja
Sekarang ada api menyala
Menyala sengaja
Sengaja menyala
Lalu habis melenyap
Tersisa gelap
Hilang nurani
Hati tak fungsi
Akal membebal
Tangan seolah dewa
Memutus apa yang salah
Tampak benar adanya
Api menyala
Mungkin usai hari ini
Tapi barangkali lusa
Tangan dewa sekali lagi
Membuat lagit membara
(Doddy Rakhmat)
#SaveSampit #IndonesiaDaruratAsap
Minggu, 30 Desember 2018
Tidak Cukup Selamat Tinggal
Tidak cukup selamat tinggal dari kepergianmu. Kamu adalah kegagalan yang aku ciptakan sendiri. Kita berdua terluka dan kamulah yang paling menderita. Aku berdoa agar kau segera dibahagiakan oleh orang lain. Agar semua lara segera berakhir. Tidak ada ruang lagi yang tersisa untukku di hatimu yang telah sesak karena benci dan kecewa. Tidak ada jalan kembali kepadamu.
Kita yang pada akhirnya telah berjalan saling menjauh dalam genggaman tangan yang lain berusaha menemukan kebahagiaan masing-masing. Ada saatnya kita berpaling melihat satu sama lain, lalu tersenyum simpul mengingat segaris waktu yang pernah dilalui bersama. Lalu kita sadar, bahwa waktu tak pernah berjalan mundur, luka-luka akan menguatkan diri menuju masa depan.
Tidak cukup selamat tinggal,
dari pria yang pernah jatuh hati dan patah hati kepadamu.
(Doddy Rakhmat)
Minggu, 25 Februari 2018
Ini dia! 5 Drama Korea Yang Recomended Buat Kalian Tonton
Jumat, 23 Februari 2018
Pengalaman Horor Nonton di Bioskop
PENGALAMAN HOROR NONTON DI BIOSKOP
Okey setelah banyak sekali tulisan yang berbagi pengalaman alias experience nonton film di bioskop kali ini daku juga mau cerita. Dari mulai lahir sampai sekolah SMA gue belum pernah nonton film di layar lebar terus rame-rame. Paling banter nonton film bajakan terus nonton bareng kawan-kawan di LCD Proyektor kelas pas lagi jam pelajaran kosong. Nah, pertama kalinya daku menginjakkan kaki ke bioskop saat kuliah di bogor tahun 2010.
Rata-rata mal di sana sudah punya bioskop, tapi diriku hanya lewat dan numpang foto di depannya aja. Maklumlah, anak kos mau nonton penuh perhitungan. Satu tiket bisa buat makan 3 kali kayaknya. Dan satu nyawa kembali terselamatkan, ahay. Hingga suatu ketika, teman-teman satu kosan berniat untuk nonton ke bioskop. Alangkah senangnya hatiku, dan lebih senang kalau dibayarin. Eh ternyata nggak. Bayar masing-masing, awalnya berat seperti Dilan bilang ke Milea. Tapi karena yang dicari adalah cinematix experience yang gak bakal kita dapet pas nonton di layar kecil dan sound pas-pasan akhirnya diriku ikut mereka. Biarlah puasa 3 kali makan.
Berangkatlah kami ke salah satu mall di Kota Bogor, menuju lantai paling atas karena bioskopnya ada di sana. Cinema 21. Pas masuk rasanya deg-degan kayak masuk ruang ujian, hampir mau lepas sendal eh ternyata boleh dipakai karena lantainya empuk dikasih karpet bawaannya pengen tidur di atasnya.
Film pertama yang diriku tonton di bioskop adalah Sang Pencerah. Tentang Kyai Ahmad Dahlan. OST yang nyanyi Nidji kebetulan band favorit diriku pada zaman itu. Jadi sampai merinding dengernya. Setelah saya nonton film itu, keluar dari teater rasanya beda aja. Ada kepuasan tersendiri. Tapi tergantung juga eksekusi filmnya seperti apa bahkan sekarang diriku kalau ada film yang mengecewakan rasanya pengin minta balikin uang tiketnya.
