Sabtu, 28 Februari 2015

Akasia Kering

Pagi itu aku membuang tatap sejauh bukit di depan rumahku.  Dedaunan dari akasia telah mengering sejak seminggu lalu.  Menyisakan permadani coklat kala di pandang.

Kopi di meja sudah tandas, yang tersisa hanyalah ampas dan sedikit kisahku tentangmu.  Teringat menghabiskan musim dingin setahun silam.  Masih menggantung di langit kamarku tawamu yang khas, dengan gigi putih sebagai penghiasnya.

Kepergianmu adalah awal kedatangan menjalani kehidupan yang baru.  Sungguh teramat berbeda setiap harinya.  Aku memutar-mutar gelas di hadapanku.  Mencari dirimu disana.  Terima kasih atas hadiah pemberianmu dengan gambar kita berdua.  Terpatri indah di sisinya.

Sesekali daun akasia kering itu tertiup menggulung, bersama rasa rindu yang menggunung.

Surga - Bumi itu terlalu jauh kah?

-Doddy R-

Jumat, 27 Februari 2015

Senyum Uci

Ini semua tentang kamu Uci
Senyum menggemaskan terlukis di pipi
Membawa diri jauh terbang membelah langit tinggi

Sayang sekali Uci
Kini kamu hidup di panti
Bukan ditinggal orang tua mu mati
Mereka terlalu mengiyakan ego diri
Dan kamulah yang berbaik hati
Pergi melangkah sendiri
Muak sudah mendengar basa basi  tiap hari
Yang berujung tamparan di pipi

Uci, sudah cukup kau menyiksa diri
Aku hanya ingin melihat  lagi lengkung tipis antar pipi
Senyummu Uci yang selalu membuatku jatuh hati

Aih, Uci tak patut dirimu tercampak sana sini
Apalah dayaku seorang kuli
Hidup sehari untuk sehari
Namun hadirmu menghujam berarti

Maafkan aku Uci, mungkin aku hanya sepenggal kisah tak diminati
Tapi senyum dari mu buatku abadi
Walaupun dirimu hanya ada di mimpi

Jambi, 26 Feb 2015
12:47

Kamis, 26 Februari 2015

Monitor Tua

Senja itu sedikit mendung, suasana kantor lengang. Hanya Diro yang masih sibuk mengutak-atik data di depan monitor. Ruangannya paling pojok menghadap langsung ke arah gudang. Gudang yang menyimpan berkas dan perkakas kantor yang sudah usang.

Monitor tua merek perusahaan komputer ternama tampak memenuhi salah satu sudut gudang. Persis menghadap ruangan Diro.

Diro adalah seorang analis data perusahaan mikro blogging, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan komputer daripada manusia.

Akhir akhir ini bisa sampai larut malam lembur di kantor, menurut Diro lebih menyenangkan tinggal di ruangan kantor yang sejuk daripada kamar kosnya yang sempit dan sumpek.

Malam itu malam minggu, bukan malam jum'at kliwon. Diro yang sedang serius di depan monitor komputernya, teralihkan dengan suara benda jatuh yang berasal dari gudang.

Untuk pertama, ia tidak mempedulikan. Kemudian terdengar bunyi yang kedua, akhirnya ia beranjak untuk mengecek.

Tidak ada yang aneh dari gudang itu, hanya monitor berdebu tampak seperti menunjukkan tanda tanda ingin menyala. Ia seka debu yang ada monitor itu, dan alangkah terkejutnya dia mendapati layar monitor yang memunculkan tulisan pada layar.

"Pergi sekarang juga"

Diro tunggang langgang, meninggalkan gudang berlari, cepat cepat ia menuju pintu keluar kantor. Lampu kantor mendadak mati, semua gelap. Menyisakan diro dan kegelapan.

Diro merasakan pusing yang luar biasa, kepalanya berputar sampai ia ingin muntah. Tiba -tiba, semua senyap. Ada satu cahaya disudut ruangan yang begitu menyilaukan, ia dekati cahaya itu. Ia melihat ruangan kerjanya dengan sangat jelas, orang hilir mudik sibuk kesana kemari. Ketika ia melangkah kedepan, ia terhalang kaca yang sangat besar.

Setelah memandangi sekitar dengan seksama, Diro menyadari dirinya di dalam monitor tua di gudang kantornya. Ya, ia berada di dalamnya. Dan semua orang tidak menyadari.

Diro tak pernah kembali.

Sesekali monitor itu menyala, walau tidak terhubung arus listrik.

Tulisan yang terpampang : Tolong Keluarkan Aku.

-Doddy Rakhmat-

Terinspirasi dari film TRON.

Dimensi Kegelapan

Aku terus berlari. Berlari keluar dari ruangan gelap ini berharap menemukan sedikit cahaya. Aku takut semua momok bayangan menakutkan menghantuiku di dimensi kegelapan itu. Aku tak berani menatap makhluk makluk itu, semuanya sedang menatapku. Aku ketakutan, berusaha menampar diri sendiri, berusaha menyadarkan bahwa hanyalah mimpi. Sudah kulakukan. Tapi aku tetap berdiri di dimensi kegelapan.

Tak tahu aku harus kemana, aku hanya menunduk. Melewati sosok sosok menakutkan itu, aku terus berharap ini hanya mimpi dan aku terbangun. Ternyata tidak.

Aku bingung di dimensi kegelapan ini tak ayal seperti tempat para setan, demit, jin dan para leluhurnya berkumpul. Aku ada dimana? Keluarkan aku dari dimensi kegelapan ini.

Teriakan itu hanya terdengar di hati, tidak pernah terucap. Tidak pernah terbangun dan tidak pernah tertidur. Dimensi kegelapan ini telah menjebakku, ke dalam ketakutan yang tak berkesudahan.

-Doddy Rakhmat-

Terinspirasi dari kejadian 'ketindihan' atau sleep paralysis.