Sabtu, 16 Juli 2016

Kota Setelah Hujan

Bukankah begitu dingin
Hujan sisa semalam
Betapa kejam, bukan?
Tangis yang menggelayut
Mengering belum kau seka
.
Aku yang mengetuk pintu rumah lamamu
Membawa seikat bunga rampai layu
Yang hendak kuberi sebelum pergi
Dan kau memulainya lebih dahulu
.
Genangan di jalan belum menguap
Menguar aroma tanah basah
Aku penasaran kisah yang terputus oleh waktu
Cerita setelah hujan
Tentang kamu yang tak ingin sendiri
Dan aku hanya senyap yang tak pernah berani berisik.

-Doddy Rakhmat
16.07.2016

(Picture : webneel.com)

Jumat, 24 Juni 2016

Pantas

Semua ibadah diciptakan sebagai batas. Membedakan sesuatu yang beriman dengan yang tidak. Puasa hari ini membatasi besok dan kemarin. Puasa besok batas hari ini dan lusa. Waktu memisahkan deretan ibadah satu dengan yang lainnya,

Buruk sangka dan Puasa memisahkan pahala dan dosa. Resah di doamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah oleh keyakinan. Begitu pula kesempurnaan wudhu, penghantar antara kesucian dan seorang hamba yang Tuhan sayang.

Seorang hamba membelah dosa dari hatinya. Atau zikirmu, di antara ketakzimanku dan ketenangan jiwa. Persis segelas kolak tanpa gula menjauhkan kita dari serakah.

Apa kabar puasamu?
Lihatlah tanda tanya itu jurang antara keingintahuan dan meyakinkan dirimu sekali lagi

Senin, 06 Juni 2016

Tidak Ada Makan Siang Hari Ini

TIDAK ADA MAKAN SIANG HARI INI.

Tidak ada makan siang hari ini
Tidak ada makan siang kemarin
Dan diriku yang lama tidak akan kemana-mana
Karena aku yang baru akan tiba

Masjid adalah ruang ibadahku
Bukan sekadar tempat mencari takjil
Dan puasa, kau tidak ingin aku
Berbuka sebelum waktunya

Pintu pahala terbuka
Segala setan terperangkap dalam penjara
Bulan ramadhan datang, datang, datang..
Bulan yang amat penting, dan kita selalu menunggu petang.

(Doddy Rakhmat)

Based upon Puisi Tidak Ada New York Hari ini oleh Aan Mansyur

Minggu, 22 Mei 2016

Hilang dan Berubah

Kehilangan membuatmu berubah seperti menyalakan alarm setiap pagi sebagai pengganti istri yang tak lagi di sisi; yang senantiasa membangunkan dan menyeduh kopi untuk disesapi.

Kehilangan membuatmu berubah seperti mematikan televisimu dan mulai menyelesaikan buku-buku yang lama belum kau baca karena kau ingin meyibukkan pikiranmu dengan imajinasimu sendiri bukan dari televisi.

Kehilangan membuatmu berubah seperti tidak melupakan kunci rumah saat bepergian karena kau takut kehilangan sesuatu lagi.

Kehilangan membuatmu berubah seperti memutar musik yang awalnya kau tak sukai, lalu kau ikut bersenandung dengan lafal separuh fals tapi kau tak pernah peduli

Kehilangan membuatmu berubah seperti mendung malu-malu tampil di langit; segan menjadi hujan.

Kehilangan membuatmu menemukan diri sendiri yang selama ini hilang dan kau akan berubah.

*Doddy Rakhmat
22.05.2016