Kau tidak usah mencintai, tapi cukup ada di dalam hati
Kau tidak usah mencintai, karena aku sudah mencintai lebih dahulu
Kau tidak usah mencintai, namun jadilah orang yang selalu ada di kala aku sedih
Kau tidak usah mencintai, Mencintai hanyalah fana. Semu.
Berniatlah untuk membangun ibadah sepanjang hidup hingga maut menanti.
Kau tidak usah mencintai, biarkan saja rasa itu menguap bersama embun pagi. Bukan hilang tak berarti, tapi bergabung dalam awan awan yang akan memberikan hujan.
Maka ketika hujan aku akan berdiri di bawahnya, merasakan cinta yang luar biasa.
-Doddy Rakhmat-
Senin, 06 Oktober 2014
Sebab, Ku Percaya
Tanpa kau berkata, sebenarnya ku percaya. Bahwa hari-hari yang telah kita lalui bersama, bukan senda gurau belaka. Kita sedang sama-sama, saling memahami, melengkapi, dan menjadi teman berbagi yang tak terganti.
Aku ingin segera tiba saatnya. Kau meminta cintaku dengan perkasa, dengan kalimat indah atas nama-Nya. Meski sebenarnya tanpa kau meminta aku telah memberinya. Memberi hati yang hanya satu-satunya kepada lelaki satu-satunya.
Jagalah ia, cintailah ia atas nama-Nya. Sebab aku percaya, kamu takkan melukai aku yang telah percaya.
-Saidahumaira-
Aku ingin segera tiba saatnya. Kau meminta cintaku dengan perkasa, dengan kalimat indah atas nama-Nya. Meski sebenarnya tanpa kau meminta aku telah memberinya. Memberi hati yang hanya satu-satunya kepada lelaki satu-satunya.
Jagalah ia, cintailah ia atas nama-Nya. Sebab aku percaya, kamu takkan melukai aku yang telah percaya.
-Saidahumaira-
Kamis, 02 Oktober 2014
Lelaki Berbaju Batik
Malam jumat kliwon. Malam yang ditunggu muda-mudi kampung Tunik untuk berpesta Malam ini, pesta dirayakan di rumah Ayana, anak kepala kampung. Tepat pukul tujuh, beberapa tamu sudah berdatangan. Ayana pun melaksanakan ritual dansa dengan menutup mata dan memilih siapapun yang di hadapannya.
Dan tibalah saat itu, Ayana menutup matanya dan mulai berjalan tak tentu arah. Langkah Ayana terhenti, ia mencium bau melati. Ayana seperti mengenali siapa lelaki yang memakai minyak wangi aroma melati. Ayana segera membuka penutup matanya dan mendapati Fadli, mantan kekasihnya berdiri di hadapannya, lengkap dengan kemeja batik yang selalu dipakainya setiap hari.
Ayana langsung memeluknya dan mereka pun berdansa. Ayana terbawa suasana, mereka larut dalam cinta lama.
Ayana begitu merindu Fadli yang sudah lama tak pulang karena merantau. Ayana lupa pada pesta, perhatiannya hanya tertuju pada Fadli semata.
Beberapa hari setelah pesta itu. Ayana kembali bersama Fadli. Setiap hari mereka selalu bertemu. Ayana begitu bahagia. Mereka seperti tak ingin terpisahkan. Namun malam itu, Fadli mengatakan bahwa ia harus kembali pergi.
"Kamu mau kemana Fadli? Tak bisakah kau tinggal saja disini?"
"Tidak bisa Ayana. Aku harus benar-benar pergi dan aku tak akan kembali."
"Aku benci kamu!"
"Ku mohon Ayana. Jangan membenciku, aku hanya ingin bersamamu sebelum aku pergi."
"Aku ingin ikut denganmu."
"Jangan Ayana. Hidupmu masih panjang. Jangan kau sia-siakan untuk ikut denganku."
Ayana diam. Fadli mengecup kening Ayana dan memberikan Ayana sebuah baju batik berwarna merah, warna kesukaan Ayana.
"Simpanlah ini. Aku ingin kau mengingatku setiap kali menatap batik cantik ini. Dan aku ingin kamu mencintai batik ini seperti kamu mencintaiku."
Ayana menerima pemberian Fadli, matanya basah. Ia tidak ingin ditinggal Fadli.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Ayana. Ayana menatap Fadli sesaat seraya berkata sebentar. Ayana membukakan pintu, ternyata kakak Fadli yang datang.
-Saidahumaira-
Dan tibalah saat itu, Ayana menutup matanya dan mulai berjalan tak tentu arah. Langkah Ayana terhenti, ia mencium bau melati. Ayana seperti mengenali siapa lelaki yang memakai minyak wangi aroma melati. Ayana segera membuka penutup matanya dan mendapati Fadli, mantan kekasihnya berdiri di hadapannya, lengkap dengan kemeja batik yang selalu dipakainya setiap hari.
