Minggu, 11 Januari 2015

#TravelYear Episode Palembang, Aku Datang!

Selamat hari ke 11 di tahun 2015 para pembaca animan dan budiman

Seperti yang saya sampaikan pada postingan blog sebelum-sebelumnya, saya membahas tentang #TravelYear2015 alias Tahun Perjalanan 2015
Secara garis besar saya ingin di tahun 2015 banyak daerah daerah di Indonesia yang lebih banyak saya kunjungi. Mewujudkan satu demi satu, cita-cita keliling nusantara.
Akhir pekan lalu yang lalu, saya berkesempatan untuk liburan ke kota yang identik dengan Pempek, Jembatan Ampera dan juga Benteng Kuto Besak nya.
Ya apalagi kalau bukan Palembang, tanah Wong Kito Galo.

Palembang merupakan destinasi #TravelYear pertama saya di tahun 2015. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari perjalanan menuju kota yang khas dengan Pempek nya ini.

Pelajaran pertama adalah Belajar Bersabar. Ya,  sabar. Itu adalah kunci dari segala masalah. Ada pepatah bahwasanya Manusia hanya bisa berencana Tuhan yang menentukan. Seperti itulah yang saya alami di liburan pertama saya di tahun 2015 ini. Berawal dari hari Jum’at sore, saya bersama teman saya sudah bersiap siap untuk berangkat dengan menunggu jemputan mobil dari agen travel. Seminggu sebelumnya saya sudah memesan kendaraan travel, semua direncanakan dengan matang. Mulai dari jadwal keberangkatan dan jadwal pulang. Namun ada kendala saat jadwal keberangkatan. Travel yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan diluar prediksi. Karena posisi kami di remote area, kami harus berangkat menuju Kota Jambi terlebih dahulu sebelum ke Kota Palembang. Mobil yang akan membawa ke Kota Jambi ini, tidak menjemput kami sesuai dengan pesanan via telfon. Seharusnya dijemput sekitar jam 5 sore. Ini bahkan sampai pukul setengah 7 malam, kami belum dijemput juga. Akhirnya kami pergi menumpang kendaraan dari perusahaan yang sedang mengantar aparat ke kantor polsek. Kami memutuskan untuk membatalkan travel tersebut, dan memberhentikan mobil di tepi jalan lintas sumatera. Tiba-tiba muncul lah mobil tumpangan Grand Li*ina yang kebetulan bisa menampung dua orang yang nyaris ngegembel di tepi jalan ini.

Setelah berunding, kami pun naik ke mobil mewah tersebut yang sama sekali tidak nyaman rasanya. Terus terang, kami kebagian di kursi paling belakang yang sempit dan karena ini tipe mobil rendah sehingga kami duduk dengan amat tidak nyaman. Kaki tidak leluasa, perut tertekuk. Alhasil, saya langsung mabuk darat. Hoeeek. Lebih lebih lagi, Air Conditioner tidak berfungsi dan mengandalkan jendela terbuka. Angin malam masuk, isi perut keluar. Perfect.

Melihat waktu dan jarak tempuh yang tidak memungkinkan untuk mencapai jam keberangkatan travel. Maka dengan berat hati, kami membatalkan mobil travel yang harusnya kami tumpangi ke Palembang pukul 10 malam. Itu artinya kami harus survive cari kendaraan dari tepi jalan lagi sesampainya disana. Semangat! Disinilah saya mendapat pelajaran kedua, bahwa Banyak jalan menuju Roma, Banyak jalan menuju Ampera. Untungnya saya banyak mendapat masukan dari teman saya. 

Yang saya tak lupakan dari perkataannya adalah “Kan mau backpacker an, harus siap dong. Anggap semua ini adalah bagian dari perjalanan yang menyenangkan” . Dari perkataan tersebut saya merasa terpacu untuk menjadi traveler yang tidak mudah menyerah dan mengganti keluhan menjadi bersyukur. Thanks pak!

Kembali ke perjalanan menuju kota Jambi

Setengah perjalanan, terjadi hal yang tidak “diinginkan”. Ada penumpang yang mabuk darat. Bukan saya, saya mabuk daratnya di perberhentian istirahat. Bodohnya penumpang tersebut tidak meminta berhenti kepada supir untuk muntah secara terhormat. Malah dengan gampangnya, mengeluarkan isi perutnya itu melalui jendela dengan posisi mobil melaju dengan kecepatan penuh. Alhasil, isi perutnya itu berserakan kemana mana di sisi kanan bagian mobilnya. Sampai membuat corak di jendela mobil. Gak banget. Kasihannya, teman saya yang tepat di belakang penumpang tersebut terkena “sedikit” isi perutnya itu. Bukannya minta maaf, penumpang itu berlagak biasa saja merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa. Kembali ke pelajaran pertama, Bersabar.
Perjalanan yang pasti dikenang seumur hidup.