Selama kuliah saya jarang nonton, terhitung hanya 2 kali saya nonton di bioskop selama di Bogor. Dan paling banyak ketika saya sudah kerja di Jambi sekarang. Hampir tiap bulan pasti saya ada nonton, setiap cuti, dinas luar kalau memungkinkan, saya sempatkan. Walaupun sering dikomen sama mamak sih. Mending buat beli beras katanya daripada beli tiket bioskop yang lumayan mahal belum lagi jajanannya.
Pengalaman paling menyebalkan yang sering diriku alami adalah kursi kita direbut secara brutal oleh penonton lain. Dan itu kadang bikin diriku baper, apalagi yang nempatin gak mau pindah. Karena posisi duduk adalah segalanya kalau nonton di bioskop. Semakin strategis, semakin nyaman. Dan ngomong-ngomong soal posisi duduk, favorit aku biasanya di row paling atas dan bagian tengah. Jarang dapat paling pojok.
Oke. Ada satu momen yang tak akan pernah kulupakan saat menonton film di bioskop. Berkaitan dengan posisi duduk tadi. Kejadian ini terjadi saat liburan natal tahun lalu. Desember 2017.
Semua berawal dari perjalanan dari kebun menuju Kota Jambi, saya sudah tidak enak badan. Keringat dingin sudah menitik di dahi. Di tengah perjalanan saya minum tolakangin untuk meredakannya tapi bukannya sembuh perut saya malah mules sejadi-jadinya. Antara mau buang angin atau buang air. Saya dihadapkan kegalauan itu. Dihadapkan problematika yang menimbulkan perdebatan dalam diri. Yang bisa menyebabkan pecahnya perang dunia ketiga.
Hotel masih jauh di depan mata, saya berusaha tetap fokus dan tenang walau pikiran dan badan saya berkecamuk dihantam badai. Kentut segan, sendawa pun tak membantu. Selama 2 jam saya menjalani situasi yang tidak menyenangkan. Hingga saya tiba di hotel dan langsung nangkring di toilet. Fyuh, lega. Tapi kondisi badan saya tetap belum fit total.
Malam harinya kami ada acara makan bersama, semua berjalan lancar. Setelah itu saya dengan teman juga istrinya berencana mau nonton film yang lagi booming AAC2 walau endingnya is totally dibikin bengong. Kami sudah pasrah karena saat itu sedang akhir pekan, macet di jalan dan tentu bioskop penuh manusia. Sambil memantau dari aplikasi cinema 21 mobile dan membuat kami tetap nonton karena masih tersisa barisan atas.
Kami bertiga nonton film yang jadwalnya jam 21.45 kami tiba sekitar jam 21.30 di sana. And you know what. Saat lagi nunggu di lobby bioskop, perut daku tiba tiba mules di tengah keramaian itu. Film masih belum mulai dan daku buru buru ke toilet. Pengalaman paling malu dimulai. (Berasa kayak opening bioskop trans tv dulu deh)
Dalam toilet XXI itu yang notabene sempit dan cuma sepetak, daku ngelepaskan hajat terpendam dengan beberapa kali tembakan kentut yang membahana. Sampai yang lagi pake toilet di sebelah ketawa. Ampuni hamba. Sumpah malu banget. Setelah selesai dan keluar dari toilet mengendap-endap memeriksa udah sepi atau belum karena takut diliatin sama orang-orang siapa yang habis ngebomb kedamaian toilet XXI yang elegan.
Daku dapat kursi paling pojok, tepat di samping dinding. Spot terbaik untuk jomblo yang tak punya gandengan. Di samping daku ada mas-mas bawa dua cewe entah pacar atau gebetan tapi dandan ala sosialita gitu. Film dimulai. Dan seketika daku ingin menjadi fahri yang dipujapuji para wanita. Oke stop it!
