Rabu, 15 April 2015

(Ketika) Politik Itu Tuhan

Politik itu Tuhan
Bagi para pemuja duniawi
Lupa dengan takdirnya sendiri
Mati

Saling bunuh tanpa pisau
Saling caci tanpa risau
Saling tuduh meracau
Kacau

Berkoar pada janji janji regulasi
Ujung-ujungnya hanya minta naik gaji
Tak dapat yang diingini
Mulai sunat sana sini
Korupsi

Politik itu Tuhan
Bagi jisim kesurupan
Agamanya ialah ketamakan
Kitabnya ialah kepalsuan
Bongkar semua kebusukan

Ilegalkan saja kemakmuran yang kau tebarkan
Agar aku menjelma malaikat pencabut kehidupan
Wahai dirimu yang menganggap Politik Itu Tuhan

Doddy R
14.04.2015





Minggu, 12 April 2015

Ailurophile

Minggu, hujan dan sepotong kenangan.

Tiga hal yang selalu membuatku kembali mengingat tentang Dia. Aku mengingat saat pertama jumpa dirinya, di gang belakang rumahku. Senyumnya manis tulus. Sesekali ia menggoda ku, aih.  Malah aku yang tersipu malu. 

Aku mencari tahu dimana rumahmu, ya senyum mu itu menggali rasa penasaran.  Diam-diam aku mengikutimu saat kau melintas di ujung gang. Saat itu hatiku berdebar, seperti maling takut ketahuan.  Jalan mengendap-endap agar tak kau curigai. Semakin lama aku membuntuti, dirimu tak juga menyambangi rumah. Dan akhirnya rasa yang menggelora itu membuat aku nekat menculikmu. Ku ajak dirimu ke rumah, selama bersamaku kau diam saja.

Hari itu hari minggu. Hujan membasahi bumi dengan hebatnya, hanya ada aku dan dirimu. Di sebuah kamar 3 x 4 meter, selanjutnya tak bisa aku tuliskan.  Kesannya terlalu nakal. Tak tega aku melihat dirimu telanjang, maka kukenakan baju sisa peninggalan korban ku sebelumnya.

Perlahan kuusap dahi mu, matamu menyipit. Menikmati setiap kelembutan yang terkirim melalui syaraf-syaraf disekujur tubuhmu. Dan engkau tertidur di pangkauan ku. 
Aku senang melihat dirimu tidur, sebegitu profesional karena kerjamu hanya mendengkur. Liuk tubuh membentuk huruf U sempurna. 

Hujan bertambah hebat, dan aku tertidur bersamamu.

Sepotong kenangan tentang kamu, Belang. 
~Doddy R
12.04.2015

Senin, 06 April 2015

Hakikat Kasih Sayang

Suatu hari, seorang ibu dan anak menikmati jutaan partikel air yang jatuh dari langit.  Percakapan mulai mengalir. 

"Ini bukan hujan Meilan" ujar sang ibu

Si anak bertanya, "Lantas apakah yang sedang mengguyur deras kita mah?"

"Ini adalah air mata langit
Sesekali ia menangis, tangisannya kadang dinanti, kadang dicaci" jawab sang ibu seraya menuntun anaknya

"Kenapa langit menangis Mah?"

Sang ibu menjawab dengan tenang,
"Langit ingin membuktikan bahwa masih banyak orang yang memiliki kasih sayang"

"Contohnya?"

"Apakah kamu kehujanan Meilan?" sang Ibu menatap anaknya

"Tidak, karena Mamah yang memayungiku" jawab Meilan dengan senyum

"Bagus, seperti itulah Mei. Kasih sayang sejatinya adalah melindungi"

~Doddy R
06.04.2015

Jumat, 03 April 2015

Bidadari Yang Datang Lebih Awal

Bidadari itu datang lebih awal
Ya, bidadari itu adalah Mamak dan Mbak
Diturunkan ke bumi agar mencipta surga di dunia

Bidadari itu tak pernah mengeluh
Walau raganya basah oleh peluh
Dan selalu menerima segala keluh
Tapi mereka tidak pernah mengaduh

Mereka tidak memiliki sayap
Namun dapat membawa diriku terbang mantap
Meraih mimpi-mimpi yang awalnya gelap

Biar raga meletih, semangat meredam
Berdua hadir sebagai cahaya yang terus bersinar
Tak kunjung padam
Menyalakan segala angan yang terpendam

Keduanya diutus oleh Tuhan Sang Maha Kuasa
Untuk menjadi pelindung jiwa
Bidadari-bidadari itu terkadang menetes air mata
Ingin sekali aku menyeka
Namun jarak membentang membuatku tak berdaya
Hadir dalam wujud doa yang tak henti kupanjatkan kepada-Nya agar berada di antara mereka

Maafkan pabila Doddy belum bisa memberikan kebahagiaan
Selamat datang lebih awal Mamak dan Mbak Uwi
Selamat terlahir kembali
3 April 2015