Tibanya kami di Kota Jambi, setengah jam lalu mobil menuju Palembang sudah berangkat, bus yang hendak kami tumpangi pun sudah berangkat 15 menit sebelum kami sampai. Ujian. Kami memilih untuk beristirahat di salah satu rumah makan, disitulah ada abang abang calo yang menawarkan berbagai kendaraan untuk berangkat ke Palembang.  Mulai dari travel pribadi sampai bus. Kami memilih untuk menggunakan yang ditawarkan abang calo itu, bus itu sedang melaju dari pekanbaru. Perkiraan sampai ke Kota Jambi adalah jam 3 pagi. Berarti kami terkatung-katung selama 4 jam. 

Adek lelah bang...

Anehnya saya tidak bisa tidur di waktu itu, posisi tidur yang tidak enak dan pikiran yang tidak tenang menunggu kendaraan. Berkumpul menjadi satu. Ya walaupun akhirnya saya paksa paksakan untuk memejamkan mata barang satu-dua menit.

Pukul 3.30 pagi
Akhirnya bus yang membawa mimpi mimpi ini datang. Lagi lagi kami dapat di bangku paling belakang, itupun kami membayar ke abang calo sesuai harga travel yang akan kami tumpangi. Padahal kami yakin bahwa harga tiket bus tersebut lebih murah. Tapi tak apalah, sesekali beramal ke abang calo. Di bus tersebut, saya memasang headset dan memutar playlist musik. Saya biarkan diri ini pasrah tertidur dari lelah. Lelah menunggu.


Jam yang tertera tidak sesuai dengan kenyataan.

Pukul 10.30 tepat saya tiba di Kota Palembang. Turun dari bus, kemudian kami berpisah. Kalau tujuan saya berlibur, lain dengan teman saya tersebut. Dia ingin menghadiri acara tujuh bulanan istrinya.  Petualangan pun dimulai.

Saya langsung dihadapkan dengan acara kejar-kejaran moda angkutan Trans Musi. Trans Musi ini semacam Trans Jakarta, Cuma tidak ada lintasan khususnya. Dan tidak semua ada halte permanen. Ada yang hanya undakan berubin dengan pegangan dan pembatas. Dengan harga Rp 6.000 anda dapat berkeliling Palembang dengan nyaman. Sebetulnya harga karcisnya Rp 5.000 karena menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM mulai per 1 Januari 2015 sehingga naik Rp 1.000,-

Pertama saya memutuskan untuk check in di Hotel. Kamar hotel saya sudah pesan melalui Traveloka App. Setelah sampai di hotel, ternyata keterangan dari resepsionis baru bisa melakukan check-in mulai pukul 2 siang. Akhirnya saya hanya berganti pakaian dan menitipkan barang di lobby hotel. Langsung menuju destinasi pertama saya, Cinema 21 di Palembang Square. Ada dua film indonesia yang bagus untuk ditonton.

Berangkat dari hotel saya naik bus kota seperti kopaja. Tidak jauh dari jalannya bus saya kembali turun, ternyata bus saya tumpangi tidak melalui tempat yang saya tuju. Setelah membayar ongkos Rp 4.000,- kepada kenek bus, saya turun dengan cukup kesal. Karena saya merasa ditipu, sebelum naik bus tersebut saya sudah bertanya tempat yang saya tuju, dan si kenek bus mengiyakan. Tapi dengan gaya tidak bersalahnya ketika di dalam bus, dia bilang bukan naik bus jurusan tersebut. Ah sudahlah.
Seturunnya dari bus, saya memilih berjalan kaki. Hitung-hitung irit ongkos, dan biar lebih sehat. Dengan bantuan Google Maps saya mengetik tujuan tempat, dan memulai navigasi dengan mode jalan kaki.



Jalan kaki biar sehat :)

Kurang lebih 15 menit berjalan tiba lah saya di Palembang Square, langsung memesan tiket film. Saya membagi jadwal menonton saya ke dalam dua waktu, siang dan malam hari. Untuk sore sampai menjelang malamnya sudah saya rencanakan untuk ke Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak.


Supernova dan Assalamualaikum Beijing, siap ditonton.

Selesai menontom film pertama, saya langsung bergegas ke destinasi selanjutnya menggunakan angkutan umum. Uniknya angkutan umum di Kota Palembang ada dua jenis ada yang jenis carry seperti angkot kebanyakan, dan ada yang seperti ini.