Di pertengahan film, there's something wrong again with my stomach. Kampret banget. Mules lagi persis kayak di perjalanan tadi. Posisinya bener bener udah di level bahaya. Kali ini hasrat ingin kentutnya luar biasa hebatnya. Kebetulan daku pake celana pendek waktu itu dan hawa dingin AC dengan biadab membuat perut mules kembalu. Akhirnya daku coba geser-geser posisi duduk, keringat dingin mulai membasah. Ada masa-masa ketika musik film lagi naik-naiknya, kepengen ngelepasin tapi takut baunya busuk banget. Akhirnya ditahan lagi. Di saat genting itu tidak ada pilihan lain karena posisi daku terlalu jauh untuk pergi ke kamar mandi. Kalau melewati beberapa bangku pasti daku udah nembak-nembak gak karuan. Bener-bener di ujung banget. Gak mungkin daku bergerak. Geser sedikit meledak udah. Kayak tim gegana lagi ngejinakin bom. Menegangkan.
Daku tetap paksakan nonton, berusaha menikmati film, apalagi menjelang ending yang sebenarnya orang-orang pada nangis nah akunya enggak. Gak terlalu sedih sebenarnya cuma karena lagi fokus banget nahan aja, men! Kan gak lucu juga kalau pas Chelsea Islan bilang, 'Nikahi aku, Fahri' terus lagi senyap gitu tiba-tiba ada suara 'duuuuut' atau 'prooot' yang ada daku ditatap satu studio, terus disuruh keluar, dikucilkan, masuk daftar hitam bioskop terus aku pulang ngambil tanah sambil menaburinya ke badan. Karena aku merasa kotor dan nista. Untung itu masih dalam bayangan dan tak pernah kejadian. Daku selamat. Tuhan masih memberikan kesempatan.
Sumpah, film romantis dan mengharukan kayak Ayat Ayat Cinta 2 berubah drastis kayak film horor paling serem pas saat itu. Jadi pengalaman banget buat ke depannya kalau nonton harus di posisi bangku yang strategis, tidak jauh dari tangga jalan keluar. Kali aja serangan angin gerilya itu kembali datang. Tapi daku gak pernah kapok nonton di bioskop. Selama masih ada duit dan waktu, film adalah salah satu bentuk hiburan terbaik yang bisa dinikmati jomblo seperti daku ini.
(Doddy Rakhmat)
Jumat, 02 Februari 2018
Sendiri & Tabah
SENDIRI & TABAH
Tabahlah, kepada kalian yang masih sendiri. Hapus airmatamu, lenyapkan rasa sepimu, Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk kehidupanmu. Jangan terlalu cepat berprasangka Tuhan tidak mencintaimu dan tidak adil padamu. Dia memberikanmu kesempatan untuk menghargai kesendirianmu agar kamu menjaga hati. Memberi jeda agar kau jatuh hati kepada orang yang tepat dengan cara yang benar.
Tabahlah, tak usah kau risau dengan perkataan orang lain. Hiduplah di atas prinsip kita sendiri bukan penilaian-penilaian mereka yang tak mengenal dengan benar dirimu. Karena hati adalah samudra yang dalam. Penuh kerahasiaan dan teka-teki besar yang orang lain tidak berhak mengetahuinya.
Tabahlah, sendiri bukan berarti kau orang paling rendah di muka bumi. Berjalanlah sebagaimana ksatria hendak pergi ke medan perang, jangan patah arang. Tuhan telah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Itulah ketetapannya. Apakah kamu meragukannya? Jika iya, itu sama saja kamu meragukan dirimu sendiri.
Tabahlah, menjadi sendiri memang bukan pilihan, melainkan sebuah proses. Dari ganjil yang nanti akan tergenapi. Dari ketidaksempurnaan menjadi kebahagiaan hakiki.
Tabahlah, seperti batuan karang yang dihempas ombak bertubi-tubi. Kegagalan-kegagalan yang menghampirimu dalam menemukan teman hidup hanyalah ujian kecil agar kau berjiwa besar.
Tabahlah.
Doddy Rakhmat
