Ayana langsung memeluknya dan mereka pun berdansa. Ayana terbawa suasana, mereka larut dalam cinta lama.
Ayana begitu merindu Fadli yang sudah lama tak pulang karena merantau. Ayana lupa pada pesta, perhatiannya hanya tertuju pada Fadli semata.
Beberapa hari setelah pesta itu. Ayana kembali bersama Fadli. Setiap hari mereka selalu bertemu. Ayana begitu bahagia. Mereka seperti tak ingin terpisahkan. Namun malam itu, Fadli mengatakan bahwa ia harus kembali pergi.
"Kamu mau kemana Fadli? Tak bisakah kau tinggal saja disini?"
"Tidak bisa Ayana. Aku harus benar-benar pergi dan aku tak akan kembali."
"Aku benci kamu!"
"Ku mohon Ayana. Jangan membenciku, aku hanya ingin bersamamu sebelum aku pergi."
"Aku ingin ikut denganmu."
"Jangan Ayana. Hidupmu masih panjang. Jangan kau sia-siakan untuk ikut denganku."
Ayana diam. Fadli mengecup kening Ayana dan memberikan Ayana sebuah baju batik berwarna merah, warna kesukaan Ayana.
"Simpanlah ini. Aku ingin kau mengingatku setiap kali menatap batik cantik ini. Dan aku ingin kamu mencintai batik ini seperti kamu mencintaiku."
Ayana menerima pemberian Fadli, matanya basah. Ia tidak ingin ditinggal Fadli.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Ayana. Ayana menatap Fadli sesaat seraya berkata sebentar. Ayana membukakan pintu, ternyata kakak Fadli yang datang.
-Saidahumaira-
Batik Bertuah
Alkisah, di sebuah desa di daerah Jawa, hiduplah seorang pengrajin Batik bernama Mbok Yem. Konon kabarnya, Mbok Yem melukis batik dibantu kemampuan gaib karena kondisi ia yang buta.
Setiap batik yang dihasilkannya selalu meminta tumbal, bisa jadi anak anak atau gadis paruh baya. Batik lukis Mbok Yem terkenal di seluruh penjuru Kota. Yang memakainya adalah kaum kaum sosialita atas, karena dipercaya Batik Mbok Yem bisa menaikkan pamor dan aura pemakainya.
Mbok Yem melukis batiknya setiap malam, mulai jam 12 malam sampai subuh menjelang. Lilin batiknya bercampur dengan dupa,menyan dan juga uban rambutnya. Lampu temaram rumahnya menambah kesan mistik.
Setiap membatik, Mbok Yem menyinden tembang jawa kuno. Seperti mantra mantra, canting batiknya bergerak-gerak sendiri.
Satu kain batik diselesaikan, satu tangis kesedihan tercipta. Kematian tak wajar menimpa gadis jelita.
Orang orang sudah geram dengan perilaku Mbok Yem. Akhirnya, warga mendatangi rumah Mbok Yem. Tanpa babibu lagi orang beramai-ramai membakar rumah beserta Mbok Yem di dalamnya.
Warga puas. Pasca kejadian itu, diantara puing puing rumah yang telah menjadi abu. Masih sering terdengar suara Mbok Yem menyinden jawa. Suaranya yang sedikit meraung, seperti meminta tolong.
Miris.
Menghilang dalam kekejaman dunia, itupun karena ulah ia sendiri.
-Doddy Rakhmat-
Setiap batik yang dihasilkannya selalu meminta tumbal, bisa jadi anak anak atau gadis paruh baya. Batik lukis Mbok Yem terkenal di seluruh penjuru Kota. Yang memakainya adalah kaum kaum sosialita atas, karena dipercaya Batik Mbok Yem bisa menaikkan pamor dan aura pemakainya.
Mbok Yem melukis batiknya setiap malam, mulai jam 12 malam sampai subuh menjelang. Lilin batiknya bercampur dengan dupa,menyan dan juga uban rambutnya. Lampu temaram rumahnya menambah kesan mistik.
Setiap membatik, Mbok Yem menyinden tembang jawa kuno. Seperti mantra mantra, canting batiknya bergerak-gerak sendiri.
Satu kain batik diselesaikan, satu tangis kesedihan tercipta. Kematian tak wajar menimpa gadis jelita.
Orang orang sudah geram dengan perilaku Mbok Yem. Akhirnya, warga mendatangi rumah Mbok Yem. Tanpa babibu lagi orang beramai-ramai membakar rumah beserta Mbok Yem di dalamnya.
Warga puas. Pasca kejadian itu, diantara puing puing rumah yang telah menjadi abu. Masih sering terdengar suara Mbok Yem menyinden jawa. Suaranya yang sedikit meraung, seperti meminta tolong.
Miris.
Menghilang dalam kekejaman dunia, itupun karena ulah ia sendiri.
-Doddy Rakhmat-
Langganan:
Postingan (Atom)