Angkot Palembang :)

Ongkosnya sama seperti naik bus tadi yaitu Rp 4.000,- .Nilai plusnya dengan naik angkutan ini lebih nyaman dan leluasa, saat naik atau menurunkan penumpang dengan tiga pintu di sisi kiri mobil.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang dan penuh perjuangan. Tibalah di ikon kota Palembang. 

Jembatan AMPERA!!!!!!



Sore hari, ramai pengunjung

Jembatan Ampera dibangun pada tahun 1962 dan resmi digunakan pada tahun 1965. Awalnya bagian tengah jembatan bisa diangkat agar tiang kapal yang lewat tidak tersangkut di badan jembatan. Namun sejak tahun 1970, aktivitas turun naik jembatan dihentikan karena dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.

Ternyata Jembatan Ampera ini sangat dekat dengan Benteng Kuto Besak kurang lebih 500 meter.




Menurut Wikipedia, Benteng kuto besak didirikan sebagai bangunan keraton yang ada pada abad XVIII  menjadi pusat Kesultanan Palembang. Benteng Kuto Besak sekarang ditempati oleh Komando Daerah Militer Sriwijaya.

 

Saya juga mengunjungi Museum Badaruddin, di sisi halaman sebelah kirinya terdapat Arca Budha. Di samping pintu masuk ada banyak pedagang kaki lima dengan beraneka khas makanan palembang yang dijajakan. Saya memilih untuk mencoba Pempek Bakar. Karena sangat jarang ditemui jenis pempek ini daripada jenis lainnya seperti Kapal Selam, Model, Tekwan atau Lenjer.


Pempek Bakar @Rp 1.500. Yummy!

Setelah itu saya memutuskan untuk melintasi jembatan Ampera, untuk menghitung panjangnya secara manual. Tapi sangat disayangkan perjalanan saya melintasi ini terganggu oleh banyaknya pengendara motor yang melanggar aturan lalu lintas, mereka dengan mudahnya menggunakan tempat pejalan kaki sebagai jalan motor.



“348 langkah membelah Sungai Musi dari Atas Jembatan Ampera”

Setelah cukup lelah berjalan, saya beristirahat untuk makan di fast food franchise yang ada di dermaga musi. Tujuannya sih bukan hanya makan. Saya sedang menunggu Ampera di waktu malam. Tepat jam 18.30 saat matahari sudah tenggelam di sisi musi sebelah barat, langit berubah menjadi gelap. Indahnya Ampera pun terlihat




Setelahnya, saya sempatkan ke Masjid Agung Palembang untuk menunaikan Sholat Magrib, tentunya di setiap perjalanan jangan sampai lupa kepada Maha Kuasa ya.

Ada kotak amal dengan tulisan arab dan tulisan belanda kalau tidak salah yang terletak sisi belakang mesjid. Tepat di depan gerbang mesjid Agung Palembang ada Air Mancur yang indah.
     
    


Pesona Mesjid Agung Palembang

Bergegas menuju ke Palembang Square untuk menonton film kedua, sebelum berangkat saya sempatkan untuk berfoto di Monpera. Monumen penderitaan rakyat yang terletak di depan Mesjid Agung hanya dibatasi oleh jalan raya. Namun sayang, monumennya tidak terlalu tampak jelas di malam hari, dan kamera smartphone saya pun kurang jelas menangkap gambarnya.




MONPERA tampak depan

Pukul 10.30 film kedua yang saya tonton selesai, dan saya belum check in hotel. Untungnya ada taksi di depan Palembang Square, tidak lebih dari 10 menit saya sudah sampai ke Tune Hotel.
Hotel yang cukup nyaman dan bersih untuk harga yang tidak terlalu mahal, kurang dari Rp 250.000,- anda sudah mendapatkan fasilitas hotel yang selengkap ini




Jam 12 malam saya tidur,  mengistirahatkan segala lelah badan dan pikiran. Satu mimpi telah terwujud, semoga diberikan kesempatan untuk mewujudkan mimpi #TravelYear2015 selanjutnya, Padang.








3 komentar:

  1. Aaaaaaaa menyenangkan sekaaaaliiii. Seruuuu bangeeet sih. Jadi kepengen deh :))

    BalasHapus
  2. Iya menyenangkan, bisa menjadi salh satu destinasi wisata nusantara.
    Terima kasih telah mampir.
    Silahkan di view post yang lain ya.

    BalasHapus
  3. amiiiiin semoga mimpinya segera terwujud iya mas :)

    BalasHapus